Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Libur Imlek, Polisi Berlakukan One Way ke Jakarta di Jalur Puncak

by dimas
Februari 15, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Siang itu, antrean kendaraan di Simpang Gadog, Kabupaten Bogor, tidak bergerak ke arah Puncak. Petugas kepolisian menghentikan laju mobil dan sepeda motor dari Jakarta sejak pukul 12.00 WIB, Minggu (15/2/2026). Mereka mengalihkan prioritas jalan sepenuhnya untuk kendaraan yang turun dari kawasan wisata menuju ibu kota.

Kebijakan satu arah atau one way itu langsung mengubah ritme lalu lintas. Kendaraan dari arah Puncak mengalir deras menuju Jakarta. Sebaliknya, wisatawan yang baru ingin naik harus menunggu tanpa kepastian.

Situasi ini menunjukkan satu hal yang berulang setiap musim libur Puncak tetap menjadi magnet, tetapi jalan menuju ke sana tidak pernah benar-benar siap menampung semua orang.

Lonjakan Wisatawan Dorong Rekayasa Lalu Lintas

Sejak pagi, volume kendaraan di Jalur Puncak terus meningkat. Pelaksana Tugas Kanit Gakkum Satlantas Polres Bogor, Ipda Ares Rahman, melihat lonjakan itu sebagai dampak langsung libur panjang Imlek.

“Hari ini situasi arus lalu lintas di jalur wisata Puncak terpantau mengalami peningkatan terkait adanya kegiatan masyarakat yang akan berwisata,” ujar Ares.

Ini Belum Selesai

DPR Sahkan RUU Polri, Pengawasan dan Netralitas Jadi Taruhan

Chatib Basri Dipanggil ke Istana, Apakah Purbaya Akan Diganti?

Lonjakan tersebut tidak terjadi di satu titik saja. Kepadatan muncul di sejumlah simpul utama seperti Simpang Pasir Muncang, Simpang Megamendung, Lokawiratama, dan Pasar Cisarua. Titik-titik ini sejak lama dikenal sebagai simpul kemacetan, terutama saat musim liburan.

Melihat kondisi itu, polisi langsung menerapkan sistem one way untuk mengurai tekanan kendaraan. Namun, petugas tidak menetapkan batas waktu pasti. Mereka menyesuaikan durasi kebijakan dengan kondisi di lapangan.

Dengan kata lain, arah jalan bisa berubah sewaktu-waktu, tergantung seberapa parah kemacetan terjadi.

Wisatawan Tertahan, Pelaku Usaha Ikut Menunggu

Kebijakan ini paling terasa dampaknya bagi wisatawan yang baru berangkat dari Jakarta. Banyak dari mereka harus berhenti di sekitar Simpang Gadog tanpa kepastian kapan bisa melanjutkan perjalanan.

Sebagian memilih menunggu. Sebagian lain memutar arah dan membatalkan rencana liburan.

Bagi pelaku usaha di kawasan Puncak, situasi ini juga membawa konsekuensi. Restoran, vila, dan pedagang lokal bergantung pada kedatangan wisatawan. Ketika akses tertutup, potensi pendapatan ikut tertahan.

Di sisi lain, sistem one way membantu wisatawan yang sudah selesai berlibur. Mereka bisa pulang lebih cepat tanpa terjebak macet berjam-jam.

Pemerintah, melalui kepolisian, mencoba menyeimbangkan dua kepentingan memperlancar arus pulang dan mengendalikan kepadatan.

Jalan Terbatas, Minat Wisata Tidak Pernah Surut

Polisi menyatakan akan bersiaga hingga Selasa untuk mengantisipasi lonjakan lanjutan selama libur panjang.

“Kami bersiaga sampai dengan Selasa mengantisipasi lonjakan terkait wisatawan yang akan menuju Puncak,” tambahnya.

Pernyataan itu menegaskan bahwa kepadatan belum akan berakhir dalam waktu dekat. Setiap musim liburan selalu menghadirkan pola yang sama: jumlah kendaraan melonjak jauh di atas kapasitas jalan.

Fenomena ini bukan sekadar soal liburan. Ini mencerminkan ketimpangan antara pertumbuhan mobilitas masyarakat dan kesiapan infrastruktur.

Jalur Puncak masih memikul beban sebagai destinasi wisata favorit warga Jabodetabek. Namun jalan yang sama, dengan lebar yang hampir tidak berubah, harus menampung jumlah kendaraan yang terus meningkat setiap tahun.

Pada akhirnya, rekayasa lalu lintas seperti one way hanya menjadi solusi sementara.

Sebab di negeri ini, keinginan orang untuk berlibur selalu bergerak lebih cepat daripada kemampuan jalan untuk menampungnya. @dimas

Tags: BogorCisaruaimlekjawa baratKemacetanLalu Lintaslibur

Kamu Melewatkan Ini

Kabupaten Sukabumi Gempa 4,6 M: Kecil di Angka, Besar di Kewaspadaan

Kabupaten Sukabumi Gempa 4,6 M: Kecil di Angka, Besar di Kewaspadaan

by teguh
Mei 18, 2026

Suara dentuman mungkin tak terdengar, tetapi bumi kembali memberi tanda. Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, diguncang gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,6...

May Day Suram di Jabar: 20.536 Buruh Kena PHK, Ada Apa dengan Industri?

May Day Suram di Jabar: 20.536 Buruh Kena PHK, Ada Apa dengan Industri?

by dimas
Mei 2, 2026

May Day di Jawa Barat tahun ini menghadirkan gambaran yang kontras dengan narasi pertumbuhan industri nasional. Di tengah klaim meningkatnya...

Ketika Budi Menukar Dasi dengan Cangkul

Ketika Budi Menukar Dasi dengan Cangkul

by teguh
April 15, 2026

Tabooo.id: Deep - Di banyak kota, pagi hari sering dimulai dengan alarm yang terasa seperti ancaman. Setelah itu, orang-orang berlari...

Next Post
Hampir Separuh Warga AS Percaya Perang Dunia III Bisa Meletus

Hampir Separuh Warga AS Percaya Perang Dunia III Bisa Meletus

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id