Gempa Flores kembali membuka luka lama. Dari tragedi 1992 hingga 2026, solidaritas dan respons negara diuji untuk memastikan warga benar-benar pulih.
Tabooo.id – Tanah Flores kembali berguncang ketika sebagian besar warga masih terlelap. Gempa besar itu bukan hanya membangunkan orang dari tidur. Getarannya juga membangunkan ingatan lama tentang kehilangan.
Gempa tektonik bermagnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB. BMKG mencatat pusat gempa berada di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer.
Guncangan terasa luas di Flores. Sikka, Ngada, Ende, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, hingga Flores Timur ikut merasakan dampaknya. Getaran bahkan menjalar sampai Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.
BMKG kemudian mengeluarkan peringatan dini tsunami. Peringatan tersebut berakhir sekitar pukul 07.30 WIB.
Namun, rasa takut tidak ikut berhenti.
Warga di Maumere dan Labuan Bajo sudah lebih dulu menghadapi kepanikan. Bagi mereka, gempa bukan sekadar angka dalam laporan seismologi. Gempa membawa ingatan tentang tsunami, rumah yang runtuh, dan keluarga yang pernah hilang.
Hingga malam hari, BNPB mencatat 47 orang meninggal dunia. Manggarai menjadi wilayah dengan korban terbanyak, yakni 24 orang. Sementara itu, Manggarai Timur mencatat 17 korban.
Kerusakan juga menyebar ke berbagai fasilitas publik. Sebanyak 157 rumah dan 87 fasilitas sekolah mengalami kerusakan. Lima bandara ikut terdampak, meski landasan pacu masih berfungsi.
Dua pelabuhan juga mengalami kerusakan. Salah satunya Pelabuhan Laurentius Say di Maumere.
Selain itu, RSUD Ruteng dan sejumlah puskesmas ikut terdampak. Material longsor juga menutup ruas jalan Borong-Ruteng.
Data tersebut masih sementara. Tim di lapangan masih melakukan evakuasi dan pendataan.
Namun, angka-angka itu sudah memperlihatkan satu kenyataan. Bencana tidak hanya merusak bangunan. Bencana juga mengacak-acak rasa aman manusia.
Di balik angka itu, ada kehilangan yang tidak bisa dihitung begitu saja. Keluarga berduka, anak-anak kehilangan ruang belajar, sementara pasien tetap membutuhkan layanan kesehatan di tengah fasilitas yang ikut terdampak.
Dan ada ketakutan yang mungkin bertahan jauh setelah tanah berhenti bergerak.
Negara Datang Cepat. Jangan Pergi Terlalu Cepat
Pemerintah bergerak cepat setelah gempa mengguncang Flores.
Presiden Prabowo Subianto memerintahkan seluruh jajaran menangani bencana. Sejumlah pejabat pusat kemudian langsung menuju Flores pada hari kejadian.
Mereka antara lain Menko PMK Pratikno, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri PU Dody Hanggodo, Kepala BNPB Suharyanto, Kepala Basarnas, Wakil Menteri Kesehatan, dan Wakil Menteri Sosial.
PLN, Telkom, Pertamina, dan Bulog juga ikut bergerak. Pemerintah bahkan mengirim 50.000 paket sembako Bantuan Presiden menuju Maumere.
Respons cepat seperti itu penting. Bahkan, respons tersebut menunjukkan bahwa negara mampu bergerak ketika situasi mendesak.
Namun, persoalan bencana tidak selesai pada hari pertama.
Justru setelah rombongan pejabat kembali, pekerjaan yang lebih panjang dimulai.
Kamera media akan pergi. Berita akan berganti. Publik akan menemukan isu baru.
Sementara itu, warga Flores tetap tinggal di tengah reruntuhan dan kerusakan.
Mereka masih harus memperbaiki rumah. Anak-anak masih membutuhkan sekolah. Pasien masih membutuhkan layanan kesehatan. Warga juga membutuhkan jalan yang kembali terbuka.
Karena itu, ukuran keberhasilan penanganan bencana tidak cukup dengan menghitung seberapa cepat bantuan tiba.
Pertanyaan yang lebih penting adalah berapa lama negara bertahan sampai warga benar-benar pulih?
Flores Pernah Mengalami Luka yang Sama
Pertanyaan itu terasa semakin penting karena Flores memiliki sejarah panjang dengan bencana.
Pada 12 Desember 1992, gempa bermagnitudo 7,5 mengguncang wilayah Flores. Gempa tersebut kemudian memicu tsunami dengan ketinggian hingga 26 meter.
Sedikitnya 2.500 orang meninggal dunia.
Maumere menjadi salah satu wilayah yang mengalami kehancuran paling parah. Sekitar 90 persen bangunan kota dilaporkan hancur total.
Tragedi tersebut meninggalkan pelajaran besar. Pada masa itu, masyarakat Flores masih memiliki pengetahuan terbatas mengenai mitigasi gempa dan tsunami.
Sosialisasi pemerintah dan lembaga terkait juga belum memadai.
Kini, 34 tahun telah berlalu.
Teknologi berkembang. Sistem peringatan dini semakin maju. Pengetahuan kebencanaan juga semakin luas.
Meski begitu, gempa kembali datang dengan pertanyaan yang terasa familiar:
Apa yang benar-benar berubah?
Peringatan Dini Ada, Tetapi Ketahanan Harus Nyata
Indonesia memang sudah bergerak sejak tragedi besar sebelumnya.
Setelah tsunami Aceh 2004, pemerintah mengembangkan Indonesia Tsunami Early Warning System atau InaTEWS. Sistem tersebut membantu mendeteksi potensi tsunami dan menyampaikan peringatan kepada masyarakat.
Kemajuan itu penting.
Namun, peringatan dini hanya menyelesaikan satu bagian dari persoalan.
Masyarakat tetap harus tahu ke mana mereka harus berlari. Jalur evakuasi harus jelas. Pemerintah daerah harus memiliki prosedur yang siap dijalankan.
Lebih dari itu, bangunan juga harus mampu menghadapi guncangan.
Teknologi dapat memberi waktu untuk menyelamatkan diri. Sebaliknya, bangunan tahan gempa dapat mengurangi risiko ketika bumi benar-benar bergerak.
Sekolah membutuhkan struktur yang aman. Rumah sakit harus tetap berfungsi setelah bencana. Jalan dan jembatan juga harus mampu menopang proses evakuasi.
Artinya, mitigasi tidak boleh berhenti pada sirene, aplikasi, atau notifikasi ponsel.
Mitigasi harus masuk sampai ke rumah warga.
Masalahnya, pembangunan infrastruktur tahan gempa membutuhkan biaya besar. Daerah dengan kapasitas fiskal terbatas tentu menghadapi tantangan lebih berat.
Karena itu, negara tidak cukup meminta daerah untuk bersiap. Pemerintah juga harus memastikan daerah memiliki sumber daya untuk benar-benar bersiap.
Flores Bukan Sekadar Wilayah Rawan Bencana
Ada alasan lain mengapa tragedi ini terasa begitu dalam.
Gempa datang hanya dua hari sebelum Indonesia merayakan HUT ke-81 kemerdekaan. Momentum tersebut membawa tema tentang Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.
Flores sendiri memiliki tempat penting dalam sejarah gagasan kebangsaan.
Di Ende, Soekarno menjalani masa pengasingan pada 1934 hingga 1938. Di tanah tersebut, ia merenungkan gagasan yang kemudian menjadi Pancasila.
Masyarakat Flores yang beragam menjadi bagian dari ruang sosial yang menginspirasi perenungan tersebut.
Warisan keberagaman itu masih terasa hingga hari ini.
Katolik, Muslim, Protestan, Hindu, Buddha, dan penganut kepercayaan leluhur hidup berdampingan. Gotong royong juga tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.
Ketika gempa datang, perbedaan itu tidak menjadi tembok.
Warga membantu warga. Tetangga mencari tetangga. Orang bergerak menolong tanpa lebih dulu bertanya tentang agama atau kelompok.
Di titik itu, persatuan terasa lebih nyata daripada sekadar seremoni.
Persatuan bukan hanya berdiri di bawah bendera. Persatuan juga berarti mengulurkan tangan ketika orang lain kehilangan tempat berpijak.
Kemerdekaan Harus Terasa Ketika Rumah Runtuh
Karena itu, perayaan kemerdekaan tahun ini seharusnya tidak berhenti pada upacara.
Bagi keluarga yang kehilangan rumah, kemerdekaan memiliki makna yang jauh lebih sederhana.
Mereka ingin tidur tanpa rasa takut.
Anak-anak ingin kembali belajar di sekolah yang aman. Pasien ingin mendapatkan layanan kesehatan tanpa harus mencari fasilitas lain. Warga ingin tinggal di rumah yang tidak membuat mereka cemas setiap kali tanah bergerak.
Lebih dari itu, mereka ingin pulih tanpa merasa dilupakan ketika pemberitaan selesai.
Bantuan darurat tentu tetap penting. Namun, bantuan tersebut hanya menjadi awal.
Flores membutuhkan tenaga medis. Warga juga membutuhkan logistik dan dukungan psikososial.
Pada saat yang sama, pemerintah harus memastikan proses rekonstruksi berjalan sampai tuntas.
Rumah perlu dibangun dengan standar keselamatan. Sekolah harus kembali berfungsi. Fasilitas kesehatan harus diperkuat.
Jalan dan pelabuhan juga harus segera dipulihkan.
Anak-anak yang mengalami trauma membutuhkan pendampingan berkelanjutan. Sebab, tidak semua luka terlihat dari luar.
Ada bangunan yang retak di depan mata. Ada manusia yang menyimpan retakan di dalam dirinya.
Ini Bukan Sekadar Gempa. Ini Ujian Ingatan
Gempa Flores 2026 bukan hanya cerita tentang tanah yang bergerak.
Peristiwa ini juga menguji kemampuan negara untuk mengingat.
Indonesia sudah memiliki pengalaman Flores 1992. Indonesia juga memiliki pengalaman tsunami Aceh 2004.
Kita sudah memiliki sistem peringatan dini. Kita juga mengetahui bahwa Flores berada di wilayah rawan gempa.
Jadi, masalahnya bukan lagi soal pengetahuan.
Masalahnya adalah bagaimana pengetahuan tersebut berubah menjadi kebijakan, anggaran, bangunan aman, edukasi, dan kesiapsiagaan.
Ini bukan sekadar bencana. Ini ujian terhadap sistem yang kita bangun setelah bencana-bencana sebelumnya.
Ujian itu juga tidak selesai ketika korban terakhir berhasil dievakuasi.
Ia selesai ketika warga kembali memiliki rumah yang aman. Sekolah kembali dipenuhi suara anak-anak. Rumah sakit kembali melayani pasien.
Jalan kembali menghubungkan kampung-kampung. Masyarakat juga kembali merasa aman di tanah mereka sendiri.
Karena itu, pemulihan Flores harus berlangsung lebih lama daripada umur sebuah berita.
Media boleh pindah ke isu berikutnya. Publik boleh kembali menjalani rutinitas.
Namun negara tidak boleh ikut lupa.
Flores pernah kehilangan banyak hal pada 1992.
Jangan biarkan 2026 hanya menjadi pengulangan dengan angka yang berbeda.
Sebab jika setiap gempa hanya melahirkan bantuan darurat, lalu kita kembali lupa setelah berita mereda, mungkin yang paling rapuh bukan tanah Flores.
Ingatan kitalah yang rapuh. @dimas








