• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Kamis, Maret 26, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Entertainment

Makna Lagu “Bertaut”: Sok Dewasa, Tetap Ingin Pulang ke Ibu

Februari 13, 2026
in Entertainment, Musik
A A
Makna dibalik lagu bertaut

Nadi Amizah pelantun lagu Bertaut.(Foto:Istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Entertainment – Pernah merasa sudah besar, sudah kuat, sudah mandiri tapi tetap ingin pulang? “Itulah Bertaut” mungkin terdengar seperti jawaban klise. Namun lagu ini bekerja dengan cara yang sunyi. Ia terdengar lembut, tetapi diam-diam menampar pelan. Alih-alih berteriak, Nadin Amizah memilih berbisik dan justru di situlah kekuatannya.

Sejak dirilis dalam album Selamat Ulang Tahun (2020), karya ini menjelma lebih dari sekadar track di daftar putar. Banyak orang memutarnya saat Hari Ibu. Sebagian lain menjadikannya latar video wisuda. Di kamar-kamar kos yang sepi, lagu ini kerap menemani malam yang terasa terlalu panjang.

Fakta di Balik “Bertaut”

Liriknya berbicara tentang anak dan ibu tentang jarak, pertumbuhan, serta kesadaran bahwa sejauh apa pun langkah pergi, satu tangan tetap menggenggam secara tak terlihat.

Bun, hidup berjalan seperti bajingan kutipan itu terdengar kasar, tetapi justru di situlah letak ketulusannya. Hidup memang sering tidak ramah. Ketika tekanan datang bertubi-tubi, ingatan kita spontan kembali pada rumah pertama: pelukan ibu.

Secara musikal, aransemen lagu ini sederhana. Instrumen mengalun tanpa banyak distraksi. Vokal Nadin terdengar rapuh namun terkontrol, seolah ia menyampaikan curahan hati secara langsung. Tanpa perlu klimaks dramatis, suasana intim tetap terjaga dari awal hingga akhir.

Kedewasaan yang Kita Bangun Sendiri

Makna “Bertaut” melampaui hubungan ibu dan anak lagu ini menyentuh ilusi kedewasaan yang sering kita banggakan. Kita mengejar karier dengan ambisi. Di media sosial, kita menampilkan versi paling tangguh dari diri sendiri. Dalam pergaulan, kita berusaha terlihat stabil dan rasional. Namun saat rapuh menghampiri, satu nama tetap muncul paling dulu.

Di titik itu, semua pencapaian terasa mengecil. Jabatan tidak lagi penting. Pujian tak lagi relevan. Yang kita butuhkan hanya rasa aman yang dulu pernah ada.

Melalui “Bertaut”, Nadin tidak menggurui. Ia sekadar menunjukkan bahwa kebutuhan emosional tidak hilang hanya karena usia bertambah. Justru semakin dewasa, kita semakin sadar betapa besar peran orang tua dalam membentuk fondasi diri.

RelatedPosts

Dilan ITB 1997: Antara Nostalgia dan Realita yang Nyelekit

Riot Games Rilis Miks, Agent Valorant yang Membawa Beat ke Medan Tempur

Di Tengah Narasi Self-Made

Generasi sekarang gemar membicarakan healing, trauma, dan batasan personal. Itu wajar. Namun budaya populer juga memuja konsep self-made success, seolah-olah seseorang bisa berdiri sepenuhnya sendiri.

Faktanya, tidak ada perjalanan yang benar-benar soliter. Nilai hidup terbentuk dari rumah. Keberanian tumbuh dari dukungan awal. Bahkan kegagalan pertama pun biasanya disambut oleh tangan yang sama.

Ironisnya, kesadaran itu sering datang terlambat. Kita sibuk membuktikan diri pada dunia, tetapi lupa mengapresiasi orang yang pertama kali percaya pada kita.

“Bertaut” mengajak kita berhenti sejenak. Lagu ini tidak memaksa air mata, melainkan memancing refleksi. Ia berbicara tentang hubungan yang kompleks—kadang hangat, kadang penuh luka tanpa menyederhanakan realitas.

Akar yang Tak Pernah Pergi

Pada akhirnya, Nadin Amizah berhasil mengubah pengalaman pribadinya menjadi cermin bersama. Cerita yang intim terasa relevan bagi banyak orang.

Kita boleh merantau sejauh mungkin. Kita bebas membangun mimpi setinggi langit. Meski demikian, akar tetap tertanam di tempat yang sama.

Jadi, kapan terakhir kali kamu menghubungi ibu tanpa alasan khusus? Bukan karena butuh sesuatu, melainkan karena ingin mengucap terima kasih.

Mungkin kita memang harus belajar berdiri sendiri. Namun sesekali, mengakui bahwa kita masih ingin bertaut justru menunjukkan bahwa kita tidak lupa asal-usul kita. @eko

Tags: Bertautibukupas laguLagulagu enakmakna laguNadin Amizah
Next Post
The Mummy 4 Siap, Guncang Box Office 2028

The Mummy 4 Siap, Guncang Box Office 2028

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Satu iPhone, Satu Bisnis: Apple Siap Ubah Cara Orang Indonesia Cari Uang

    Satu iPhone, Satu Bisnis: Apple Siap Ubah Cara Orang Indonesia Cari Uang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bersua Sang Raja: No Jeans, No Kaos

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bersua Sang Raja: Silaturahmi atau Ujian Etika?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bersua Sang Raja: Momen Langka Warga Bisa Bertatap Langsung dengan Raja Surakarta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OnePlus 15T Rilis: Baterai 7.500 mAh, HP Tahan 40 Jam Nonstop

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.