Sabtu, Oktober 31, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Mahasewa: Ketika Identitas Mahasiswa Menjadi Barang Sewaan

by dimas
Oktober 31, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on Facebook
Share on Twitter
Fenomena mahasewa mengungkap persoalan komersialisasi identitas mahasiswa, penyalahgunaan almamater, dan krisis integritas dalam membangun dukungan publik.

Tabooo.id – Ada yang lebih penting daripada ramainya sebuah deklarasi siapa yang hadir, atas nama siapa mereka berbicara, dan apakah suara itu benar-benar lahir dari keyakinan sendiri?

Istilah mahasewa belakangan mencuri perhatian publik. Kata ini menggabungkan dua istilah mahasiswa dan sewaan. Sekilas terdengar seperti sindiran. Namun, di balik permainan kata tersebut, tersimpan persoalan serius tentang integritas, identitas akademik, dan kejujuran dalam kehidupan demokrasi.

Perhatian publik mengarah pada deklarasi Sumpah Pemuda di kawasan Bundaran HI, Jakarta, pada 29 Oktober 2026. Acara yang diinisiasi Polda Metro Jaya itu menghadirkan peserta dengan berbagai jaket almamater kampus. Sejumlah tokoh publik, termasuk Utusan Khusus Presiden Raffi Ahmad, turut menghadiri kegiatan tersebut.

Namun, suasana deklarasi berubah menjadi perbincangan setelah seorang peserta mengaku bukan mahasiswa dan menerima bayaran untuk hadir.

Pengakuan itu memunculkan pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar siapa orang tersebut. Siapa yang merekrutnya? Siapa yang menyediakan jaket almamater? Lalu, kepentingan apa yang ingin dibangun melalui kehadiran peserta dalam acara itu?

Ini Belum Selesai

Jaga Warga di Malioboro: Menjaga Ketertiban atau Melampaui Batas?

PPN Pembalut: Ketika Kebutuhan Biologis Perempuan Jadi Objek Pajak

Ketika Almamater Menjadi Kostum

Pengakuan seorang peserta yang mengaku menerima bayaran membuka persoalan tentang penggunaan identitas kampus. Ia mengenakan jaket almamater Universitas Dian Nusantara (Undira), meskipun tidak tercatat sebagai mahasiswa kampus tersebut. Pemberitaan juga menyoroti peserta lain yang mengenakan jaket UBSI.

Kita perlu membedakan fakta dan dugaan. Pengakuan satu orang tidak otomatis membuktikan bahwa seluruh peserta menerima bayaran. Publik juga belum memperoleh penjelasan lengkap mengenai pola perekrutan, sumber dana, maupun pihak yang menyediakan jaket almamater.

Meski begitu, persoalan ini tetap layak mendapat perhatian.

Almamater bukan sekadar pakaian. Lambang kampus membawa identitas, sejarah, dan tanggung jawab akademik. Ketika seseorang mengenakan jaket kampus tanpa hubungan yang jelas, publik bisa salah memahami posisi dan afiliasinya.

Di sinilah persoalan mulai melebar. Sebuah acara mungkin ingin menampilkan dukungan luas. Namun, penyelenggara harus memastikan bahwa setiap peserta hadir secara jujur dan tidak membawa identitas yang menyesatkan.

Sebab, keramaian tidak selalu menunjukkan dukungan yang autentik.

Mahasiswa Bukan Sekadar Pengisi Panggung

Mahasiswa memiliki posisi penting dalam kehidupan demokrasi. Mereka bisa mendukung pemerintah, mengkritik kebijakan, atau mengambil sikap berbeda terhadap persoalan publik.

Perbedaan sikap tersebut justru menunjukkan kehidupan kampus yang sehat. Kampus tidak harus menghasilkan satu suara. Mahasiswa juga tidak wajib mengikuti satu barisan politik.

Namun, publik perlu mengetahui siapa yang sebenarnya berbicara atas nama mahasiswa.

Ketika seseorang mengenakan almamater tanpa status yang jelas, persoalannya bukan lagi soal pilihan politik. Tindakan itu menyentuh kejujuran dalam menyampaikan representasi.

Mahasiswa bukan properti acara. Mereka bukan dekorasi untuk memperbesar jumlah peserta. Mereka juga bukan alat untuk membangun kesan bahwa suatu kegiatan memperoleh dukungan luas.

Jika penyelenggara membutuhkan mahasiswa untuk menyampaikan gagasan, libatkan mereka melalui proses yang terbuka. Berikan ruang bagi mereka untuk menentukan sikap sendiri. Jangan mengubah identitas akademik menjadi atribut panggung.

Jangan Berhenti pada Orang yang Mengaku Dibayar

Publik memang perlu mengkritisi pengakuan peserta yang menerima bayaran. Namun, kita tidak boleh berhenti pada orang yang muncul dalam video viral.

Pertanyaan yang lebih penting justru mengarah kepada pihak di belakangnya.

Siapa yang menghubungi peserta tersebut? Komunitas apa yang merekrutnya? Dari mana sumber pembayaran berasal? Siapa yang memberikan jaket almamater? Apakah penyelenggara mengetahui persoalan tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan itu membutuhkan jawaban yang jelas.

Penyelenggara juga perlu menjelaskan mekanisme perekrutan peserta dan memastikan penggunaan identitas kampus. Polda Metro Jaya sebagai pihak yang menginisiasi deklarasi perlu memberikan keterangan agar publik tidak terus berspekulasi.

Kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa seluruh kegiatan tersebut merupakan rekayasa. Namun, kita juga tidak seharusnya mengabaikan pengakuan peserta yang memicu kontroversi.

Satu pengakuan belum cukup untuk membuktikan seluruh dugaan. Akan tetapi, pengakuan itu cukup kuat untuk mendorong pemeriksaan lebih jauh.

Demokrasi Tidak Membutuhkan Keramaian Palsu

Demokrasi membutuhkan partisipasi. Namun, partisipasi tidak cukup diukur melalui jumlah orang yang memenuhi sebuah lokasi.

Suara publik memiliki nilai ketika seseorang menyampaikan sikap secara sadar. Mereka memahami isu, mengetahui alasan kehadirannya, dan bersedia mempertanggungjawabkan pendapatnya.

Sebaliknya, kehadiran yang hanya mengejar imbalan dapat mengaburkan makna partisipasi. Apalagi jika seseorang membawa identitas institusi yang tidak pernah memberinya mandat.

Di sini, kita perlu melihat persoalan mahasewa secara lebih luas. Fenomena ini bukan semata-mata tentang seseorang yang menerima uang untuk menghadiri acara. Persoalannya menyangkut cara sebagian pihak membangun citra dukungan publik.

Jika penyelenggara lebih mengutamakan jumlah peserta daripada kejujuran representasi, demokrasi berisiko berubah menjadi panggung pencitraan.

Dan jika almamater hanya menjadi kostum untuk memenuhi kebutuhan acara, kampus kehilangan makna sebagai ruang pembentukan nalar kritis.

Sumpah Pemuda dan Pertanyaan tentang Integritas

Peringatan Sumpah Pemuda seharusnya mengingatkan kita pada keberanian generasi muda untuk menyatukan gagasan dan memperjuangkan masa depan bangsa.

Semangat itu tidak lahir dari seragam yang sama. Para pemuda pada 1928 membawa latar belakang, organisasi, dan daerah yang berbeda. Mereka menyatukan kehendak melalui kesadaran bersama.

Karena itu, fenomena mahasewa menghadirkan ironi. Di satu sisi, publik merayakan semangat persatuan pemuda. Di sisi lain, muncul pertanyaan tentang keaslian identitas dan motivasi seseorang dalam sebuah deklarasi.

Mahasiswa tentu berhak menerima dukungan untuk kegiatan akademik maupun sosial. Mereka juga berhak memperoleh imbalan atas pekerjaan yang sah. Namun, persoalan muncul ketika bayaran memengaruhi kejujuran seseorang dalam merepresentasikan identitas dan afiliasinya.

Kita tidak sedang mempermasalahkan siapa yang mendukung pemerintah atau siapa yang memilih mengkritiknya. Kita sedang mempertanyakan kejujuran di balik sebuah representasi.

Sebab, almamater boleh menjadi kebanggaan, tetapi jangan sampai berubah menjadi alat transaksi identitas.

Mahasiswa mungkin bisa menerima bayaran untuk menghadiri sebuah acara. Namun, integritas tidak semestinya ikut masuk dalam daftar harga.

Almamater boleh dikenakan, panggung boleh dipenuhi, tetapi suara mahasiswa harus tetap lahir dari kesadaran, bukan pesanan. @dimas

Tags: Almamater KampusIdentitas MahasiswaIntegritas MahasiswaMahasewaSumpah Pemuda 2026

Kamu Melewatkan Ini

Sumpah Pemuda 2026 di Jogja: Massa Bersatu, Tuntutan Menumpuk

Sumpah Pemuda 2026 di Jogja: Massa Bersatu, Tuntutan Menumpuk

by Waras
Oktober 29, 2026

Demonstrasi tidak selalu dimulai dari satu kemarahan. Terkadang, ia tumbuh dari banyak persoalan yang menumpuk terlalu lama: penghasilan yang tak...

Demo Ada Paket Premium? Rp20 Juta Bisa Ganti Lokasi?

Demo Ada Paket Premium? Rp20 Juta Bisa Ganti Lokasi?

by teguh
Agustus 6, 2026

Dulu mahasiswa turun ke jalan untuk menawar kebijakan. Sekarang publik justru bertanya, apakah ada yang ikut menawar lokasi demonstrasi? Bahkan...

Gerakan Mahasiswa dan Krisis Integritas

Gerakan Mahasiswa dan Krisis Integritas

by teguh
Agustus 5, 2026

Sejak Indonesia merdeka, jalanan selalu menjadi ruang yang tidak pernah benar-benar kosong. Ketika ruang dialog menyempit, Gerakan Mahasiswa memenuhi trotoar,...

Next Post
75.266 Desa Bersinar, Ribuan Tantangan Mengintai: Siapa Mengawasi Programnya?

75.266 Desa Bersinar, Ribuan Tantangan Mengintai: Siapa Mengawasi Programnya?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id