Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Malaysia Ingin Bangun Jembatan ke Indonesia, Duitnya Siapa?

by teguh
Desember 23, 2025
in Global
A A
Home Reality Global
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Global – Pemerintah negara bagian Malaka kembali bikin geger. Kali ini bukan soal pariwisata atau sejarah kolonial, melainkan rencana membangun jembatan superpanjang yang menghubungkan Malaka dengan Indonesia, tepatnya ke Provinsi Riau. Panjangnya bukan main: lebih dari 47 kilometer, melintasi Selat Malaka.

Rencana ini mencuat pekan lalu setelah Ketua Menteri Melaka, Ab Rauf Yusoh, mengumumkan proyek tersebut ke publik. Pemerintah negara bagian bahkan sudah bersiap memulai studi awal pada Januari mendatang, dengan menggelontorkan dana RM500.000 atau sekitar Rp2 miliar untuk menyewa konsultan. Tugasnya jelas mengkaji aspek teknis, ekonomi, dan logistik dari proyek raksasa ini.

Janji Ekonomi dan Kawasan Industri Baru

Ab Rauf menegaskan jembatan ini bakal mendongkrak ekonomi Malaka secara signifikan. Ia mengklaim proyek tersebut akan membuka peluang besar bagi investasi lintas negara. Pemerintah negara bagian, kata dia, bahkan berencana mengonversi sekitar 5.000 hektar lahan di Masjid Tanah menjadi kawasan industri baru.

Dalam narasi pemerintah, jembatan ini bukan sekadar penghubung fisik, tetapi simbol integrasi ekonomi regional antara Malaysia dan Indonesia. Logistik dipercepat, arus barang dipangkas, dan Malaka diposisikan sebagai simpul baru perdagangan Selat Malaka.

Singkatnya Malaka ingin naik kelas.

Ini Belum Selesai

Bahasa Prancis Wajib di Sekolah? Saat Diplomasi Masuk ke Ruang Kelas

Amerika Serikat Serang Iran Lagi: Perdamaian Tinggal Formalitas?

Oposisi Angkat Alis: Duit dari Mana?

Namun euforia ini tak sepenuhnya disambut tepuk tangan. Pemimpin oposisi Melaka, Dr. Yadzil Yaakub, justru langsung menekan rem. Mengutip Free Malaysia Today, Yadzil mempertanyakan tujuan sekaligus kelayakan finansial proyek tersebut.

Menurutnya, Malaka bukan negara bagian dengan kas tebal. Pendapatan tahunan pemerintah negara bagian terbatas dan sebagian besar habis untuk belanja operasional. Di sisi lain, Malaka masih menanggung utang, termasuk kepada pemerintah federal di Putrajaya.

“Kalau utang lama saja belum beres, bagaimana pemerintah negara bagian bisa meyakinkan rakyat bahwa mereka mampu mengelola utang baru bernilai miliaran ringgit?” kata Yadzil.

Ia juga menyoroti ketergantungan Malaka pada bantuan pemerintah federal. Jika perbaikan jalan saja butuh suntikan dana pusat, Yadzil menilai sulit membayangkan proyek jembatan lintas Selat Malaka bisa berdiri tanpa sokongan besar dari Putrajaya.

Masalahnya, lanjut Yadzil, kondisi fiskal Malaysia saat ini juga sedang tertekan. Utang nasional naik, ruang belanja menyempit, dan prioritas anggaran makin ketat.

Siapa Untung, Siapa Menanggung Risiko?

Yadzil juga mengkritik skema pembiayaan alternatif seperti konsesi swasta. Menurutnya, opsi ini hampir pasti melahirkan tarif tol mahal. Lebih jauh, ia menilai wilayah Indonesia yang akan terhubung bukan pusat ekonomi utama, sehingga potensi arus kendaraan dan barang relatif kecil.

Jika trafik rendah, investor merugi. Jika konsesi gagal, pemerintah harus turun tangan menyelamatkan proyek dengan dana publik.

“Dalam semua skenario, rakyat yang akhirnya jadi korban,” tegasnya.

Tak berhenti di situ, Yadzil ikut menyinggung dampak lingkungan. Ia mengingatkan bahwa proyek sebesar ini berisiko mengubah garis pantai dan ekosistem Selat Malaka. Rekam jejak pemerintah negara bagian dalam proyek-proyek besar yang berujung mangkrak juga ia jadikan alarm tambahan.

Antara Mimpi Besar dan Realitas Anggaran

Di atas kertas, jembatan Malaka–Indonesia terdengar visioner. Integrasi regional, pertumbuhan industri, dan simbol kemajuan Asia Tenggara. Namun di lapangan, pertanyaan klasik kembali muncul siapa yang membayar, siapa yang menikmati, dan siapa yang menanggung risikonya?

Jika proyek ini sukses, pemerintah negara bagian dan pelaku industri jelas diuntungkan. Tetapi jika gagal, beban utang dan dampak lingkungan kemungkinan besar jatuh ke pundak warga.

Di Selat Malaka, jarak dua negara mungkin hanya puluhan kilometer. Tapi jarak antara ambisi politik dan realitas keuangan sering kali jauh lebih panjang. @teguh

Tags: anggaranJembatanlahanLogistikMalaysiaNasionalproyekSelat

Kamu Melewatkan Ini

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

by teguh
Juni 9, 2026

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian membuka kembali perdebatan lama tentang hubungan politik dan birokrasi daerah. Dalam rapat bersama Komisi II...

Buku yang Menulis Indonesia Sebelum Indonesia Lahir

Buku yang Menulis Indonesia Sebelum Indonesia Lahir

by jeje
Juni 2, 2026

Bagaimana mungkin seseorang menulis tentang Indonesia sebelum Indonesia benar-benar ada? Pertanyaan itu muncul ketika membaca Naar de Republiek Indonesia, karya Tan...

BPIP Undang Semua Mantan Presiden ke Hari Lahir Pancasila, Siapa yang Datang?

BPIP Undang Semua Mantan Presiden ke Hari Lahir Pancasila, Siapa yang Datang?

by teguh
Mei 29, 2026

Hari Lahir Pancasila tahun ini terasa lebih dari sekadar seremoni negara. Di tengah dinamika politik nasional, publik mulai bertanya: siapa...

Next Post
Menang Gugatan Tambang, BUMA Tegaskan Posisi di Peta Bisnis Global

Menang Gugatan Tambang, BUMA Tegaskan Posisi di Peta Bisnis Global

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id