Tabooo.id: Life – Di ruangan yang ramai, suara biasanya jadi pusat segalanya. Orang berbicara, tertawa, lalu saling menimpali. Namun, bagi Nathania Tifara, dunia tidak berjalan seperti itu.
Ia tidak selalu menangkap suara. Sebaliknya, ia justru belajar menangkap makna.
Dari situlah hidupnya bergerak bukan menuju kemudahan, melainkan menuju pemahaman yang lebih dalam.
Identitas: Saat Sunyi Mengajarkan Cara Baru untuk Hidup
Semua berubah ketika Nathania kehilangan pendengaran di usia 2 tahun akibat meningitis. Sejak saat itu, dunia yang penuh suara mendadak terasa jauh.
Dua tahun kemudian, ia menjalani operasi cochlear implant. Teknologi ini memang membantunya mengakses suara kembali. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya “sembuh” sepenuhnya.
“Tanpanya, saya tetap tuli total,” ungkap Nathania kepada Kompas.com, Rabu (05/02/2026).
Meski begitu, suara yang ia dengar tetap terbatas. Ia hanya menggunakan satu alat dengan kemampuan sekitar 40–50 persen dibanding pendengaran orang dengar. Akibatnya, suara terdengar seperti mono, mudah hilang di keramaian, dan perlu latihan terus-menerus.
Karena itu, Nathania tidak hanya mengandalkan telinga. Ia mulai membaca ekspresi wajah, memahami gerak tubuh, lalu menafsirkan konteks percakapan.
Dengan cara itu, ia tidak sekadar mendengar ia benar-benar memahami.
Relasi: Ketika Keterbukaan Mengubah Cara Orang Bersikap
Seiring waktu, Nathania sadar bahwa tantangan terbesar bukan hanya soal dirinya. Lingkungan juga memegang peran penting.
Karena itu, sejak awal ia memilih untuk terbuka. Ia menjelaskan kondisinya kepada guru, dosen, dan teman.
“Saya menyampaikan hal ini bukan untuk meminta perlakuan khusus atau diistimewakan, melainkan agar guru, dosen, dan teman sekelas mengetahui bahwa ada mahasiswa dengan kebutuhan pendengaran yang berbeda,” jelasnya.
Keputusan tersebut membuat perbedaan besar. Orang-orang di sekitarnya mulai memahami cara berinteraksi yang lebih tepat.
Selain itu, Nathania juga aktif membangun strategi belajar. Ia duduk di bangku depan, memanfaatkan catatan teman, lalu terlibat dalam diskusi kelompok kecil.
Dengan langkah-langkah itu, ia memastikan proses belajar tetap berjalan.

Adaptasi: Ketika Teknologi Tidak Selalu Jadi Jawaban
Namun, tantangan baru muncul saat pandemi melanda. Sistem pembelajaran berubah menjadi daring, dan kondisi ini justru menyulitkannya.
Tanpa ekspresi wajah dan bahasa tubuh, komunikasi terasa lebih terbatas. Ia hanya mengandalkan suara yang tidak sepenuhnya bisa ia tangkap.
Untuk mengatasi hal itu, Nathania menggunakan bantuan juru tulis. Terkadang teman, terkadang suami, membantu merangkum materi selama kelas berlangsung.
Dari pengalaman ini, ia menarik satu kesimpulan penting. “Ketika kebutuhan dikomunikasikan dengan jelas dan lingkungan memberi ruang, proses belajar dapat berjalan lebih setara.”
Artinya, keberhasilan tidak hanya bergantung pada individu. Lingkungan juga harus ikut bergerak.
Dari Pengalaman ke Aksi: Lahirnya Guru Bumi
Kemudian, pengalaman hidup tersebut ia ubah menjadi sesuatu yang lebih besar. Nathania tidak berhenti pada adaptasi pribadi ia menciptakan ruang baru.
Melalui Guru Bumi, ia membangun penerbit buku anak yang inklusif. Ide ini muncul dari masa kecilnya, saat ibunya sering membacakan buku dengan visual kuat.
Pengalaman itu membentuk kesadarannya tentang pentingnya media belajar yang ramah.
“Langkah tersebut saya wujudkan melalui penerbitan buku anak, sebagai ruang belajar, membaca, dan bertumbuh bersama,” kenangnya.
Berbekal latar belakang Desain Komunikasi Visual, ia merancang buku yang tidak hanya informatif, tetapi juga mudah diakses.
Inklusivitas: Bukan Soal Dibedakan, Tapi Dihadirkan Bersama
Di Guru Bumi, inklusivitas tidak berarti membuat produk khusus. Justru sebaliknya, semua produk dirancang agar bisa dinikmati siapa saja.
“Guru Bumi dirancang terbuka untuk diakses dan dimaknai sesuai kebutuhan masing-masing anak,” papar Nathania.
Selain buku, ia juga mengembangkan board game edukatif. Misalnya, kartu kuartet budaya yang bisa dimainkan sambil belajar bahasa isyarat.
Menariknya, anak-anak non-difabel ikut menikmati permainan ini. Dengan demikian, batas antara “berbeda” dan “biasa” mulai memudar.

Ruang Nyata: Toko Gumi dan Praktik Inklusi Sehari-hari
Selanjutnya, Nathania memperluas visinya dengan membuka Toko Gumi pada 2024 di Yogyakarta. Ia tidak sekadar menjadikannya toko buku.
Ia merancang ruang tersebut sebagai tempat literasi, perpustakaan mini, sekaligus area interaksi anak dan keluarga.
Di sisi lain, ia juga menerapkan prinsip inklusi dalam tim kerjanya. Komunikasi berjalan terbuka dan saling memahami.
Misalnya, ketika baterai cochlear implant habis, tim akan menunggu. Sementara itu, saat Nathania mematikan alat untuk fokus, tim cukup menyentuh bahunya.
“Atau ketika saya sedang sangat fokus dan mematikan cochlear implant, tim akan menyadari dan menyesuaikan,” jelasnya.
Hal-hal kecil seperti ini justru menjadi fondasi inklusi yang nyata.
Negara dan Harapan: Akses yang Masih Perlu Diperjuangkan
Meski demikian, tantangan terbesar masih datang dari sistem yang lebih luas. Nathania melihat negara belum sepenuhnya hadir untuk difabel.
“Negara perlu membuka ruang dialog yang berkelanjutan dengan difabel agar kebijakan yang dibuat benar-benar lahir dari kebutuhan nyata di lapangan,” tegasnya.
Selain itu, akses kerja masih menjadi persoalan utama. Banyak difabel tidak memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.
“Bagaimanapun, kami adalah bagian dari warga negara Indonesia yang memiliki hak yang sama,” ujarnya.
Penutup: Siapa yang Perlu Belajar Mendengar?
Pada akhirnya, cerita Nathania bukan tentang keterbatasan. Cerita ini berbicara tentang cara kita memandang perbedaan.
Ia tidak meminta dunia berubah drastis. Ia hanya meminta ruang yang adil.
“Ketika lingkungan mau memberi ruang dan akses, kesetaraan bukan lagi wacana,” pungkasnya.
Jadi, pertanyaannya sederhana Kalau kesempatan sudah dibuka, apakah kita benar-benar siap mendengarkan atau masih memilih untuk tidak peduli?. @teguh







