Museum Radya Pustaka Surakarta menghadirkan kelas Dolanan Lempung sebagai aktivitas kreatif yang membantu anak mengurangi waktu bermain gawai sekaligus mengenal budaya melalui pengalaman langsung.
Tabooo.id – Anak-anak kini semakin akrab dengan layar ponsel daripada permainan yang melatih kreativitas. Museum Radya Pustaka Surakarta menawarkan alternatif yang berbeda melalui Dolanan Lempung, kelas membuat gerabah yang mengajak peserta berkarya langsung dengan tangan. Program ini tidak hanya mengenalkan budaya Jawa, tetapi juga membantu anak mengurangi waktu bermain gawai sambil melatih fokus, kesabaran, dan imajinasi.
Museum Mengubah Cara Orang Menikmati Sejarah
Museum Radya Pustaka Surakarta terus menghadirkan inovasi agar masyarakat semakin tertarik berkunjung. Pengelola tidak hanya memamerkan koleksi benda bersejarah, tetapi juga mengajak pengunjung ikut merasakan pengalaman belajar secara langsung.
Salah satu inovasi tersebut hadir melalui Dolanan Lempung, kelas membuat kerajinan dari tanah liat yang kini menjadi salah satu program edukasi favorit. Kegiatan ini menarik minat keluarga, pelajar, mahasiswa, hingga komunitas kreatif yang ingin menghabiskan akhir pekan dengan aktivitas produktif.
Melalui program ini, museum menunjukkan bahwa sejarah tidak harus dipelajari dari balik etalase kaca. Pengunjung bisa menyentuh, membentuk, dan merasakan proses berkarya sambil mengenal nilai budaya yang tersimpan di dalam museum.
Kreativitas Tumbuh dari Segenggam Tanah Liat
Instruktur membuka kelas dengan mengenalkan teknik dasar mengolah tanah liat. Peserta kemudian mempelajari cara membentuk adonan, mengatur tekstur, hingga menciptakan berbagai bentuk sederhana.
Instruktur mendampingi setiap peserta selama proses berlangsung. Mereka memberi arahan secara bertahap sehingga pemula pun mampu mengikuti setiap langkah dengan mudah.
Kelas ini tidak mengejar hasil yang sempurna. Sebaliknya, peserta menikmati setiap proses saat tangan mereka mulai membentuk tanah liat menjadi karya sederhana. Pendekatan tersebut membuat suasana belajar terasa santai sekaligus menyenangkan.
Selain menghasilkan karya, peserta juga melatih kesabaran, konsentrasi, ketelitian, dan keberanian untuk mencoba hal baru.
Cara Seru Mengurangi Ketergantungan Anak pada Gawai
Dolanan Lempung hadir pada saat banyak orang tua mulai khawatir terhadap tingginya penggunaan gawai pada anak.
Alih-alih menghabiskan waktu dengan permainan digital, anak-anak mengisi hampir dua jam dengan aktivitas yang melibatkan gerakan tangan, interaksi langsung, dan imajinasi.
Mereka membentuk berbagai karakter, hewan, atau benda sesuai kreativitas masing-masing. Selama proses itu berlangsung, mereka lebih fokus pada karya yang sedang dibuat daripada layar ponsel.
Aktivitas sederhana tersebut membantu anak melatih motorik halus, meningkatkan kreativitas, memperkuat kemampuan memecahkan masalah, serta membangun rasa percaya diri.
Orang tua juga memperoleh kesempatan menikmati waktu berkualitas bersama anak tanpa gangguan notifikasi ataupun media sosial.
Remaja dan orang dewasa pun merasakan manfaat yang sama. Mereka menggunakan kelas ini sebagai ruang untuk melepas penat, mengurangi stres, sekaligus menikmati proses berkarya yang jarang mereka lakukan dalam rutinitas sehari-hari.
Berawal dari Koleksi Keramik Museum
Staf Edukasi Museum Radya Pustaka, Yanti, mengatakan tim museum mengembangkan Dolanan Lempung setelah mempelajari koleksi keramik yang tersimpan di Museum Radya Pustaka.
“Pottery class atau Dolanan Lempung merupakan program edukasi yang ada di sini yang diambil dari beberapa koleksi yang ada di Radya Pustaka yang terbuat dari bahan keramik yang berasal dari China. Akhirnya dari atasan berinovasi membuat pottery class atau membuat gerabah dan diberi nama Dolanan Lempung,” ujarnya, Jumat (7/8/2026).
Menurut Yanti, museum menggelar kelas tersebut setiap Sabtu pukul 10.00 hingga 12.00 WIB. Museum juga membuka program itu untuk seluruh masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Hanya Membayar Tiket Masuk
Yanti meminta peserta mendaftar melalui tautan yang tersedia di akun Instagram resmi Museum Radya Pustaka.
“Peserta yang mau ikut harus daftar lewat link yang ada di Instagram resmi Museum Radya Pustaka. Untuk biaya daftar tidak ada, hanya membayar tiket masuk museum sebesar Rp10.000,” jelasnya.
Biaya tersebut membuat masyarakat lebih mudah mengikuti kegiatan edukasi ini. Setelah menyelesaikan kelas, peserta dapat melanjutkan kunjungan untuk melihat berbagai koleksi museum, mulai dari naskah kuno, wayang, arca, hingga artefak bersejarah yang mencerminkan kekayaan budaya Nusantara.
KRA Sosrodiningrat IV mendirikan Museum Radya Pustaka pada 28 Oktober 1890. Hingga kini, museum itu terus mengembangkan berbagai program edukasi agar generasi muda semakin dekat dengan sejarah dan budaya.
Museum Kini Menjadi Tempat Anak Berkarya
Museum Radya Pustaka membuktikan bahwa belajar sejarah tidak harus terasa membosankan. Melalui Dolanan Lempung, anak-anak tidak hanya mengenal budaya, tetapi juga menciptakan pengalaman yang sulit mereka dapatkan dari layar gawai.
Saat tangan mulai membentuk tanah liat, imajinasi ikut bekerja. Saat karya mulai terlihat, rasa percaya diri pun tumbuh. Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat dan ponsel tidak lagi menjadi pusat perhatian.
Di tengah derasnya hiburan digital, Dolanan Lempung menunjukkan bahwa kegiatan sederhana masih mampu menghadirkan kebahagiaan. Kadang, segenggam tanah liat justru memberi pengalaman yang jauh lebih berkesan daripada berjam-jam menatap layar. @eko







