Tabooo.id: Deep – Di selatan Yogyakarta, di antara lembah dan kabut yang menggantung setiap pagi, berdiri kompleks sunyi bernama Astana Pajimatan Himagiri. Orang mengenalnya sebagai Makam Imogiri tanah sakral tempat para raja Mataram dan keturunannya kembali menutup perjalanan hidup mereka dalam keheningan terakhir.
Kini, nama Imogiri kembali bergema. Seiring dengan kepergian Sampeyan Dalem Ingkang Sinoehoen Kangjeng Soesoehoenan Pakoe Boewono XIII Senapati Ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayiddin Panatagama, raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat, kompleks ini sekali lagi bersiap menyambut satu kepulangan yang sarat makna.
Makna di Balik Nama
Nama Astana Pajimatan Himagiri menyimpan filosofi yang dalam.
Masyarakat menafsirkan Astana sebagai tempat, Pajimatan sebagai penyakralan, dan Himagiri sebagai gunung berkabut jembatan antara dunia fana dan alam abadi.
Dengan begitu, nama ini bukan sekadar penanda, melainkan juga doa yang terukir di antara kabut dan keheningan Imogiri.
Kabutnya bukan sekadar uap pagi; ia menjadi napas masa silam yang terus berbisik di setiap helai embun.
Arsitektur yang Menyimpan Doa
Pada 1632, Sultan Agung Anyakrakusuma membangun kompleks pemakaman ini di Bukit Merak, Wukirsari, Imogiri, Bantul. Ia memilih tempat itu karena gunung, dalam kosmologi Jawa, melambangkan kesucian dan kedekatan dengan Sang Pencipta.
Bagi masyarakat, Bukit Merak yang selalu diselimuti kabut menjadi simbol pertemuan antara langit dan tanah, antara yang fana dan yang kekal.
Setiap batu di Imogiri berbicara dalam bahasa simbol.
Tumenggung Citrakusuma, arsitek kepercayaan Sultan Agung, menata kompleks ini dengan perpaduan estetika Jawa-Islam. Melalui setiap tangga, gapura, dan batu nisan, ia menanamkan makna spiritual yang mendalam.
Untuk mencapai area utama, peziarah harus menaiki 446 anak tangga perjalanan yang bukan hanya fisik, melainkan juga pendakian jiwa menuju kesadaran tertinggi.
Masing-masing anak tangga menyimpan jejak sejarah:
- 32 langkah pertama menandai tahun pembangunan (1632),
- 13 langkah berikutnya melambangkan naiknya Sultan Agung ke takhta,
- 46 langkah berikutnya mengenang tahun wafatnya,
dan sisanya menjadi simbol perjalanan panjang Mataram yang terus hidup.
Dua Dinasti, Satu Bukit
Setelah wafat pada 1646, Sultan Agung menjadi raja pertama yang dimakamkan di sini. Sejak saat itu, Astana Pajimatan berfungsi sebagai tempat peristirahatan para penerusnya dari raja-raja Surakarta di sisi barat hingga akhirnya sultan-sultan Yogyakarta di sisi timur.
Meskipun dua dinasti itu sempat terpisah karena Perjanjian Giyanti 1755, kini mereka berbaring berdampingan di bukit yang sama.
Dulu politik sempat memisahkan mereka, namun kini tanah Imogiri menyatukan semuanya dalam diam.
Ziarah dan Warisan yang Tak Pernah Padam
Setiap hari, para peziarah datang membawa bunga, doa, dan rasa hormat.
Mereka tidak sekadar berziarah kepada para raja, melainkan juga menyentuh akar spiritual bangsa.
Sementara itu, para abdi dalem di setiap gapura terus melantunkan doa dengan tata krama yang diwariskan sejak empat abad lalu.
Ketika kabut turun dan suara gamelan samar terdengar dari kejauhan, Imogiri seolah menutup diri dari dunia luar.
Di antara nyata dan gaib, waktu terasa berhenti.
Seperti pesan lama yang terus bergema:
“Sapa eling bakal mulih, sapa lali bakal kesasar.”
Barang siapa yang ingat asalnya, akan tahu ke mana ia akan pulang.
Sebuah Kepulangan yang Penuh Makna
Hari ini, SISKS Pakoe Boewono XIII kembali ke tanah yang dahulu dipilih sendiri oleh Sultan Agung tanah yang menyimpan napas sejarah, doa, dan jejak para raja yang meniti jalan menuju keabadian.
Kepulangannya bukan sekadar prosesi kerajaan, melainkan juga ritual sakral yang menyatukan waktu, darah, dan keabadian.
Akhirnya, Astana Pajimatan Himagiri hadir bukan hanya sebagai pemakaman, tetapi juga kitab sunyi tempat sejarah, spiritualitas, dan keagungan Jawa menulis dirinya sendiri tanpa tinta, tanpa suara. @jeje







