Tabooo.id: Global – Usulan Indonesia memperluas SEA Games dengan mengundang negara di luar Asia Tenggara, termasuk Australia dan Selandia Baru, menimbulkan kritik dari Malaysia. Rencana ini, yang disebut “SEA Games Plus”, bisa mengubah karakter ajang olahraga dua tahunan yang telah dibangun puluhan tahun. Kekhawatiran muncul karena konsep tersebut belum dibahas secara menyeluruh di tingkat regional.
NOC Indonesia Dorong SEA Games Lebih Luas
Komite Olimpiade Indonesia (NOC) menargetkan SEA Games diikuti lebih banyak negara. Ketua NOC Indonesia, Raja Sapta Oktohari, menyatakan pihaknya aktif menjalin komunikasi dengan beberapa negara untuk memperluas cakupan kompetisi.
“Selain 11 negara Asia Tenggara, Bhutan serta beberapa negara Oseania seperti Selandia Baru, Australia, dan Fiji dapat ambil bagian,” ujar Raja Sapta Oktohari pada 25 Desember 2025 di kantor pusat NOC.
Jika rencana ini mendapat persetujuan, Filipina akan menjadi tuan rumah SEA Games Plus pertama pada 2028, setahun setelah SEA Games ke-34 di Malaysia. Kompetisi ini akan digelar terpisah dari SEA Games dua tahunan yang sudah ada.
Malaysia Khawatir Ambisi Indonesia Terlalu Cepat
Pengamat olahraga Malaysia, Pekan Ramli, menyatakan skeptisisme terhadap rencana Indonesia. Ia menekankan bahwa negara-negara Asia Tenggara baru saja mencapai konsensus soal struktur SEA Games, termasuk prioritas cabang olahraga berstandar Olimpiade.
“Jika idenya hanya memperbesar ajang tanpa tujuan pengembangan yang jelas, itu akan menimbulkan kebingungan,” ujar Pekan.
Ia menambahkan, fokus seharusnya tetap pada penyelenggaraan SEA Games yang ada, terutama SEA Games 2027 di Malaysia, yang harus dijalankan secara kredibel.
Pekan juga menyoroti risiko kesenjangan kompetitif. Menurutnya, mengundang negara kaya dan kuat seperti Australia atau Selandia Baru terlalu cepat dapat membuat dominasi hanya terjadi di beberapa cabang olahraga.
“SEA Games adalah milik semua 11 negara. Indonesia boleh mengusulkan, tetapi ASEAN harus membuat keputusan secara kolektif,” tambahnya.
Potensi Dampak bagi Penonton dan Ekonomi Lokal
Mengundang Australia dan Selandia Baru berpotensi meningkatkan daya tarik ajang dan minat penonton. Namun, beberapa edisi terakhir SEA Games menunjukkan penurunan jumlah penonton arena di Thailand bahkan tampak sepi. Hal ini memunculkan kekhawatiran bahwa ajang perlahan kehilangan relevansi di mata publik.
Selain itu, perubahan struktur kompetisi menimbulkan risiko ekonomi dan logistik bagi masyarakat dan penyelenggara lokal. Negara tuan rumah harus menanggung biaya tambahan, sementara tim kecil menghadapi tantangan pendanaan dan persiapan.
Ambisi Indonesia vs Realitas Regional
Gagasan SEA Games Plus mencerminkan ambisi Indonesia memperluas pengaruh olahraga regional. Namun, langkah ini memicu perdebatan soal identitas, kesetaraan, dan kesiapan kawasan. Dalam politik olahraga internasional, ambisi sering bertabrakan dengan realitas lokal.
Bagi masyarakat Asia Tenggara, perubahan simbolik ini terasa jauh dari kebutuhan sehari-hari mereka, yang tetap menuntut ajang olahraga yang adil, kredibel, dan sesuai kapasitas masing-masing negara.as masing-masing negara. @dimas




