Tabooo.id: Global – Dini hari di Amerika Serikat, layar berita memantulkan kabar ketegangan baru di Timur Tengah. Publik menatap ke arah Gedung Putih dan Moskow, sementara suara adzan politik dalam bentuk alarm global menggema di kepala warga sipil. Hanya satu dari empat warga AS mendukung serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Fakta itu terungkap dari jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dirilis Minggu (1/3/2026).
Dalam survei daring yang melibatkan 1.282 orang dewasa dengan margin kesalahan tiga persen, hanya 27 persen responden menyatakan setuju dengan serangan tersebut. Sementara itu, 43 persen menolak, dan 29 persen menyatakan ragu. Hampir sembilan dari sepuluh warga mengaku mengetahui sedikit atau banyak tentang serangan yang dimulai Sabtu (28/2/2026).
Trump Dianggap Terlalu Agresif, Publik Memperhitungkan Risiko
Jajak pendapat ini juga menyoroti persepsi publik terhadap gaya kepemimpinan Presiden Donald Trump. Sebanyak 56 persen menilai Trump terlalu mudah menggunakan kekuatan militer demi kepentingan AS. Pendapat ini dominan di kalangan Demokrat (87 persen), namun tetap diamini oleh 23 persen pendukung Republik dan 60 persen responden independen.
Beberapa bulan terakhir, Trump memerintahkan operasi militer di Venezuela, Suriah, dan Nigeria. Akibatnya, tingkat persetujuan publik terhadap kinerjanya turun tipis menjadi 39 persen. Operasi ini juga menelan korban: empat anggota militer AS tewas, tiga jet tempur jatuh, dan Iran melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone ke Israel serta basis militer AS di kawasan.
Dukungan publik ternyata sangat situasional. Sekitar 45 persen responden mengaku bakal menarik dukungan jika konflik ini mendorong harga bensin atau minyak melonjak. Brent saat ini naik 10 persen ke level 80 dollar AS per barel, dan analis memprediksi harga bisa menembus 100 dollar AS jika konflik berlanjut. Dari sisi militer, 42 persen pendukung Republik menyatakan bakal mundur dukungan jika pasukan AS di Timur Tengah terluka atau tewas.
Ketegangan Nuklir dan Peluang Diplomasi
Serangan ini muncul setelah negosiasi AS-Iran gagal membuahkan kesepakatan soal program nuklir Teheran. Washington menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium karena kekhawatiran bom nuklir, sementara Teheran menegaskan programnya hanya untuk pembangkit listrik. Menariknya, separuh responden menyatakan mereka lebih mendukung serangan jika itu bisa menghentikan program nuklir Iran.
Di tengah situasi ini, Trump membuka celah diplomasi. Dalam wawancara dengan The Atlantic, ia menyebut pemimpin baru Iran ingin berdialog:
“Kepemimpinan baru Iran ingin berbicara dengan saya, dan saya setuju,” ujarnya.
Isyarat ini memberi secercah harapan bahwa ketegangan bisa mereda tanpa eskalasi lebih lanjut.
Dampak Langsung ke Publik dan Ekonomi
Kenyataannya, warga Amerika menjadi pihak yang paling terdampak. Harga energi naik, risiko keselamatan pasukan meningkat, dan ketidakpastian geopolitik mengguncang kehidupan sehari-hari. Sebagian masyarakat mulai mempertanyakan keputusan militer Trump yang agresif, sambil menghitung potensi biaya ekonomi dan korban jiwa di lini depan.
Analisis ini menegaskan ironi politik negara yang mengklaim membela demokrasi, justru memaksa warga menanggung risiko perang sambil menatap papan harga minyak. Dukungan publik bisa berubah seketika saat ekonomi terguncang atau laporan korban militer meningkat.
Tabooo Mengamati: Publik Antara Dukungan dan Keraguan
Tabooo melihat situasi ini sebagai cermin dilema politik global. Trump menegaskan kekuatan, tapi opini publik membatasi ruang gerak militer. Setiap langkah militer, setiap keputusan agresif, selalu dibayar oleh warga sipil bukan elit di kursi eksekutif. Ironisnya, konflik ini seakan menjadi tontonan publik, sementara efek nyata bagi rakyat sering terlupakan.
Ketika survei menunjukkan keraguan dan penolakan mayoritas warga AS, pertanyaannya tersisa apakah kepemimpinan akan mendengar suara rakyat, atau konflik akan terus berlanjut demi strategi politik semata?
Ramadhan 2026 ini tidak hanya menguji kesabaran spiritual, tetapi juga kesadaran publik akan harga keputusan politik dari meja presiden hingga pom bensin terdekat. @dimas





