Tabooo.id: Life – Langit Dusun Pelempayung sore itu berwarna jingga. Angin turun pelan dari perbukitan, menyentuh dedaunan lalu menyusup ke bangunan sederhana bernama Museum Purabaya. Di halaman, seorang pria berkacamata membungkuk hati-hati. Ia membersihkan debu dari sebongkah batu purba dengan gerakan pelan, seolah menyentuh sesuatu yang masih bernapas.
Pria itu Bernadi Sabit Dangin. Warga mengenalnya sebagai Mas Bee. Ia bukan arkeolog bergelar panjang dan bukan pejabat yang mendapat mandat negara. Namun ia memilih mengambil tanggung jawab yang sering diabaikan banyak orang: merawat ingatan kampungnya sendiri.
Dari Kegelisahan Menjadi Gerakan
Semua bermula pada 2014. Saat itu, Mas Bee mulai menyusuri sudut-sudut Madiun Raya. Ia mendatangi situs lama, berbincang dengan sesepuh desa, menyusuri sungai, bahkan menggali cerita yang hampir hilang ditelan waktu. Ia tidak membawa proposal besar atau dukungan dana. Sebaliknya, ia hanya membawa rasa ingin tahu dan kegelisahan.
Dalam penelusuran itu, ia menemukan pecahan gerabah, fosil, batuan purba, serta peninggalan kolonial. Banyak benda tergeletak tanpa perhatian. Padahal setiap artefak menyimpan potongan kisah tentang siapa kita sebelum menjadi hari ini.
Karena itu, ia tidak menyimpannya sebagai koleksi pribadi. Ia justru membuka ruang bersama. Pada 2018, ia mendirikan Museum Purabaya di Dusun Pelempayung, Desa Gunungsari, Kecamatan Madiun, Kabupaten Madiun.
Ia memilih nama “Purabaya” dengan sadar. Dahulu, sebelum Mataram menaklukkan wilayah ini, Madiun menyandang nama tersebut. Dengan menghidupkan kembali nama itu, Mas Bee seakan menyalakan obor kecil dari masa silam.
Museum Kecil, Narasi Besar
Kini Museum Purabaya menyimpan sekitar 3.000 koleksi. Jumlah itu terbilang besar untuk museum yang lahir dari inisiatif warga. Pengunjung dapat menelusuri sepuluh tema periodesasi sejarah Madiun, mulai dari masa prasejarah hingga peristiwa 1965.
Mas Bee tidak membiarkan koleksi itu membeku. Setiap enam bulan, ia mengganti tema pameran. Ia menata ulang narasi dan mengajak pengunjung melihat sejarah sebagai proses yang hidup. Dengan begitu, museum tidak hanya menjadi ruang pajangan, tetapi juga ruang dialog.
Di tengah pembangunan fisik yang masif, ruang-ruang ingatan sering kalah prioritas. Kita membangun jalan tol dan gedung tinggi, tetapi jarang membangun kesadaran sejarah. Mas Bee memahami ironi itu. Namun alih-alih mengeluh, ia terus bekerja.
Pasar Tradisional, Nafas Kebudayaan
Selain mengelola museum, Mas Bee turut menghidupkan Pasar Pundensari bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Mereka menghadirkan kembali suasana pasar era 70-an di Desa Gunungsari.
Di sana, pedagang menyajikan getuk, cenil, pecel, dan aneka jajanan tradisional. Namun Mas Bee juga memberi ruang bagi kuliner kekinian agar anak muda tetap merasa terlibat. Dengan cara itu, ia menjembatani nostalgia dan realitas zaman.
Lebih dari sekadar tempat transaksi, pasar itu menjadi ruang temu warga. Mereka membungkus makanan dengan daun, mengurangi plastik, dan menghidupkan kembali kebiasaan yang lebih ramah lingkungan. Dengan demikian, desa tidak hanya menjual produk, tetapi juga nilai.
Dari Desa ke Panggung Nasional
Kerja konsisten itu membuahkan hasil. Pada 2024, Desa Wisata Gunungsari masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI). Pengakuan tersebut mengangkat nama desa hingga tingkat nasional.
Meski begitu, Mas Bee tidak mengubah rutinitasnya. Ia tetap datang pagi-pagi ke museum, menyapu lantai, menata artefak, dan menyambut siswa yang datang berkunjung. Ia menjelaskan fosil sebagai jejak kehidupan, bukan sekadar batu tua. Ia mengisahkan kolonialisme sebagai pengalaman manusia, bukan angka tahun di buku pelajaran.
Dengan pendekatan itu, ia membuat sejarah terasa dekat.
Sejarah Milik Warga, Bukan Elit
Kisah Mas Bee memunculkan pertanyaan mendasar. Mengapa kita sering menyerahkan urusan sejarah hanya kepada negara atau akademisi? Mengapa warga biasa jarang merasa memiliki hak untuk merawat masa lalu?
Mas Bee membuktikan bahwa pelestarian budaya tidak selalu membutuhkan anggaran besar. Ia menunjukkan bahwa perubahan lahir dari konsistensi. Memang, mengelola museum mandiri menuntut tenaga dan biaya. Namun ia tetap berjalan pelan, langkah demi langkah.
Di era yang memuja viralitas, ia justru memilih kerja sunyi.
Api Kecil yang Terus Dijaga
Sore kembali turun di Pelempayung. Museum Purabaya menutup pintunya perlahan. Ribuan artefak tetap diam di dalamnya. Namun diam itu menyimpan cerita tentang tanah, manusia, luka, dan harapan.
Mas Bee mematikan lampu satu per satu. Besok pagi ia akan membuka pintu yang sama dan kembali menjaga api kecil bernama ingatan.
Kita mungkin tidak mampu mendirikan museum. Namun kita selalu punya pilihan membiarkan sejarah memudar, atau ikut merawatnya dengan cara sederhana.
Sebab pada akhirnya, pertanyaan itu tetap sama kalau bukan kita yang mengingat, siapa lagi? @dimas




