Buruh kupas bawang di Pasar Legi Solo mengaku hanya mendapat Rp2.000 per kilogram, jauh dari angka Rp700 ribu yang disebut Prabowo.
Tabooo.id: Surakarta – Pisau kecil terus bergerak di tangan Zinah (80) di Pasar Legi Solo. Ia mengupas bawang demi bawang untuk mendapat penghasilan harian.
Namun, angka yang ia terima jauh dari nominal yang disebut Presiden Prabowo Subianto.
Zinah mengaku hanya mendapat sekitar Rp2.000 per kilogram. Satu karung biasanya menghasilkan upah sekitar Rp10.000.
Dalam sehari, ia rata-rata menyelesaikan dua karung.
Penghasilan dari pekerjaan itu pun hanya sekitar Rp20.000 sehari.
“Nek ngoceki ngeten niki ngeh namung angsal Rp10.000 per karung. Untuk perkilonya hanya Rp2.000,” ujar Zinah saat ditemui tim Tabooo.id di Pasar Legi, Solo.
Pernyataan tersebut terasa kontras dengan pidato Prabowo pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama MPR, DPR, dan DPD RI di Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Saat itu, Prabowo memperkenalkan Susanah, warga Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Presiden menyebut Susanah bekerja sebagai buruh harian pengupas bawang dengan upah Rp700 ribu per kilogram.
Angka itu kemudian menyebar luas di media sosial. Publik pun mulai bertanya-tanya.
Kalau benar upahnya Rp700 ribu per kilogram, di mana lowongannya?
Di Pasar Legi, Angkanya Berbeda Jauh
Bagi Zinah, mengupas bawang bukan pekerjaan dengan bayaran fantastis.
Pekerjaan itu justru menjadi salah satu cara untuk bertahan hidup.
Ia juga bekerja sebagai buruh gendong di Pasar Legi. Usianya sudah 80 tahun, tetapi kebutuhan hidup membuatnya tetap bekerja.
Selain soal upah, pekerjaan tersebut juga memiliki risiko.
Jari dan tangannya beberapa kali terluka ketika mengupas bawang.
Bawang tetap harus dikupas. Karung tetap harus diselesaikan. Namun, pendapatan tidak ikut melonjak.
Zinah tidak meminta angka ratusan ribu rupiah.
Harapannya jauh lebih sederhana.
“Ngeh harapan saya agar harga kebutuhan pokok bisa murah,” katanya.
Kalimat tersebut terdengar sederhana. Namun, bagi pekerja dengan pendapatan puluhan ribu rupiah sehari, harga kebutuhan pokok menentukan isi dapur.
Ketika harga naik, ruang untuk bertahan hidup ikut menyempit.
Satiyah Juga Mendapat Rp2.000 per Kilogram
Pengalaman serupa datang dari Satiyah, buruh asal Karanganyar.
Ia juga bekerja mengupas bawang di Pasar Legi. Menurut Satiyah, upah yang ia terima hanya sekitar Rp2.000 per kilogram.
“Segini, Mas, satu kilo cuma dapat Rp2.000. Kok ngasi Rp700 ribu per kilo gimana?” ujar Satiyah.
Pertanyaan itu menjadi gambaran kecil dari keresahan yang muncul setelah pidato Prabowo.
Satu angka muncul dari panggung kenegaraan.
Angka lain muncul dari tangan pekerja di pasar.
Keduanya sama-sama berbicara tentang pekerjaan mengupas bawang.
Lalu, mengapa jaraknya begitu jauh?
Rp700 Ribu Per Kilogram Perlu Konteks
Pernyataan Presiden memang tercatat dalam pidato kenegaraan. Prabowo memperkenalkan Susanah sebagai salah satu penerima manfaat Program Keluarga Harapan dan Program Sembako.
Namun, pernyataan itu belum menjelaskan seluruh konteks pengupasan bawang.
Publik belum mendapat penjelasan mengenai mekanisme pembayaran tersebut.
Apakah Rp700 ribu merupakan tarif khusus?
Apakah ada target produksi tertentu?
Berapa kilogram bawang yang mampu dikupas Susanah dalam sehari?
Pertanyaan itu penting karena sistem upah pekerja informal bisa berbeda antarwilayah.
Karena itu, pengalaman Zinah dan Satiyah tidak otomatis membuktikan bahwa sistem pembayaran Susanah sama.
Sebaliknya, pengalaman dua pekerja Pasar Legi menunjukkan pentingnya konteks ketika pemerintah menyebut angka pendapatan rakyat.
Tanpa konteks, angka besar mudah berubah menjadi simbol kesejahteraan.
Padahal, realitas pekerja bisa jauh lebih beragam.
Yang Terlihat di Panggung, yang Terjadi di Pasar
Pidato Presiden membawa kisah Susanah sebagai gambaran penerima manfaat program pemerintah.
Kisah tersebut penting. Bantuan sosial memang berkaitan langsung dengan kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan dasar.
Namun, kesejahteraan tidak berhenti pada bantuan sosial.
Negara juga perlu melihat bagaimana warga memperoleh penghasilan setiap hari.
Di Pasar Legi, jawabannya terlihat dari tangan Zinah.
Ia mengupas bawang.
Ia menggendong barang.
Ia bekerja meski sudah berusia 80 tahun.
Hasilnya hanya puluhan ribu rupiah dalam sehari.
Situasi itu menunjukkan persoalan yang lebih besar.
Data ekonomi harus bertemu dengan realitas manusia.
Sebab, pemerintah bisa menyebut angka dalam forum kenegaraan. Namun, pekerja menghitung penghasilan dari uang yang benar-benar masuk ke tangan.
Ini Bukan Sekadar Soal Bawang
Perbedaan Rp2.000 dan Rp700 ribu membuat publik berhenti dan bertanya.
Jika kedua angka tersebut merujuk pada pekerjaan yang sama, selisihnya mencapai 350 kali lipat.
Jarak sebesar itu tentu membutuhkan penjelasan.
Namun, persoalannya tidak berhenti pada siapa yang benar.
Pertanyaan yang lebih penting justru menyentuh cara negara membaca kondisi rakyat.
Seberapa akurat data yang sampai ke meja pemerintah?
Seberapa sering data tersebut diuji dengan kondisi lapangan?
Dan apakah pengalaman pekerja informal benar-benar masuk dalam gambaran ekonomi nasional?
Inilah lapisan yang lebih penting dari polemik kupas bawang.
Ini bukan sekadar kejadian. Ini soal jarak antara angka dan realita.
Angka Rp700 ribu terdengar besar di podium.
Sebaliknya, Rp2.000 terasa nyata di tangan pekerja.
Bagi Zinah, persoalannya bukan mencari pekerjaan dengan upah fantastis.
Ia hanya berharap harga kebutuhan pokok tetap terjangkau.
Harapan itu sederhana.
Namun, justru dari kesederhanaan tersebut negara bisa melihat ukuran kesejahteraan yang paling nyata.
Bukan sekadar berapa besar angka yang disebut.
Melainkan berapa banyak yang benar-benar tersisa untuk dibawa pulang.
Dan akhirnya, pertanyaan Pasar Legi bukan lagi sekadar, “Ada info loker kupas bawang Rp700 ribu?”
Pertanyaan sebenarnya jauh lebih serius:
Jika seorang pekerja hanya membawa pulang Rp20 ribu sehari, bagaimana negara mendefinisikan kata sejahtera? @dimas








