Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Nathania Tuli, Dunia yang Bising: Siapa Sebenarnya yang Perlu Belajar Mendengar?

by teguh
April 9, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Life – Di ruangan yang ramai, suara biasanya jadi pusat segalanya. Orang berbicara, tertawa, lalu saling menimpali. Namun, bagi Nathania Tifara, dunia tidak berjalan seperti itu.

Ia tidak selalu menangkap suara. Sebaliknya, ia justru belajar menangkap makna.

Dari situlah hidupnya bergerak bukan menuju kemudahan, melainkan menuju pemahaman yang lebih dalam.

Identitas: Saat Sunyi Mengajarkan Cara Baru untuk Hidup

Semua berubah ketika Nathania kehilangan pendengaran di usia 2 tahun akibat meningitis. Sejak saat itu, dunia yang penuh suara mendadak terasa jauh.

Dua tahun kemudian, ia menjalani operasi cochlear implant. Teknologi ini memang membantunya mengakses suara kembali. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya “sembuh” sepenuhnya.

Ini Belum Selesai

Tapa Bisu, Jejak Mindfulness dalam Tradisi Jawa

Vape Rasa Buah Terasa Manis, Tapi Kenapa Ribuan Gen Tubuh Ikut Berubah?

“Tanpanya, saya tetap tuli total,” ungkap Nathania kepada Kompas.com, Rabu (05/02/2026).

Meski begitu, suara yang ia dengar tetap terbatas. Ia hanya menggunakan satu alat dengan kemampuan sekitar 40–50 persen dibanding pendengaran orang dengar. Akibatnya, suara terdengar seperti mono, mudah hilang di keramaian, dan perlu latihan terus-menerus.

Karena itu, Nathania tidak hanya mengandalkan telinga. Ia mulai membaca ekspresi wajah, memahami gerak tubuh, lalu menafsirkan konteks percakapan.

Dengan cara itu, ia tidak sekadar mendengar ia benar-benar memahami.

Relasi: Ketika Keterbukaan Mengubah Cara Orang Bersikap

Seiring waktu, Nathania sadar bahwa tantangan terbesar bukan hanya soal dirinya. Lingkungan juga memegang peran penting.

Karena itu, sejak awal ia memilih untuk terbuka. Ia menjelaskan kondisinya kepada guru, dosen, dan teman.

“Saya menyampaikan hal ini bukan untuk meminta perlakuan khusus atau diistimewakan, melainkan agar guru, dosen, dan teman sekelas mengetahui bahwa ada mahasiswa dengan kebutuhan pendengaran yang berbeda,” jelasnya.

Keputusan tersebut membuat perbedaan besar. Orang-orang di sekitarnya mulai memahami cara berinteraksi yang lebih tepat.

Selain itu, Nathania juga aktif membangun strategi belajar. Ia duduk di bangku depan, memanfaatkan catatan teman, lalu terlibat dalam diskusi kelompok kecil.

Dengan langkah-langkah itu, ia memastikan proses belajar tetap berjalan.

Nathania Tuli, Dunia yang Bising: Siapa Sebenarnya yang Perlu Belajar Mendengar?
Nathania Tifara Pendiri Guru Bumi, ia membangun penerbit buku anak yang inklusif.

Adaptasi: Ketika Teknologi Tidak Selalu Jadi Jawaban

Namun, tantangan baru muncul saat pandemi melanda. Sistem pembelajaran berubah menjadi daring, dan kondisi ini justru menyulitkannya.

Tanpa ekspresi wajah dan bahasa tubuh, komunikasi terasa lebih terbatas. Ia hanya mengandalkan suara yang tidak sepenuhnya bisa ia tangkap.

Untuk mengatasi hal itu, Nathania menggunakan bantuan juru tulis. Terkadang teman, terkadang suami, membantu merangkum materi selama kelas berlangsung.

Dari pengalaman ini, ia menarik satu kesimpulan penting. “Ketika kebutuhan dikomunikasikan dengan jelas dan lingkungan memberi ruang, proses belajar dapat berjalan lebih setara.”

Artinya, keberhasilan tidak hanya bergantung pada individu. Lingkungan juga harus ikut bergerak.

Dari Pengalaman ke Aksi: Lahirnya Guru Bumi

Kemudian, pengalaman hidup tersebut ia ubah menjadi sesuatu yang lebih besar. Nathania tidak berhenti pada adaptasi pribadi ia menciptakan ruang baru.

Melalui Guru Bumi, ia membangun penerbit buku anak yang inklusif. Ide ini muncul dari masa kecilnya, saat ibunya sering membacakan buku dengan visual kuat.

Pengalaman itu membentuk kesadarannya tentang pentingnya media belajar yang ramah.

“Langkah tersebut saya wujudkan melalui penerbitan buku anak, sebagai ruang belajar, membaca, dan bertumbuh bersama,” kenangnya.

Berbekal latar belakang Desain Komunikasi Visual, ia merancang buku yang tidak hanya informatif, tetapi juga mudah diakses.

Inklusivitas: Bukan Soal Dibedakan, Tapi Dihadirkan Bersama

Di Guru Bumi, inklusivitas tidak berarti membuat produk khusus. Justru sebaliknya, semua produk dirancang agar bisa dinikmati siapa saja.

“Guru Bumi dirancang terbuka untuk diakses dan dimaknai sesuai kebutuhan masing-masing anak,” papar Nathania.

Selain buku, ia juga mengembangkan board game edukatif. Misalnya, kartu kuartet budaya yang bisa dimainkan sambil belajar bahasa isyarat.

Menariknya, anak-anak non-difabel ikut menikmati permainan ini. Dengan demikian, batas antara “berbeda” dan “biasa” mulai memudar.

Nathania Tuli, Dunia yang Bising: Siapa Sebenarnya yang Perlu Belajar Mendengar?
Nathania Bersama Suami memperluas visinya dengan membuka Toko Gumi pada 2024 di Yogyakarta.

Ruang Nyata: Toko Gumi dan Praktik Inklusi Sehari-hari

Selanjutnya, Nathania memperluas visinya dengan membuka Toko Gumi pada 2024 di Yogyakarta. Ia tidak sekadar menjadikannya toko buku.

Ia merancang ruang tersebut sebagai tempat literasi, perpustakaan mini, sekaligus area interaksi anak dan keluarga.

Di sisi lain, ia juga menerapkan prinsip inklusi dalam tim kerjanya. Komunikasi berjalan terbuka dan saling memahami.

Misalnya, ketika baterai cochlear implant habis, tim akan menunggu. Sementara itu, saat Nathania mematikan alat untuk fokus, tim cukup menyentuh bahunya.

“Atau ketika saya sedang sangat fokus dan mematikan cochlear implant, tim akan menyadari dan menyesuaikan,” jelasnya.

Hal-hal kecil seperti ini justru menjadi fondasi inklusi yang nyata.

Negara dan Harapan: Akses yang Masih Perlu Diperjuangkan

Meski demikian, tantangan terbesar masih datang dari sistem yang lebih luas. Nathania melihat negara belum sepenuhnya hadir untuk difabel.

“Negara perlu membuka ruang dialog yang berkelanjutan dengan difabel agar kebijakan yang dibuat benar-benar lahir dari kebutuhan nyata di lapangan,” tegasnya.

Selain itu, akses kerja masih menjadi persoalan utama. Banyak difabel tidak memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.

“Bagaimanapun, kami adalah bagian dari warga negara Indonesia yang memiliki hak yang sama,” ujarnya.

Penutup: Siapa yang Perlu Belajar Mendengar?

Pada akhirnya, cerita Nathania bukan tentang keterbatasan. Cerita ini berbicara tentang cara kita memandang perbedaan.

Ia tidak meminta dunia berubah drastis. Ia hanya meminta ruang yang adil.

“Ketika lingkungan mau memberi ruang dan akses, kesetaraan bukan lagi wacana,” pungkasnya.

Jadi, pertanyaannya sederhana Kalau kesempatan sudah dibuka, apakah kita benar-benar siap mendengarkan atau masih memilih untuk tidak peduli?. @teguh

Tags: DifabelHarapanInklusifKomunikasiLiterasiMahasiswaNegara

Kamu Melewatkan Ini

Film, Ketakutan, dan Negara: Kenapa Kritik soal Papua Selalu Jadi Ruang Sensitif?

Film, Ketakutan, dan Negara: Kenapa Kritik soal Papua Selalu Jadi Ruang Sensitif?

by teguh
Mei 15, 2026

Malam itu kampus di Mataram belum benar-benar ramai. Mahasiswa baru menyiapkan layar ketika suasana berubah mendadak. Petugas keamanan mengawasi proyektor,...

Pemerintah Tak Melarang Pesta Babi, Tapi Mengapa Nobar Mahasiswa Tetap Dihentikan?

Pemerintah Tak Melarang Pesta Babi, Tapi Mengapa Nobar Mahasiswa Tetap Dihentikan?

by teguh
Mei 14, 2026

Pemerintah menyebut tidak ada pelarangan. Namun mahasiswa justru kehilangan ruang menonton. Film dokumenter Pesta Babi Kolonialisme di Zaman Kita memicu...

Kampus dan Budaya Bungkam: Kenapa Korban Kekerasan Seksual Takut Bicara?

Kampus dan Budaya Bungkam: Kenapa Korban Kekerasan Seksual Takut Bicara?

by dimas
Mei 11, 2026

Budaya victim blaming dan relasi kuasa membuat banyak korban kekerasan seksual di kampus memilih diam. Di balik ruang akademik yang...

Next Post
Damai Versi Timur Tengah: Teken Dulu, Serang Lagi Besok

Damai Versi Timur Tengah: Teken Dulu, Serang Lagi Besok

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id