Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Merapi Berduka, Enam Kali Muntahkan Awan Panas, Radius Bahaya Diperluas

by jeje
November 3, 2025
in Reality
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: News – Minggu siang (2/11/2025), langit di sekitar lereng Gunung Merapi tampak berubah muram. Gunung yang berdiri gagah di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta itu kembali menunjukkan aktivitasnya memuntahkan awan panas guguran hingga enam kali dalam sehari.

Menurut laporan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, dua awan panas pertama terekam pada pukul 11.04 WIB dan 11.11 WIB dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.500 meter ke arah barat daya.

“Estimasi jarak luncur 2.500 meter dengan amplitudo maksimum 59 mm dan durasi 279,5 detik,” jelas Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, dalam keterangan resminya, Minggu (2/11).

Aktivitas itu belum berhenti di situ. Menjelang sore, Merapi kembali bergemuruh. Guguran awan panas terpantau pada 14.27 WIB, 15.00 WIB, 16.08 WIB, dan 17.21 WIB, semuanya bergerak ke arah barat daya menuju sektor Kali Krasak dan Kali Sat (Putih).

Enam Letupan, Satu Peringatan

Minggu siang (2/11/2025), langit di sekitar lereng Gunung Merapi tampak berubah muram. Gunung yang berdiri gagah di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta itu kembali menunjukkan aktivitasnya memuntahkan awan panas guguran hingga enam kali dalam sehari.

Menurut laporan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, dua awan panas pertama terekam pada pukul 11.04 WIB dan 11.11 WIB dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.500 meter ke arah barat daya.

Ini Belum Selesai

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

“Estimasi jarak luncur 2.500 meter dengan amplitudo maksimum 59 mm dan durasi 279,5 detik,” jelas Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, dalam keterangan resminya, Minggu (2/11).

Aktivitas itu belum berhenti di situ. Menjelang sore, Merapi kembali bergemuruh. Guguran awan panas terpantau pada 14.27 WIB, 15.00 WIB, 16.08 WIB, dan 17.21 WIB, semuanya bergerak ke arah barat daya menuju sektor Kali Krasak dan Kali Sat (Putih).

Enam Letupan, Satu Peringatan

BPPTKG mencatat awan panas pada pukul 14.27 WIB meluncur sejauh 2.000 meter, kemudian mengamati guguran berikutnya dengan jarak antara 1.500 hingga 1.700 meter.
Setiap guguran memiliki amplitudo antara 12 hingga 47 mm dengan durasi rata-rata 150 hingga 200 detik.

Data seismik menunjukkan bahwa suplai magma masih aktif — menandakan energi panas di perut Merapi belum selesai bergerak.

“Pemantauan kami menunjukkan suplai magma masih berlangsung dan dapat memicu awan panas guguran di wilayah potensi bahaya,” kata Agus.

Status Siaga, Ancaman Nyata di Lereng Barat Daya

Hingga kini, BPPTKG mempertahankan status Gunung Merapi pada Level III (Siaga).
Potensi guguran lava dan awan panas diprediksi berdampak pada sektor selatan-barat daya, mencakup:

  • Sungai Boyong (maksimal 5 km),
  • Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng (maksimal 7 km).

Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya meliputi:

  • Sungai Woro (maksimal 3 km),
  • Sungai Gendol (maksimal 5 km).

Material vulkanik dapat terlontar hingga radius 3 kilometer dari puncak, menimbulkan ancaman serius terutama saat hujan turun dan memicu lahar dingin.

Warga Diminta Waspada, Bukan Panik

BPPTKG mengimbau warga di sekitar lereng Merapi untuk tetap waspada.
Aktivitas vulkanik yang meningkat bukan hal baru, namun setiap perubahan cuaca dapat memperbesar risiko.

“Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar dan awan panas guguran, terutama saat hujan di seputar Merapi,” tutup Agus.

Merapi, seperti biasa, tidak pernah benar-benar tidur. Ia hanya menunggu waktu untuk kembali berbicara dengan bahasa yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang hidup di kaki gunung itu.Masing-masing memiliki amplitudo antara 12 mm hingga 47 mm, dengan durasi rata-rata 150 hingga 200 detik.

Data seismik menunjukkan bahwa suplai magma masih aktif menandakan energi panas di perut Merapi belum selesai bergerak.

“Pemantauan kami menunjukkan suplai magma masih berlangsung dan dapat memicu awan panas guguran di wilayah potensi bahaya,” kata Agus.

Status Siaga, Ancaman Nyata di Lereng Barat Daya

Hingga kini, BPPTKG mempertahankan status Gunung Merapi pada Level III (Siaga).
Potensi guguran lava dan awan panas diprediksi berdampak pada sektor selatan-barat daya, mencakup:

  • Sungai Boyong (maksimal 5 km),
  • Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng (maksimal 7 km).

Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya meliputi:

  • Sungai Woro (maksimal 3 km),
  • Sungai Gendol (maksimal 5 km).

Lontaran material vulkanik juga bisa menjangkau radius 3 kilometer dari puncak — ancaman yang tak bisa dianggap sepele, terutama saat hujan turun dan memicu lahar dingin.

Warga Diminta Waspada, Bukan Panik

BPPTKG mengimbau warga di sekitar lereng Merapi untuk tetap waspada.
Aktivitas vulkanik yang meningkat bukan hal baru, namun setiap perubahan cuaca dapat memperbesar risiko.

“Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar dan awan panas guguran, terutama saat hujan di seputar Merapi,” tutup Agus.

Merapi, seperti biasa, tidak pernah benar-benar tidur. Ia hanya menunggu waktu untuk kembali berbicara dengan bahasa yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang hidup di kaki gunung itu. @jeje

Kamu Melewatkan Ini

Lagu “Sumbang” dan Negeri yang Tak Pernah Selesai dengan Politik

Lagu “Sumbang” dan Negeri yang Tak Pernah Selesai dengan Politik

by eko
Mei 14, 2026

Lagu “Sumbang” karya Iwan Fals bukan sekadar nostalgia musik lawas era 1980-an. Di balik liriknya, Iwan Fals menumpahkan kemarahan terhadap...

Anak Muda Melawan Juri: Mengapa Pendidikan Kita Masih Sulit Menerima Kritik?

Anak Muda Melawan Juri: Mengapa Pendidikan Kita Masih Sulit Menerima Kritik?

by teguh
Mei 14, 2026

Di sebuah ruang lomba yang semestinya merayakan pengetahuan, suara keberatan seorang siswa justru memecah suasana. dan langsung menggambarkan bahwa Pendidikan...

VOC Runtuh karena Korupsi, Kenapa Indonesia Mengulang Pola yang Sama?

VOC Runtuh karena Korupsi, Kenapa Indonesia Mengulang Pola yang Sama?

by dimas
Mei 13, 2026

VOC runtuh karena korupsi besar, penggelapan uang, dan permainan elite kekuasaan. Dua abad berlalu, Indonesia masih menghadapi pola lama jabatan...

Next Post
Setelah Merapi, Semeru Ikut Merintih: Erupsi Delapan Kali Mengoyak Jawa

Setelah Merapi, Semeru Ikut Merintih: Erupsi Delapan Kali Mengoyak Jawa

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026

Film Pesta Babi Kembali Dibubarkan, Kini Terjadi di Ternate

Mei 10, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id