Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Makna Tumpeng Sewu dalam Malem Selikuran: Doa, Tradisi, dan Seribu Bulan

by dimas
Maret 11, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Malam di Solo sering terasa seperti panggung waktu. Lampu kota meredup, udara ramadhan sedikit basah oleh gerimis, lalu dari balik tembok tua karaton, bunyi gamelan perlahan mengalir ke jalanan. Karena itu, suasana kota mendadak berubah.

Di momen seperti itu, ribuan orang berjalan pelan. Mereka tidak berbaris untuk demonstrasi. Mereka juga tidak mengikuti parade modern. Sebaliknya, mereka menyusuri jalan dengan langkah tenang untuk mengikuti sebuah tradisi lama Kirab Tumpeng Sewu Malem Selikuran.

Tradisi ini tumbuh dari jantung budaya Jawa. Tepatnya dari Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, salah satu pusat kebudayaan yang hingga kini masih menjaga ritme tradisi di tengah dunia yang semakin digital.

Senin malam (9/3/2026), kirab itu kembali berlangsung. Ratusan orang mulai dari keluarga karaton, kerabat, hingga Abdi Dalem berjalan bersama dari kawasan Sitinggil Lor menuju Taman Sriwedari. Sementara itu, warga berdiri di tepi jalan dan menyaksikan iring-iringan tersebut dengan penuh rasa ingin tahu.

Sepanjang perjalanan, suasana terasa seperti adegan film sejarah yang hidup. Gamelan berdentang pelan, lalu tembang Jawa mengalun lirih. Selain itu, para Abdi Dalem tampil dengan busana tradisional lengkap. Sebagian membawa lentera kecil atau lampu ting, sedangkan yang lain memanggul jodang, kotak kayu berisi makanan yang tertata rapi.

Ini Belum Selesai

Ketika Pusaka Harus Pergi: Warisan Keluarga Memilih Menjadi Sejarah

Pimpin Pawai, Respati Berubah Jadi Demang

Langkah mereka tetap tenang. Bahkan mereka berjalan sangat pelan. Dengan ritme seperti itu, waktu seolah ikut melambat.

Saat Tradisi Bertemu Simbol Lailatul Qadar

Namun Malem Selikuran bukan sekadar tradisi karaton. Tradisi ini juga menyimpan simbol spiritual yang kuat dalam budaya Islam Jawa.

Masyarakat Jawa sejak lama mengaitkan malam ke-21 ramadhan dengan kemungkinan datangnya Lailatul Qadar malam yang dalam ajaran Islam disebut lebih baik daripada seribu bulan.

Karena itulah muncul simbol Tumpeng Sewu. Seribu tumpeng kecil menjadi pusat kirab tersebut.

Pada kirab tahun ini, rombongan membawa 40 jodang. Setiap jodang memuat 25 tumpeng kecil dari nasi gurih. Jika dijumlahkan, jumlahnya tepat 1.000 tumpeng. Angka ini tentu bukan kebetulan. Sebaliknya, angka itu sengaja dipilih untuk menggambarkan makna “seribu bulan”, simbol spiritual yang melekat pada malam Lailatul Qadar.

Sejak masa raja-raja Surakarta, karaton telah menjalankan tradisi ini sebagai bagian dari HajadDalem. Hingga sekarang, karaton tetap menjaga ritual tersebut. Saat ini, tradisi itu berlangsung di bawah kepemimpinan SISKS Pakoe Boewono XIV.

Dengan demikian, kirab ini bukan hanya perjalanan dari karaton menuju taman kota. Kirab ini juga menjadi perjalanan simbolik antara masa lalu dan masa kini.

Solo, Kota yang Masih Mau Berjalan Pelan

Di banyak kota besar, orang berlomba bergerak cepat. Namun Solo justru terlihat nyaman berjalan pelan. Karena itu, tradisi seperti Malem Selikuran terasa sangat cocok dengan karakter kota ini.

Budaya di Solo tidak hanya tinggal di museum. Sebaliknya, budaya itu berjalan langsung di jalan raya.

Ketika rombongan kirab bergerak menuju Taman Sriwedari, warga mulai memenuhi sepanjang rute perjalanan. Sebagian warga memotret, sebagian lainnya merekam video, sementara beberapa orang hanya berdiri sambil menikmati suasana.

Selain warga lokal, wisatawan juga ikut berdatangan. Mereka penasaran dengan tradisi yang jarang muncul di kota lain.

Akhirnya rombongan tiba di Sriwedari. Di tempat itu, kirab mencapai puncaknya. Para Abdi Dalem kemudian membagikan seribu tumpeng kecil kepada masyarakat.

Warga langsung merapat. Mereka berebut dengan riang. Namun mereka tidak sekadar mencari makanan. Sebaliknya, banyak orang percaya bahwa tumpeng tersebut membawa berkah.

Karena itu, di titik inilah ritual karaton berubah menjadi pesta rakyat.

Tradisi di Tengah Zaman Instagram

Menariknya, Malem Selikuran kini tidak hanya hidup di jalanan Solo. Tradisi ini juga hidup di media sosial.

Foto barisan lampu ting sering muncul di Instagram. Video kirab juga cepat menyebar di TikTok. Bahkan momen pembagian tumpeng sering viral di Twitter.

Dulu, hanya warga Solo yang menyaksikan tradisi ini. Sekarang, siapa pun bisa melihatnya melalui layar ponsel.

Namun di situlah letak paradoksnya.

Di tengah dunia yang bergerak sangat cepat, Malem Selikuran justru mengingatkan sesuatu yang sederhana hidup tidak harus selalu tergesa.

Kirab ini mengajarkan kesabaran. Orang berjalan pelan, mendengar gamelan, lalu merasakan suasana malam dengan tenang. Karena itu, tradisi ini terasa seperti jeda kecil di tengah hiruk pikuk zaman digital.

Tradisi yang Menolak Punah

Bagi Karaton Surakarta, tradisi ini bukan sekadar acara tahunan. Karaton menjalankan ritual ini sebagai cara merawat ingatan budaya. Selama ratusan tahun, generasi demi generasi terus mengulang tradisi yang sama.

Selain itu, karaton juga membuka ruang bagi masyarakat luas untuk ikut merasakan pengalaman budaya tersebut. Wisatawan, peneliti, hingga warga biasa dapat datang, melihat, dan menikmati suasana spiritual yang jarang muncul di kehidupan modern.

Mungkin karena itulah Malem Selikuran selalu terasa istimewa.

Tradisi ini bukan sekadar perayaan ramadhan. Tradisi ini juga menjadi pengingat bahwa sejarah tidak pernah benar-benar pergi.

Ia hanya berjalan pelan di jalanan kota.

Ia membawa lampu kecil di tangan.

Dan ia menunggu kita berhenti sejenak untuk melihatnya.

Pada akhirnya, ketika gamelan kembali mengalun dan seribu tumpeng berpindah ke tangan warga, kita menyadari satu hal sederhana:

kadang-kadang, tradisi bukan tentang masa lalu.

Ia adalah cara sebuah kota menjaga jiwanya tetap hidup. @dimas

Tags: BudayaJawakirabKraton SurakartaMaknaNusantaraPB XIVPesonaRamadhanSolo

Kamu Melewatkan Ini

Tradisi Tidak Cukup Dikenang, Siapa yang Akan Menjaganya?

Tradisi Tidak Cukup Dikenang, Siapa yang Akan Menjaganya?

by eko
Agustus 22, 2026

Tradisi tidak cukup hanya dikenang. Regenerasi menjadi kunci agar budaya tetap hidup dan selalu memiliki generasi yang siap menjaganya. Tabooo.id...

Rajamala: Dari Canthik ke Ikon Solo

Rajamala: Dari Canthik ke Ikon Solo

by eko
Agustus 21, 2026

Rajamala menempuh perjalanan dari Canthik hingga menjadi ikon Solo. Namun, seberapa jauh masyarakat memahami cerita dan makna di balik wajah...

Pawai Pembangunan Solo Digelar, Lingkungan Jadi Pesan Utama

Pawai Pembangunan Solo Digelar, Lingkungan Jadi Pesan Utama

by eko
Agustus 21, 2026

45 peserta meriahkan Pawai Pembangunan Solo 2026 dari Perempatan Gendengan menuju depan Bank Indonesia Solo dengan tema Sayangi Semesta, Hidup...

Next Post
Makam Ki Ageng Balak: Antara Doa, Berkah, dan Keyakinan

Makam Ki Ageng Balak: Antara Doa, Berkah, dan Keyakinan

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id