Tabooo.id: Teknologi – Pernah nggak, lagi santai scroll promo liburan sambil mikir, “Lumayan nih diskon hotel dan tiket”, lalu tiba-tiba dapat telepon dari nomor tak dikenal yang mengaku dari bank? Atau pesan WhatsApp dengan nada panik “Ini aku, tolong transfer sekarang, darurat!”
Kalau iya, selamat kamu baru saja masuk ke ekosistem paling rawan penipuan digital sepanjang tahun libur Natal dan Tahun Baru.
Di momen Nataru, transaksi digital naik drastis. Orang belanja, pesan tiket, bayar hotel, transfer uang, dan jarang berpikir panjang. Di saat yang sama, penjahat siber ikut “liburan” bukan ke pantai, tapi ke rekening orang lain.
Uang Liburan Mengalir, Risiko Ikut Membesar
Tahun ini, masyarakat Indonesia diproyeksikan membelanjakan sekitar Rp120 triliun untuk kebutuhan liburan. Angka fantastis itu menjadi ladang subur bagi penipuan digital. Di balik euforia checkout dan notifikasi pembayaran, kerugian besar mengintai.
Data dari penyedia layanan identitas digital VIDA menunjukkan fakta mencengangkan Rp8,2 triliun uang masyarakat hilang akibat penipuan dalam setahun terakhir. Lebih parah lagi, hanya 4,76 persen dana korban yang berhasil diselamatkan.
Sementara itu, Indonesia Anti-Scam Center (IASC) mencatat lebih dari 373 ribu laporan penipuan sejak November 2024 hingga November 2025. Artinya, hampir 874 orang tertipu setiap hari. Dari ratusan ribu rekening bermasalah, hanya sebagian kecil yang berhasil diblokir. Sisanya? Sudah keburu “jalan-jalan” lintas rekening.
Kenapa Liburan Jadi Momen Favorit Penipu?
Liburan menciptakan kondisi ideal bagi penjahat siber. Orang cenderung lengah, sibuk, dan terburu-buru. Fokus terpecah antara rencana mudik, agenda liburan, dan urusan keluarga. Dalam situasi seperti ini, verifikasi sering kalah oleh rasa panik atau tergoda promo.
VIDA mencatat 80 persen pembobolan akun terjadi karena OTP berbasis SMS dan phishing. Ironisnya, teknologi yang selama ini dianggap aman justru menjadi pintu masuk kejahatan. Sekali OTP bocor, akun bisa berpindah tangan dalam hitungan menit.
Masalahnya tidak berhenti di situ. Penipuan kini naik level dengan bantuan kecerdasan buatan.
Deepfake: Saat Suara Keluarga Tak Lagi Bisa Dipercaya
Penipuan berbasis AI deepfake melonjak hingga 1.550 persen di Indonesia. Teknologi voice cloning memungkinkan penipu meniru suara orang terdekat keluarga, atasan, bahkan pejabat dengan tingkat kemiripan nyaris sempurna.
Bayangkan menerima telepon dengan suara yang 99 persen mirip kakak atau bosmu, lengkap dengan nada panik dan permintaan transfer cepat. Banyak korban jatuh bukan karena bodoh, tapi karena penipuan ini memang dirancang sangat meyakinkan.
Catatan OJK menunjukkan puluhan ribu laporan terkait penipuan telepon palsu, shopping scam, dan investasi bodong. Total kerugiannya menembus Rp4 triliun. Yang lebih bikin miris, masyarakat Indonesia rata-rata baru melapor setelah 12 jam. Di dunia digital, itu sudah terlalu lama.
Identitas Digital: Kunci yang Sering Diremehkan
Founder & Group CEO VIDA, Niki Luhur, menegaskan bahwa identitas digital kini menjadi gerbang utama keamanan finansial. Sayangnya, banyak orang masih mengandalkan metode lama yang mudah ditembus.
Saat pelaporan terlambat, jejak digital sudah kabur dan dana berpindah ke banyak rekening. Itulah sebabnya tingkat penyelamatan dana sangat kecil. Keamanan bukan lagi soal “nanti”, tapi soal sekarang.
Jadi, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Bank Indonesia, OJK, dan BSSN sudah berulang kali mengingatkan soal kewaspadaan digital. Tapi pada akhirnya, benteng terakhir tetap ada di tangan pengguna.
Hindari transaksi lewat Wi-Fi publik, karena jaringan ini rawan disadap. Selalu verifikasi permintaan darurat telepon balik lewat nomor yang sudah kamu simpan. Jangan percaya tekanan waktu seperti “akun akan diblokir” atau “promo tinggal hari ini” tanpa cek kanal resmi. Pastikan detail transfer benar sebelum klik kirim. Dan yang terpenting, mulai beralih ke autentikasi biometrik, bukan OTP SMS.
Liburan Harusnya Bikin Tenang, Bukan Panik
Liburan idealnya jadi waktu istirahat, bukan waktu mengurus rekening jebol. Tapi di era digital, rasa santai justru sering jadi celah paling berbahaya.
Pertanyaannya sekarang sederhana:
di tengah promo, diskon, dan notifikasi transaksi, apakah kamu masih ingat satu hal paling penting melindungi identitas digitalmu sendiri?
Karena penjahat siber mungkin ikut liburan, tapi mereka pulang membawa uang orang lain. Jangan sampai itu uangmu. @dimas







