Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Museum Radya Pustaka, Saat Sejarah Tetap Hidup di Tengah Kota

by eko
Agustus 7, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on Facebook
Share on Twitter

Museum Radya Pustaka di Solo menjaga lebih dari 130 tahun sejarah melalui naskah kuno, pusaka, arca, dan bangunan bersejarah yang masih berdiri kokoh hingga kini.

Setiap kota memiliki tempat untuk menyimpan kenangan. Solo memilih Museum Radya Pustaka sebagai ruang yang menjaga ingatan itu selama lebih dari satu abad. Di balik bangunan tua yang berdiri di Jalan Slamet Riyadi, sejarah terus hidup melalui ribuan koleksi yang menghubungkan masa lalu dengan kehidupan hari ini.

Ketika Kota Terus Bergerak, Museum Memilih Menjaga

Lalu lintas memenuhi Jalan Slamet Riyadi sejak pagi. Kendaraan datang dan pergi tanpa henti. Orang-orang bergegas mengejar pekerjaan, sekolah, atau urusan lain.

Namun, suasana berubah saat langkah memasuki halaman Museum Radya Pustaka.

Pepohonan menghadirkan keteduhan. Patung Ronggowarsito menyambut setiap pengunjung. Bangunan tua bercat putih berdiri tenang seolah mengajak siapa pun memperlambat langkah.

Museum ini tidak mengejar zaman.

Ini Belum Selesai

De Tjolomadoe: Dari Pabrik Gula ke Ruang Sejarah

Pameran Keris Keluar dari Museum, Solo Mengajak Wisatawan Menyentuh Ingatan

Museum ini memilih menjaga ingatan.

Lebih dari 130 Tahun Menjaga Warisan Solo

Kanjeng Adipati Sosrodiningrat IV mendirikan Museum Radya Pustaka pada 28 Oktober 1890. Saat itu, ia menjabat sebagai Patih Keraton Kasunanan Surakarta.

Ia mengumpulkan berbagai arsip, naskah, dan benda bersejarah milik keraton agar generasi berikutnya tetap mengenal perjalanan budaya Jawa.

Keputusan itu melahirkan museum tertua di Indonesia.

Lebih dari 130 tahun kemudian, museum ini masih menjalankan tugas yang sama. Setiap ruang menyimpan cerita, setiap koleksi menghadirkan jejak masa lalu, dan setiap sudut mengingatkan bahwa sejarah tidak pernah benar-benar pergi.

Setiap Koleksi Mengajak Pengunjung Membaca Masa Lalu

Museum Radya Pustaka menyimpan ribuan koleksi yang berasal dari berbagai zaman.

Pengunjung dapat melihat naskah kuno yang merekam pemikiran para pujangga Jawa. Mereka juga menemukan keris, tombak, pusaka, serta berbagai senjata tradisional yang pernah menjadi bagian dari kehidupan Keraton Surakarta.

Di ruangan lain, mata uang kuno memperlihatkan bagaimana masyarakat menjalankan perdagangan pada masa lalu.

Keramik dari berbagai daerah menunjukkan hubungan Nusantara dengan dunia luar.

Museum juga menyimpan meriam dan senapan peninggalan VOC. Koleksi itu mengingatkan pengunjung pada masa ketika bangsa-bangsa Eropa datang membawa perdagangan sekaligus kekuasaan.

Tidak jauh dari sana, arca-arca Hindu dan Buddha berdiri tenang. Batu dan perunggu membentuk wajah para dewa yang tetap bertahan melintasi ratusan tahun.

Semua koleksi itu tidak hanya memperlihatkan usia.

Semua koleksi itu juga menceritakan perjalanan panjang sebuah peradaban.

Loji Kadipolo Menjadi Rumah Baru Sejarah

Pengelola Museum Radya Pustaka, Totok Yasmiran, menjelaskan bahwa museum pertama kali menempati kompleks Kepatihan.

“Pada awalnya museum itu berada di kompleks Kepatihan,” katanya.

Pada 1913, Kanjeng Adipati Sosrodiningrat IV memindahkan seluruh koleksi ke Loji Kadipolo. Johannes Busselaar, warga Belanda, sebelumnya memiliki bangunan tersebut.

Lokasi itu berdiri tepat di samping Taman Sriwedari yang pada masa lalu menjadi pusat hiburan dan keramaian Kota Solo.

Hingga sekarang, Loji Kadipolo tetap berdiri kokoh.

Arsitekturnya masih mempertahankan karakter bangunan kolonial. Tiang-tiang besar, jendela tinggi, dan ruang-ruang luas menghadirkan suasana yang sulit ditemukan di bangunan modern.

Museum Menjaga Jati Diri Kota

Solo terus tumbuh.

Gedung baru bermunculan. Kawasan bisnis berkembang. Gaya hidup masyarakat pun berubah mengikuti zaman.

Namun, Museum Radya Pustaka tetap mengingatkan bahwa sebuah kota tidak hanya membutuhkan pembangunan.

Sebuah kota juga membutuhkan ingatan.

Museum ini menjaga cerita tentang para pujangga, raja, seniman, pedagang, dan masyarakat yang pernah membentuk wajah Solo.

Karena itu, setiap orang yang datang sebenarnya tidak hanya melihat benda-benda kuno.

Mereka sedang membaca perjalanan manusia.

Tempat yang Menghubungkan Masa Lalu dan Masa Depan

Museum Radya Pustaka tidak menawarkan wahana modern atau hiburan yang serba cepat.

Museum ini menawarkan sesuatu yang semakin langka.

Keheningan.

Di tempat itu, pengunjung dapat berhenti sejenak dari kesibukan. Mereka dapat membaca sejarah tanpa terburu-buru. Mereka juga dapat memahami bahwa setiap benda memiliki kisah yang ikut membentuk kehidupan hari ini.

Museum Radya Pustaka membuktikan satu hal.

Kemajuan tidak pernah meminta kita melupakan masa lalu.

Justru, masa lalulah yang membantu sebuah kota melangkah dengan arah yang lebih jelas.@eko

Tags: Budaya SoloKraton SurakartamuseumRadya PustakaSurakarta

Kamu Melewatkan Ini

Sembilan Hotel, Dua Museum, Satu Pertanyaan: Siapa yang Merawat Ingatan Solo?

Sembilan Hotel, Dua Museum, Satu Pertanyaan: Siapa yang Merawat Ingatan Solo?

by teguh
Oktober 13, 2026

Pemkot Solo membawa koleksi Museum Radya Pustaka dan Museum Keris ke sembilan hotel di Solo Raya. Langkah ini membuka akses...

Sudah Dibasahi, Api TPA Putri Cempo Muncul Lagi

Sudah Dibasahi, Api TPA Putri Cempo Muncul Lagi

by teguh
September 24, 2026

Api kembali muncul di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo, Solo, Kamis 24/09/2026. Padahal, petugas sebelumnya sudah melakukan pembasahan dan...

KY Gelar Diskusi Publik di Solo Bahas Penguatan Kewenangan

Kraton Surakarta Angkat Sejarah Peradilan di Forum KY

by eko
September 24, 2026

Kraton Surakarta membawa sejarah Peradilan Pradoto dan Pengadilan Serambi dalam diskusi penguatan kewenangan Komisi Yudisial di Solo. Tabooo.id: Surakarta -...

Next Post
Mentalitas Singapura, Alarm Serius Timnas Indonesia Sebelum Laga Hidup-Mati

Mentalitas Singapura, Alarm Serius Timnas Indonesia Sebelum Laga Hidup-Mati

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id