Blokir situs judi online belum cukup. Pemerintah perlu mengejar jaringan, transaksi, dan aliran dana yang menghidupkan ekosistem judol.
Tabooo.id – Pemerintah sudah memblokir jutaan konten judi online. Namun, pelaku terus mencari celah melalui situs baru, platform lain, hingga jalur transaksi.
Judi online terus mencari jalan baru meski pemerintah sudah memblokir jutaan konten. Pelaku bisa mengganti alamat situs, memakai platform lain, lalu membuka jalur transaksi baru.
Masalahnya bukan hanya soal situs. Ada jaringan besar yang membuat bisnis judol terus berjalan.
Jutaan Konten Masuk Radar Pemerintah
Komdigi mencatat 2.087.109 konten judi online sepanjang 1 Januari hingga 31 Desember 2025. Sebanyak 1.809.358 konten berasal dari situs dan alamat IP. Layanan berbagi file menyumbang 122.366 konten.
Komdigi juga menemukan konten judol di berbagai platform besar. Meta mencapai 92.322 konten, sedangkan Google dan YouTube mencapai 43.475 konten.
Sementara itu, X mencapai 16.526 konten. Telegram mencapai 1.882 konten dan TikTok 1.166 konten. Angka tersebut menunjukkan satu hal: judi online tidak bergantung pada satu situs atau satu platform.
Pelaku Bisa Mengubah Cara Bermain
Pemblokiran tetap penting karena langkah itu membantu pemerintah membatasi akses menuju situs perjudian. Namun, pelaku bisa mengubah alamat situs dengan cepat.
Mereka juga bisa memindahkan promosi ke media sosial dan layanan pesan. Karena itu, pemerintah mulai memperluas sasaran pemberantasan.
Komdigi tidak hanya mengejar konten. Pemerintah juga mengejar transaksi dan aliran dana. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menilai langkah tersebut penting untuk memutus jaringan judol.
Artinya, pemerintah kini menghadapi pertanyaan yang lebih besar: siapa yang menggerakkan jaringan judol, dari mana uang masuk, dan ke mana uang mengalir?
Uang Menjadi Bagian Penting
Judi online membutuhkan uang untuk terus berjalan. Pemain melakukan deposit, rekening menerima dana, lalu jaringan memindahkan uang tersebut.
Data pemerintah menunjukkan masalah ini juga menyentuh penerima bantuan sosial. Pada 2024, pemerintah mengidentifikasi 571.410 NIK penerima bansos yang berkaitan dengan aktivitas judi online.
Para pemilik NIK tersebut tercatat melakukan sekitar 7,5 juta transaksi dengan nilai deposit sekitar Rp957 miliar. Angka itu menunjukkan besarnya perputaran uang dalam ekosistem judol.
Karena itu, pemerintah tidak bisa hanya menghapus alamat situs. Pemerintah juga perlu mengejar jalur uang yang membuat bisnis tersebut terus hidup.
Dampaknya Bisa Masuk ke Rumah
Judi online tidak hanya menyerang pemain. Kebiasaan itu juga bisa mengganggu ekonomi keluarga dan kehidupan sosial.
Meutya Hafid menilai judol bisa mengancam penghasilan keluarga dan masa depan anak. Komdigi juga menyebut sekitar 200 ribu anak Indonesia masuk dalam paparan judi online.
Sekitar 80 ribu anak berusia di bawah 10 tahun masuk dalam angka tersebut. Data itu memperlihatkan persoalan yang jauh lebih serius.
Judi online kini tidak hanya menyasar orang dewasa. Ruang digital juga membuka peluang bagi anak untuk mengenal konten perjudian sejak dini.
Angka Blokir Terus Membesar
Pemerintah mencatat 5,15 juta konten negatif dalam periode 20 Oktober 2024 hingga 11 September 2026. Dari angka tersebut, sekitar 4,03 juta konten berkaitan dengan judi online.
Sistem SAMAN juga menangani 358 batch laporan dengan total 1.801 URL sejak Februari 2025 hingga 11 September 2026.
Namun, jumlah konten yang hilang belum cukup untuk mengukur keberhasilan. Meutya Hafid ingin pemerintah melihat kemampuan memutus jaringan sebagai ukuran yang lebih penting.
Ini Bukan Sekadar Perang Situs
Logikanya sederhana. Jika satu situs hilang, pelaku bisa membuat situs baru, jika satu akun tutup, pelaku bisa membuat akun lain dan
jika satu jalur transaksi berhenti, pelaku bisa mencari jalur baru. Karena itu, pemerintah perlu menyerang setiap bagian secara bersamaan.
Ini bukan sekadar perang melawan situs. Ini perang melawan sebuah sistem.
Sistem itu mencakup konten, promosi, pemain, transaksi, rekening, dan aliran dana. Komdigi dapat membatasi konten dan akses.
Lembaga terkait juga perlu mempersempit jalur transaksi serta aliran uang. Masyarakat pun punya peran penting dalam melindungi keluarga dan anak.
Dampaknya Buat Kamu
Judi online mungkin terlihat seperti masalah orang lain. Padahal, dampaknya bisa masuk ke rumah dan keluarga.
Uang kebutuhan sehari-hari bisa ikut terseret. Anak juga bisa mengenal perjudian lewat layar yang ada di tangannya.
Karena itu, pemberantasan judol tidak cukup dengan memblokir situs. Situs bisa hilang hari ini, tetapi jaringan yang menghasilkan uang bisa mencari jalan baru besok.
Jadi, pertanyaan pentingnya bukan hanya berapa banyak situs yang pemerintah blokir.
Pertanyaannya jauh lebih besar:
Apakah pemerintah mampu memutus mesin uang yang membuat judi online terus hidup? @eko








