Cahaya lampion merah perlahan memantul di halaman Kelenteng Hok Sian Kiong ketika malam turun menyelimuti Kota Mojokerto. Di balik gerbang megah yang dijaga sepasang naga, bangunan berusia lebih dari dua abad itu berdiri tenang, seolah menolak tunduk pada waktu.
Tabooo.id – Di tengah kota yang terus tumbuh dan berubah, kelenteng ini tetap menjaga sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar arsitektur kuno. Kelenteng Hok Sian Kiong Ia menyimpan memori tentang perjalanan manusia, perjumpaan budaya, dan kemampuan sebuah masyarakat untuk hidup berdampingan di tengah perbedaan.
Banyak orang datang untuk beribadah. Sebagian mengabadikan keindahan bangunannya melalui kamera. Namun tidak semua menyadari bahwa di tempat inilah sejarah panjang akulturasi budaya terus berdenyut hingga hari ini.
Dari Persinggahan Pelaut Menjadi Simbol Kehidupan Bersama
Komunitas Tionghoa keturunan Hokkian mendirikan Kelenteng Hok Sian Kiong pada tahun 1823. Saat itu, Mojokerto berkembang sebagai salah satu jalur perdagangan penting di Jawa Timur yang menghubungkan berbagai komunitas dari beragam latar belakang.

Kapal-kapal dagang datang membawa barang, manusia, bahasa, dan budaya. Bersamaan dengan itu, lahir pula kebutuhan akan sebuah ruang yang dapat menjadi tempat berkumpul sekaligus beribadah bagi para perantau yang jauh dari kampung halamannya.
Seorang sejarawan sekaligus akademisi Universitas Negeri Surabaya dalam penelitian yang diterbitkan Jurnal Avatara pada 3 Oktober 2025 menjelaskan bahwa fungsi awal kelenteng jauh melampaui urusan spiritual.
“Pada awalnya, tempat ibadah ini dibangun bukan sekadar sebagai pusat ritual, melainkan sebagai tempat berkumpul dan singgah bagi para pelaut dari negeri Tiongkok yang tengah menunggu waktu yang tepat untuk kembali berlayar. Kelenteng ini didirikan oleh perkumpulan orang Tionghoa keturunan dari Provinsi Hokkian.”
Dari sebuah rumah singgah sederhana, Hok Sian Kiong kemudian tumbuh menjadi pusat kehidupan sosial masyarakat Tionghoa Mojokerto.
Letnan Ong An Tai memprakarsai pembangunan kembali bangunan induk pada tahun 1906. Beberapa dekade kemudian, arsitek Lim memperluas sisi kiri dan kanan bangunan untuk memperkuat fungsi kelenteng sebagai pusat spiritual Tri Dharma.
Sejak saat itu, Hok Sian Kiong tidak hanya menjadi tempat ibadah. Kelenteng ini juga menjadi ruang perjumpaan berbagai generasi yang mewariskan tradisi dari masa ke masa.
Ketika Identitas Pernah Kehilangan Ruang
Perjalanan panjang selama dua abad tentu tidak selalu berlangsung tenang.
Pada era Orde Baru, pemerintah membatasi berbagai ekspresi budaya Tionghoa di ruang publik. Kebijakan tersebut membuat banyak komunitas harus menjalankan tradisi mereka secara tertutup.
Perayaan budaya yang sebelumnya berlangsung terbuka perlahan menghilang dari ruang publik. Tekanan politik saat itu membuat banyak warga keturunan Tionghoa memilih menyimpan identitas budaya mereka di balik tembok rumah dan tempat ibadah.
Hok Sian Kiong ikut merasakan perubahan itu. Aktivitas budaya yang biasanya ramai berangsur sunyi. Berbagai tradisi tetap berjalan, tetapi masyarakat melaksanakannya dengan lebih hati-hati. Situasi tersebut berlangsung selama bertahun-tahun hingga Reformasi membuka lembaran baru pada tahun 2000.
Kebijakan yang lebih terbuka memberi kesempatan bagi masyarakat Tionghoa untuk kembali mengekspresikan budaya mereka secara terbuka. Imlek, Cap Go Meh, Ceng Beng, dan berbagai tradisi leluhur kembali hadir di tengah kehidupan masyarakat.
Perubahan itu bukan hanya menghidupkan kembali tradisi yang sempat tertekan. Momentum tersebut juga mempertemukan kembali berbagai kelompok masyarakat dalam ruang sosial yang lebih terbuka.
Merawat Jembatan di Tengah Perbedaan
Banyak rumah ibadah berdiri sebagai simbol keyakinan. Namun Hok Sian Kiong memilih melangkah lebih jauh.
Pengurus dan komunitasnya terus membuka ruang dialog dengan masyarakat sekitar melalui berbagai kegiatan sosial yang melibatkan warga lintas agama dan lintas budaya. Langkah tersebut terlihat jelas pada Kamis, 5 Maret 2026.
Ratusan warga memenuhi halaman kelenteng untuk mengikuti kegiatan buka puasa bersama. Anak-anak yatim, kaum dhuafa, tokoh agama, dan masyarakat sekitar duduk berdampingan tanpa mempersoalkan perbedaan latar belakang mereka.
Pemandangan itu mungkin terlihat sederhana. Namun di tengah dunia yang semakin mudah terbelah oleh identitas, kebersamaan seperti ini justru menjadi sesuatu yang berharga.
Seorang sosiolog yang mengamati dinamika sosial di Jawa Timur melihat fenomena tersebut sebagai salah satu kunci bertahannya Hok Sian Kiong selama lebih dari dua abad.
“Kelenteng Hok Sian Kiong bertahan bukan dengan cara mengisolasi diri, melainkan dengan membangun jembatan kultural. Ketika sebuah rumah ibadah mampu menembus batas-batas ritualistik dan menjadi pusat kerukunan serta perdamaian, maka masyarakat mayoritas di sekelilingnya pun tidak lagi melihatnya sebagai liyan atau orang asing.”
Pandangan itu menjelaskan mengapa masyarakat Mojokerto menerima keberadaan kelenteng ini sebagai bagian dari kehidupan kota.
Hubungan yang terbangun selama puluhan tahun perlahan menghapus sekat-sekat yang kerap muncul karena perbedaan identitas.
Majapahit yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi
Banyak orang mengenang Majapahit melalui candi, arca, dan peninggalan sejarah yang tersebar di Mojokerto dan sekitarnya. Padahal warisan terbesar kerajaan itu mungkin bukan bangunan batu.
Majapahit meninggalkan pelajaran tentang bagaimana keberagaman dapat hidup dalam satu ruang yang sama. Nilai itulah yang masih terlihat di Hok Sian Kiong hingga hari ini.
Saat menghadiri perayaan 200 tahun Kelenteng Hok Sian Kiong pada 13 Mei 2023, Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari atau Ning Ita menegaskan pentingnya nilai sejarah yang terkandung di dalam bangunan tersebut.
“Hari ini kita semua berada di kelenteng ini ikut menyaksikan kemegahan Kelenteng Hok Sian Kiong selama 200 tahun. Ini adalah saksi sejarah, bukti historis bahwa 200 tahun yang lalu telah terjadi akulturasi budaya di Kota Mojokerto yang kita cintai ini. Leluhur kita di bawah naungan Majapahit telah mampu menyatukan berbagai keanekaragaman, maka kita sebagai penerus harus mampu menjaga harmonisasi dalam kebhinekaan ini.”
Tiga tahun kemudian, dalam kegiatan buka puasa bersama lintas iman pada 5 Maret 2026, Ning Ita kembali menegaskan komitmen yang sama.
“Saya sangat bangga karena ini adalah wujud nyata bahwa di Kota Mojokerto toleransi, kebersamaan, dan harmonisasi antarumat beragama sangat dijunjung tinggi. Kota Mojokerto adalah rumah besar bagi semua golongan. Siapa pun berhak tinggal di sini dan hidup dengan nyaman karena kita semua adalah saudara sebangsa dan setanah air.”
Ucapan tersebut tidak hanya berbicara tentang sebuah kelenteng. Pernyataan itu juga menggambarkan wajah Mojokerto yang dibentuk oleh sejarah panjang perjumpaan berbagai budaya.
Lebih Dari Sekadar Bangunan Tua
Selama lebih dari dua abad, Kelenteng Hok Sian Kiong berdiri sebagai penanda perjalanan sebuah kota.
Bangunan ini merekam jejak para pelaut yang datang dari negeri jauh. Ia menyimpan memori tentang masa ketika identitas budaya tertekan oleh situasi politik. Pada saat yang sama, tempat ini juga membuka ruang bagi lahirnya kembali harmoni di era yang terus berubah.
Karena itu, Hok Sian Kiong bukan sekadar rumah ibadah atau bangunan bersejarah.
Kelenteng ini telah menjelma menjadi bagian dari ingatan kolektif Mojokerto tentang bagaimana perbedaan dapat hidup berdampingan tanpa kehilangan jati dirinya.
Di bawah cahaya lampion yang menggantung tenang setiap malam, bangunan tua ini terus mengirimkan pesan yang sama dari generasi ke generasi.
Kebhinekaan tidak lahir dari pidato., Toleransi tidak tumbuh dari slogan Keduanya lahir ketika manusia memilih saling mengenal, saling menghormati, dan menjaga ruang bersama.
Majapahit memang telah lama menjadi bagian dari sejarah, Namun semangat yang pernah menyatukan banyak perbedaan di tanah ini masih hidup hingga hari ini. Dan di sudut Kota Mojokerto, Hok Sian Kiong terus menjaganya dalam diam. @teguh







