Pagi baru saja menapak di Kota Solo ketika aroma jajanan pasar seperti gorengan hangat dan manis legit mulai memenuhi lorong tua Pasar Gede Hardjonagoro. Di balik gerobak biru sederhana, seorang perempuan paruh baya tersenyum sambil menjepit onde-onde dengan capitan plastik di tangannya. Wajahnya tampak tenang, meski zaman bergerak terlalu cepat di luar sana.
Tabooo.id – Di kota yang semakin dipenuhi coffee shop estetik, croissant mahal, dan makanan viral berlapis algoritma, perempuan itu masih setia menjual kue tradisional jajanan pasar seperti lumpia, kue ku, bikang, hingga roti kampung. Mungkin terdengar sederhana. Tapi masalahnya, ini bukan sekadar urusan makanan. Ini perang sunyi antara memori dan modernitas.
Pasar Gede: Ruang Memori yang Tak Sekadar Tempat Belanja
Pasar Gede Hardjonagoro bukan bangunan biasa. Dirancang arsitek Belanda Thomas Karsten dan diresmikan pada 1930, pasar ini menjadi salah satu denyut kebudayaan Kota Solo. Orang datang bukan hanya untuk membeli bahan dapur, tetapi juga merawat ingatan.
Di lorong-lorong pasar itu, sejarah hidup lewat rasa. Onde-onde bukan cuma camilan. Lumpia bukan sekadar gorengan. Di balik makanan sederhana itu, tersimpan memori keluarga, tradisi, bahkan cara masyarakat Jawa memahami hidup: sederhana, hangat, dan dekat dengan akar.
Sejarawan Solo, Dr. Heri Priyatmoko, M.A., dalam diskusi kebudayaan pada 12/03/2025, pernah menyebut bahwa Pasar Gede lebih dari ruang ekonomi.
“Pasar Gede adalah ruang memori. Ketika seorang perempuan masih setia menjual onde-onde dan lumpia di sana, ia tidak sedang sekadar mencari nafkah. Ia sedang merawat potongan sejarah kota. Jajanan pasar adalah bahasa ibu dari gastronomi kita,” ujarnya.
Kalimat itu terasa menampar. Sebab tanpa sadar, kita hidup di zaman ketika identitas budaya mulai kalah oleh estetika digital.
Ironisnya, makanan tradisional sering kalah bukan karena rasa. Mereka kalah oleh branding.
Ketika Croissant Lebih Viral dari Onde-onde
Hari ini, satu video croissant pistachio bisa mendapat jutaan tayangan. Sementara pedagang jajanan pasar di Pasar Gede mungkin hanya mengandalkan pelanggan lama dan sedikit harapan.
Masalahnya bukan pada croissant. Dunia memang berubah. Lidah manusia terus berkembang. Namun pertanyaannya, Mengapa makanan lokal justru kehilangan panggung di rumahnya sendiri?
Modernisasi kuliner membawa standar baru. Makanan kini dijual bukan hanya lewat rasa, tetapi visual, algoritma, dan pengalaman digital. Semakin instagramable, semakin besar peluang bertahan.
Sementara itu, jajanan pasar hadir dengan kemasan sederhana. Tidak estetik. Tidak viral. Bahkan sering dianggap “makanan orang tua”.
Padahal, di balik tampilannya yang sederhana, ada teknik pembuatan rumit, pengetahuan turun-temurun, dan ketekunan yang tidak bisa diproduksi pabrik.
Akademisi budaya Dr. Sri Margana, dalam kuliah umum pada 22/05/2026, menilai persoalan ini sebagai krisis identitas budaya generasi muda.
“Gen Z perlu memahami bahwa mengonsumsi makanan tradisional adalah tindakan budaya. Mengapa kita rela antre demi camilan luar negeri, tetapi lupa bahwa kue tradisional juga lahir dari keterampilan tangan dan sejarah panjang?” katanya.
Kalimat itu terasa seperti kritik yang lembut, tetapi menusuk. Mungkin masalahnya memang bukan soal rasa.
Mungkin kita sedang kehilangan hubungan emosional dengan akar sendiri.
Perempuan UMKM: Penjaga Sejarah yang Sering Tak Terlihat
Jika diperhatikan lebih dekat, sebagian besar pedagang jajanan pasar tradisional di Pasar Gede adalah perempuan.
Mereka datang sejak subuh. Menata dagangan. Menjaga kualitas rasa. Lalu pulang dengan keuntungan yang kadang tak seberapa.
Namun anehnya, peran mereka jarang dibicarakan. Padahal mereka adalah arsip hidup sejarah kota.
Di tengah agresivitas industri makanan modern, perempuan-perempuan ini tetap menjaga resep keluarga agar tidak punah. Mereka bukan sekadar pedagang kecil. Mereka kurator memori kolektif.
Ibu Krisni, pedagang jajanan pasar yang telah berjualan lebih dari dua dekade di Pasar Gede, mengaku tetap bertahan meski pembeli berubah.
“Sekarang anak muda lebih suka makanan viral. Tapi saya senang kalau ada yang datang, foto jajanan saya, terus upload di media sosial. Rasanya masih ada harapan,” katanya saat ditemui pada 26/05/2026.
Harapan, Kata itu terdengar sederhana. Tapi di baliknya, ada kecemasan besar bagaimana jika generasi berikutnya tidak lagi mengenal rasa yang diwariskan nenek moyangnya?
Negara Hadir atau Sekadar Menonton?
Pertanyaan paling sulit justru mengarah ke pemerintah.
Selama ini, perlindungan budaya sering berhenti pada bangunan fisik. Pasar Gede dijaga sebagai heritage. Tetapi bagaimana dengan manusianya?
Bagaimana dengan pedagang kecil yang menjaga ekosistem budaya di dalamnya?
Sosiolog Prof. Dr. Bagong Suyanto, M.Si., dalam seminar nasional pada 18/11/2025, mengingatkan bahwa modernisasi tanpa perlindungan bisa menjadi bentuk ketimpangan baru.
“Modernisasi kuliner memang tidak bisa dihindari. Tetapi membiarkan pedagang tradisional bertarung sendiri melawan industri besar adalah bentuk kelalaian,” katanya.
Menurutnya, negara perlu hadir lebih serius dengan cara zonasi khusus kuliner tradisional, subsidi bahan baku, hingga pelatihan digital yang tetap menjaga keaslian rasa.
Senada dengan itu, mantan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surakarta, Aryo Widyandoko, pada 05/02/2026, menyebut Pasar Gede harus menjadi pusat diplomasi gastronomi.
“Kita tidak boleh hanya melestarikan gedungnya. Ekosistem manusianya juga harus hidup,” ujarnya.
Masalahnya, kebijakan sering berjalan lebih lambat dibanding perubahan zaman. Sementara algoritma terus bergerak cepat.
Generasi Muda: Penerus atau Pelupa?
Pertarungan sesungguhnya mungkin bukan terjadi di pasar. Tetapi di kepala generasi muda. Hari ini, banyak anak mengenal makanan lewat TikTok sebelum mengenalnya di meja makan rumah.
Lalu muncul pertanyaan yang agak mengganggu: apakah generasi sekarang masih merasa memiliki jajanan pasar?
Atau jangan-jangan makanan tradisional hanya akan menjadi nostalgia orang tua?
Padahal mempertahankan kuliner lokal bukan sekadar romantisme masa lalu. Ini soal identitas.
Apa jadinya sebuah bangsa jika bahkan lidahnya tidak lagi mengenali rumah? Ini bukan sekadar cerita tentang onde-onde yang kalah viral dari croissant.
Ini perebutan identitas rasa, Yaitu Perebutan tentang siapa yang menentukan apa yang dianggap “keren”, “layak dikonsumsi”, dan “patut diwariskan”.
Penutup: Ketika Rasa Menjadi Perlawanan
Di tengah lorong Pasar Gede, perempuan itu masih tersenyum sambil melayani pembeli. Gerobaknya tetap sederhana. Jajanannya tetap sama seperti puluhan tahun lalu.
Namun dunia di sekelilingnya berubah sangat cepat. Pertanyaannya kini sederhana, apakah kita akan membiarkan rasa-rasa lama perlahan menghilang?
Atau justru mulai sadar bahwa menjaga jajanan pasar berarti menjaga potongan identitas kita sendiri?
Karena pada akhirnya, bangsa yang kehilangan rasa, sering kali sedang kehilangan ingatan.
Dan mungkin, perang terbesar hari ini memang bukan soal teknologi. Tapi soal siapa yang berhasil merebut lidah generasi berikutnya. @teguh





