Senin, Agustus 24, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Hampir Separuh Warga AS Percaya Perang Dunia III Bisa Meletus

by dimas
Februari 15, 2026
in Global, Reality
A A
Home Reality Global
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Global – Ketakutan itu tidak lagi hidup di film atau novel distopia. Ia kini hidup di kepala jutaan orang. Survei terbaru yang dirilis Politico menunjukkan hampir separuh warga Amerika Serikat percaya Perang Dunia III bisa pecah dalam lima tahun ke depan. Sebanyak 46 persen responden menyebut perang global “mungkin” atau bahkan “sangat mungkin” terjadi sebelum 2031.

Angka ini tidak hanya tinggi, tetapi juga meningkat tajam. Pada Maret 2025, hanya 38 persen warga AS yang memiliki keyakinan serupa. Dalam waktu kurang dari setahun, rasa aman publik terkikis cukup dalam.

Kenaikan ini menandai perubahan psikologis besar perang global tidak lagi terasa mustahil.

Inggris Ikut Cemas, Eropa Merasa Dunia Semakin Berbahaya

Kecemasan serupa menyebar cepat ke Eropa, terutama di Inggris. Survei menunjukkan 43 persen warga Inggris kini percaya perang dunia baru bisa pecah dalam lima tahun. Padahal tahun lalu, angkanya masih 30 persen.

Survei yang melibatkan lebih dari 2.000 responden di masing-masing negara ini juga mencatat pola yang sama di Kanada dan Perancis. Mayoritas warga di negara-negara Barat kini memandang dunia sebagai tempat yang semakin berbahaya.

Ini Belum Selesai

Bukan Cuma Soal Motor, Ketika Komunitas Jadi Tempat Mencari Arah

Desa Adat Sade Terbakar, Ratusan Rumah Sasak Ludes dalam Semalam

Hanya satu negara yang relatif tenang Jerman. Sebagian besar warganya masih menganggap perang dunia tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat.

Namun secara keseluruhan, rasa aman yang dulu menjadi fondasi masyarakat Barat kini mulai retak.

Kepala lembaga riset Public First, Seb Wride, melihat perubahan ini sebagai sinyal serius.

“Perubahan sikap publik Barat mencerminkan pergeseran dramatis menuju dunia yang lebih tidak aman,” ujarnya.

Dengan kata lain, ketakutan kini menjadi opini mayoritas.

Senjata Nuklir Kembali Menghantui Imajinasi Publik

Kecemasan tidak berhenti pada kemungkinan perang konvensional. Survei juga menemukan setidaknya satu dari tiga responden percaya senjata nuklir kemungkinan akan digunakan.

Bayangan ledakan nuklir sesuatu yang selama puluhan tahun hanya menjadi ancaman laten kini kembali terasa nyata.

Di Eropa, banyak responden menunjuk Rusia sebagai ancaman terbesar. Invasi Rusia ke Ukraina yang kini memasuki tahun keempat terus memperkuat persepsi tersebut.

Namun ironi muncul di Kanada. Di sana, sebagian responden justru melihat Amerika Serikat sebagai ancaman terbesar bagi keamanan mereka.

Sementara itu, warga Perancis, Jerman, dan Inggris menempatkan Amerika Serikat sebagai ancaman terbesar kedua setelah Rusia.

Artinya, bahkan sekutu pun kini saling mencurigai.

Publik Takut Perang, Tapi Enggan Bayar Biayanya

Meski rasa takut meningkat, publik tidak otomatis mendukung peningkatan anggaran militer.

Mayoritas responden memang setuju negara mereka harus memperkuat pertahanan. Namun dukungan itu langsung melemah ketika survei menyebut konsekuensi nyata pajak naik, utang bertambah, atau layanan publik dipotong.

Seb Wride melihat kontradiksi ini sebagai dilema politik besar.

“Para pemilih semakin tidak bersedia melakukan pengorbanan untuk meningkatkan keamanan militer,” katanya.

Situasi ini menempatkan pemerintah Barat dalam posisi sulit. Mereka menghadapi tekanan untuk bersiap menghadapi konflik, tetapi tidak mendapat dukungan penuh untuk membiayainya.

Di Jerman, misalnya, belanja pertahanan menjadi salah satu pos anggaran paling tidak populer.

Aliansi Barat Mulai Dipertanyakan

Survei juga menunjukkan skeptisisme terhadap ide pembentukan tentara bersama di bawah komando Uni Eropa.

Di Jerman, hanya 22 persen responden yang mendukung gagasan itu. Di Perancis, dukungannya bahkan lebih rendah, hanya 17 persen.

Sebaliknya, ide wajib militer justru mendapat dukungan lebih luas. Sekitar setengah responden di Perancis dan Jerman mendukung kebijakan tersebut.

Data ini menunjukkan satu hal penting publik lebih percaya pertahanan nasional daripada sistem kolektif.

Aliansi global yang dulu dianggap benteng stabilitas kini mulai kehilangan kepercayaan.

Ketakutan Baru di Dunia yang Tidak Lagi Stabil

Survei ini bukan sekadar angka. Ia mencerminkan perubahan besar dalam cara masyarakat memandang dunia.

Selama puluhan tahun setelah Perang Dingin, banyak orang percaya perang dunia menjadi bagian masa lalu.

Kini, keyakinan itu memudar. Perang di Ukraina, ketegangan geopolitik, dan perlombaan senjata telah menghidupkan kembali ketakutan lama.

Yang paling terdampak bukan hanya pemerintah atau militer, tetapi masyarakat biasa. Mereka hidup dengan kecemasan baru tentang masa depan yang semakin tidak pasti.

Dunia memang belum memasuki Perang Dunia III. Namun bagi jutaan orang, perang itu sudah lebih dulu terjadi setidaknya di dalam pikiran mereka. @dimas

Tags: DuniaeropaGeopolitikGlobalInggrisJermanKanadaKeamanan NegaraNuklirPolitik IndonesiaRusiasenjata

Kamu Melewatkan Ini

81 Tahun Kemerdekaan Indonesia, Merdeka untuk Siapa?

81 Tahun Kemerdekaan Indonesia, Merdeka untuk Siapa?

by Tabooo
Agustus 20, 2026

Sehari setelah perayaan HUT ke-81 RI, mahasiswa turun ke jalan membawa delapan tuntutan. Di sana, makna kemerdekaan kembali dipertanyakan lewat...

Prabowo, Jokowi, Gibran Duduk Bersama: Protokol atau Pesan Politik?

Prabowo, Jokowi, Gibran Duduk Bersama: Protokol atau Pesan Politik?

by dimas
Agustus 18, 2026

Prabowo, Jokowi, dan Gibran duduk bersama di Istana saat HUT ke-81 RI. Protokol kenegaraan atau pesan politik di tengah isu...

Pabrik China Tetap Ngebut, Belanja Konsumen Melambat

Pabrik China Tetap Ngebut, Belanja Konsumen Melambat

by Tabooo
Agustus 17, 2026

Pabrik China masih bergerak cepat, tetapi konsumennya mulai menahan belanja. Data Juli memperlihatkan jurang produksi dan permintaan makin terbuka.

Next Post
Dulu Sumber Kehidupan, Kini Sumber Ketakutan: Tragedi Sunyi Cisadane

Dulu Sumber Kehidupan, Kini Sumber Ketakutan: Tragedi Sungai Cisadane

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id