Malam yang Menahan Nafas
Tabooo.id: Edge – Lampu-lampu di halaman Kejaksaan Agung masih menyala ketika seorang staf menutup pintu ruang konferensi. Udara terasa padat, seolah menyimpan cerita yang belum selesai. Wartawan menunggu di luar dengan kamera yang lelah oleh jadwal yang tak pernah ramah. Di tengah hiruk-pikuk itu, satu nama muncul seperti bayangan panjang Victor Rachmat Hartono, Direktur Utama PT Djarum, sosok yang biasanya berjalan jauh dari sorotan publik.
Ia masuk daftar pencekalan, lalu beberapa hari setelahnya status itu hilang begitu saja. Publik pun menahan tanya apa yang sebenarnya terjadi di ruang yang tidak terlihat?
Sistem Pajak yang Belum Stabil
Indonesia punya sistem perpajakan yang penuh ruang abu-abu. Aturan berubah, interpretasi berlapis, dan kebijakan sering berjalan lebih lambat dari realitas di lapangan. Di tengah ketidakpastian itu, kasus pajak periode 2016–2020 mencuat sebagai cermin yang memantulkan banyak retakan lama.
Kejagung mengajukan pencekalan untuk lima orang sejak 14 November 2025. Daftar itu menghubungkan pejabat, pemeriksa pajak, konsultan, hingga perusahaan besar. Keputusan tersebut juga bergerak seiring langkah penyidik yang melakukan penggeledahan dan menelusuri catatan transaksi dari tahun ke tahun.
Melalui pola itu, publik melihat sesuatu persoalan ini bukan hanya tentang individu, tetapi menyangkut struktur yang tak berhenti mengulang kesalahan.
Jejak Sunyi dalam Proses Hukum
Victor dikenal sebagai sosok yang jarang tampil. Ia lebih sering bergerak di balik struktur perusahaan besar. Karena itu, kabar pencekalan menimbulkan keheningan yang aneh; seperti suara yang tidak sesuai dengan keseharian bisnisnya.
Di sisi lain, penyidik bergerak cepat. Mereka membuka laci, menurunkan berkas, dan menyisir setiap ruangan pada delapan titik di Jabodetabek. Gelombang operasi itu menghasilkan dokumen tebal, sebuah Toyota Alphard, serta dua motor gede. Setiap barang yang keluar dari lokasi terasa seperti potongan puzzle yang belum menunjukkan gambar utuh.
Kecurigaan Kejagung mengarah pada dugaan kesepakatan antara oknum pajak dan wajib pajak untuk mengurangi nilai pembayaran. Ada kompensasi. Ada akal-akalan. Ada angka yang berubah arah.
PT Djarum memilih langkah yang tenang. Mereka menyampaikan sikap patuh pada proses hukum tanpa drama tambahan. Sementara itu, Victor menjalani panggilan pemeriksaan. Sikap kooperatifnya kemudian menggeser jalur kasus, hingga pencekalan dicabut oleh Kejagung.
Publik tentu bertanya, tetapi jawaban tak selalu muncul dari ruang-ruang rapat yang sunyi.
Apa yang Masih Tersembunyi?
Kasus ini membuka kembali pola lama Indonesia.
Pertama, ukuran “kooperatif” sering tidak jelas. Penyidik dapat menilai seseorang kooperatif, tetapi publik tidak melihat standar yang mengikat semua pihak. Ketimpangan persepsi pun tumbuh dalam diam.
Kedua, hubungan antara DJP dan wajib pajak masih rentan distorsi. Banyak kasus sebelumnya menunjukkan alur serupa konsultan bergerak di celah, pegawai mencari ruang tambahan, perusahaan mencoba menekan angka. Setiap aktor memainkan peran, tetapi sistem tak pernah benar-benar sembuh.
Ketiga, pengawasan internal negara masih kalah cepat dibanding kreativitas manipulasi. Regulasi hadir sebagai pagar hukum, tetapi celahnya terbuka cukup lebar untuk praktik “pengaturan” yang berjalan di ruang tertutup.
Keempat, skala penggeledahan menunjukkan kedalaman masalah. Delapan titik tidak menggambarkan operasi kecil. Penyidik mengumpulkan aset dan dokumen, menandakan bahwa penelusuran aliran manfaat berjalan pada jalur yang luas.
Jika melihat semua pola itu, kita bisa merasakan sesuatu: sistem membiarkan banyak ruang yang tidak disiplin, tetapi publik justru harus memikul akibat dari celah-celah itu.
Pertanyaan yang Masih Menggantung
Malam di Kejagung akhirnya kembali sepi. Wartawan pulang satu per satu, lampu padam, dan negara masuk ke rutinitasnya. Namun cerita ini tidak benar-benar selesai.
Pencekalan terhadap Victor sudah berakhir. Ia kembali bergerak bebas. Meski begitu, penyidikan tetap berjalan dan publik menunggu bentuk lengkap dari kasus ini.
Sampai di titik ini, satu pertanyaan memantul seperti gema Jika negara meminta kita taat membayar pajak tanpa celah, mengapa sistem masih memberi celah bagi permainan yang tak terlihat?. @teguh




