Gempa 7,7 mengguncang Nagekeo dan memicu 1.598 gempa susulan. Warga masih bertahan di tenda secara mandiri karena bantuan belum tiba.
Tabooo.id – Halaman rumah berubah menjadi tempat tidur bagi warga Desa Ulupulu 1, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.
Ratusan warga memilih bertahan di luar rumah setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu (15/8/2026) siang.
Mereka tidak benar-benar pergi dari rumah. Namun, mereka juga belum berani kembali tidur di dalamnya.
Getaran susulan masih muncul hampir setiap hari.
Yanuarius Bala Pili, warga setempat, mengatakan aktivitas masyarakat belum kembali normal.
“Hampir setiap hari kami rasakan getaran gempa, kami mengungsi secara mandiri,” ujar Yanuarius saat dihubungi, Selasa (18/8/2026).
Tidur di halaman, menunggu tanah kembali tenang
Bagi warga Ulupulu 1, malam kini memiliki arti berbeda.
Dulu, rumah menjadi tempat paling aman untuk beristirahat. Sekarang, halaman rumah justru terasa lebih meyakinkan.
Satu getaran kecil cukup untuk membangkitkan kewaspadaan.
Kondisi itu membuat aktivitas warga ikut berubah. Mereka harus membagi perhatian antara kebutuhan sehari-hari dan kemungkinan gempa berikutnya.
Rasa takut juga tidak mengenal jam.
Siang hari, warga masih dapat melihat aktivitas sekitar. Malam hari membawa persoalan lain.
Kegelapan membuat setiap suara dan getaran terasa lebih mengkhawatirkan.
Karena itu, sebagian warga memilih tetap berada di halaman rumah.
Pangan lokal menjadi penyangga terakhir
Empat hari setelah gempa, persoalan lain mulai muncul.
Persediaan makanan warga menipis.
Yanuarius mengatakan mereka belum menerima bantuan pemerintah hingga Selasa (18/8/2026).
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga mengandalkan bahan pangan yang tersedia di sekitar mereka.
“Kami bertahan dengan pangan lokal, jagung, ubi, dan pisang. Bantuan belum ada sampai sekarang,” katanya.
Jagung, ubi, dan pisang menjadi lebih dari sekadar makanan.
Ketiganya menjadi penyangga kehidupan ketika bantuan belum tiba.
Namun, kemampuan warga untuk bertahan secara mandiri memiliki batas.
Persediaan pangan lokal tidak selalu cukup untuk menghadapi masa pemulihan yang panjang.
Di titik itu, persoalan gempa berubah menjadi persoalan ketahanan hidup.
Tidak semua pengungsi berada di posko
Wenslaus Tue, 61 tahun, melihat persoalan lain dalam distribusi bantuan.
Menurut dia, pemerintah perlu menjangkau warga yang mengungsi secara mandiri.
“Kami juga korban gempa, karena itu penyaluran bantuan harus merata. Apalagi pusat gempa itu ada di Nagekeo,” kata Wenslaus.
Pernyataan tersebut membuka persoalan yang sering luput dalam situasi bencana.
Tidak semua korban berkumpul di satu titik.
Sebagian warga memilih bertahan di sekitar rumah karena berbagai alasan. Mereka mungkin masih memiliki rumah, ternak, kebun, atau barang yang harus dijaga.
Namun, keputusan untuk tetap dekat dengan rumah tidak menghapus status mereka sebagai korban.
Kebutuhan mereka tetap sama: makanan, air, tempat aman, informasi, dan perhatian.
Jika distribusi bantuan hanya mengikuti lokasi posko, warga yang mengungsi secara mandiri berisiko luput dari jangkauan.
Ribuan getaran belum memberi ruang untuk tenang
Gempa utama mengguncang sejumlah wilayah NTT pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026.
BMKG mencatat pusat gempa berada di Kabupaten Nagekeo.
Titik gempa berada sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo dengan kedalaman 15 kilometer.
Setelah gempa utama, getaran susulan terus terjadi.
Hingga Senin (17/8/2026) pukul 08.00 Wita, BMKG mencatat 1.598 gempa susulan.
BMKG memperkirakan aktivitas tersebut membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga minggu untuk mulai menunjukkan kondisi yang lebih stabil.
Angka itu menjelaskan mengapa warga belum berani menganggap situasi sudah aman.
Bagi masyarakat yang tidur di tenda, satu getaran kecil bukan sekadar angka dalam catatan seismik.
Getaran itu bisa berarti satu malam lagi tanpa tidur nyenyak.
Ketika bencana belum selesai bagi warga
Pemberitaan tentang gempa biasanya bergerak cepat.
Hari pertama menghadirkan angka magnitudo, lokasi pusat gempa, kerusakan, korban, dan peringatan tsunami jika ada.
Setelah itu, perhatian publik perlahan bergeser.
Namun, kehidupan korban justru memasuki fase yang lebih panjang.
Warga harus mencari makanan. Mereka perlu air bersih. Anak-anak tetap membutuhkan rasa aman.
Orang tua juga harus memikirkan bagaimana menjalani hari berikutnya tanpa kepastian kapan gempa susulan berhenti.
Di Ulupulu 1, persoalan tersebut berlangsung di halaman rumah.
Tenda darurat menjadi ruang tidur. Pangan lokal menjadi persediaan. Getaran menjadi alarm alami.
Rumah yang biasanya memberikan rasa aman kini hanya bisa mereka pandangi dari luar.
Ini bukan sekadar cerita tentang gempa
Kisah warga Ulupulu 1 memperlihatkan bahwa dampak bencana tidak berhenti ketika tanah berhenti bergerak.
Bencana juga menguji kemampuan masyarakat untuk bertahan dalam masa tunggu.
Pada fase itu, bantuan menjadi penting. Namun, cara pemerintah menemukan korban juga tidak kalah penting.
Warga yang berada di posko resmi relatif mudah terlihat.
Sebaliknya, mereka yang mendirikan tenda sendiri di halaman rumah dapat luput dari pendataan.
Padahal, mereka tetap menghadapi rasa takut, kekurangan pangan, dan ketidakpastian yang sama.
Ini bukan sekadar soal gempa. Ini tentang siapa yang terlihat ketika bantuan datang dan siapa yang berisiko tertinggal.
Di Nagekeo, warga belum hanya menunggu tanah kembali tenang.
Mereka juga menunggu negara datang memastikan bahwa bertahan sendiri tidak berarti harus berjuang sendirian. @dimas








