Tabooo.id: Entertainment – Pernah merasa sudah besar, sudah kuat, sudah mandiri tapi tetap ingin pulang? “Itulah Bertaut” mungkin terdengar seperti jawaban klise. Namun lagu ini bekerja dengan cara yang sunyi. Ia terdengar lembut, tetapi diam-diam menampar pelan. Alih-alih berteriak, Nadin Amizah memilih berbisik dan justru di situlah kekuatannya.
Sejak dirilis dalam album Selamat Ulang Tahun (2020), karya ini menjelma lebih dari sekadar track di daftar putar. Banyak orang memutarnya saat Hari Ibu. Sebagian lain menjadikannya latar video wisuda. Di kamar-kamar kos yang sepi, lagu ini kerap menemani malam yang terasa terlalu panjang.
Fakta di Balik “Bertaut”
Liriknya berbicara tentang anak dan ibu tentang jarak, pertumbuhan, serta kesadaran bahwa sejauh apa pun langkah pergi, satu tangan tetap menggenggam secara tak terlihat.
Bun, hidup berjalan seperti bajingan kutipan itu terdengar kasar, tetapi justru di situlah letak ketulusannya. Hidup memang sering tidak ramah. Ketika tekanan datang bertubi-tubi, ingatan kita spontan kembali pada rumah pertama: pelukan ibu.
Secara musikal, aransemen lagu ini sederhana. Instrumen mengalun tanpa banyak distraksi. Vokal Nadin terdengar rapuh namun terkontrol, seolah ia menyampaikan curahan hati secara langsung. Tanpa perlu klimaks dramatis, suasana intim tetap terjaga dari awal hingga akhir.
Kedewasaan yang Kita Bangun Sendiri
Makna “Bertaut” melampaui hubungan ibu dan anak lagu ini menyentuh ilusi kedewasaan yang sering kita banggakan. Kita mengejar karier dengan ambisi. Di media sosial, kita menampilkan versi paling tangguh dari diri sendiri. Dalam pergaulan, kita berusaha terlihat stabil dan rasional. Namun saat rapuh menghampiri, satu nama tetap muncul paling dulu.
Di titik itu, semua pencapaian terasa mengecil. Jabatan tidak lagi penting. Pujian tak lagi relevan. Yang kita butuhkan hanya rasa aman yang dulu pernah ada.
Melalui “Bertaut”, Nadin tidak menggurui. Ia sekadar menunjukkan bahwa kebutuhan emosional tidak hilang hanya karena usia bertambah. Justru semakin dewasa, kita semakin sadar betapa besar peran orang tua dalam membentuk fondasi diri.
Di Tengah Narasi Self-Made
Generasi sekarang gemar membicarakan healing, trauma, dan batasan personal. Itu wajar. Namun budaya populer juga memuja konsep self-made success, seolah-olah seseorang bisa berdiri sepenuhnya sendiri.
Faktanya, tidak ada perjalanan yang benar-benar soliter. Nilai hidup terbentuk dari rumah. Keberanian tumbuh dari dukungan awal. Bahkan kegagalan pertama pun biasanya disambut oleh tangan yang sama.
Ironisnya, kesadaran itu sering datang terlambat. Kita sibuk membuktikan diri pada dunia, tetapi lupa mengapresiasi orang yang pertama kali percaya pada kita.
“Bertaut” mengajak kita berhenti sejenak. Lagu ini tidak memaksa air mata, melainkan memancing refleksi. Ia berbicara tentang hubungan yang kompleks—kadang hangat, kadang penuh luka tanpa menyederhanakan realitas.
Akar yang Tak Pernah Pergi
Pada akhirnya, Nadin Amizah berhasil mengubah pengalaman pribadinya menjadi cermin bersama. Cerita yang intim terasa relevan bagi banyak orang.
Kita boleh merantau sejauh mungkin. Kita bebas membangun mimpi setinggi langit. Meski demikian, akar tetap tertanam di tempat yang sama.
Jadi, kapan terakhir kali kamu menghubungi ibu tanpa alasan khusus? Bukan karena butuh sesuatu, melainkan karena ingin mengucap terima kasih.
Mungkin kita memang harus belajar berdiri sendiri. Namun sesekali, mengakui bahwa kita masih ingin bertaut justru menunjukkan bahwa kita tidak lupa asal-usul kita. @eko




