Tabooo.id: Global – Ketakutan itu tidak lagi hidup di film atau novel distopia. Ia kini hidup di kepala jutaan orang. Survei terbaru yang dirilis Politico menunjukkan hampir separuh warga Amerika Serikat percaya Perang Dunia III bisa pecah dalam lima tahun ke depan. Sebanyak 46 persen responden menyebut perang global “mungkin” atau bahkan “sangat mungkin” terjadi sebelum 2031.
Angka ini tidak hanya tinggi, tetapi juga meningkat tajam. Pada Maret 2025, hanya 38 persen warga AS yang memiliki keyakinan serupa. Dalam waktu kurang dari setahun, rasa aman publik terkikis cukup dalam.
Kenaikan ini menandai perubahan psikologis besar perang global tidak lagi terasa mustahil.
Inggris Ikut Cemas, Eropa Merasa Dunia Semakin Berbahaya
Kecemasan serupa menyebar cepat ke Eropa, terutama di Inggris. Survei menunjukkan 43 persen warga Inggris kini percaya perang dunia baru bisa pecah dalam lima tahun. Padahal tahun lalu, angkanya masih 30 persen.
Survei yang melibatkan lebih dari 2.000 responden di masing-masing negara ini juga mencatat pola yang sama di Kanada dan Perancis. Mayoritas warga di negara-negara Barat kini memandang dunia sebagai tempat yang semakin berbahaya.
Hanya satu negara yang relatif tenang Jerman. Sebagian besar warganya masih menganggap perang dunia tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat.
Namun secara keseluruhan, rasa aman yang dulu menjadi fondasi masyarakat Barat kini mulai retak.
Kepala lembaga riset Public First, Seb Wride, melihat perubahan ini sebagai sinyal serius.
“Perubahan sikap publik Barat mencerminkan pergeseran dramatis menuju dunia yang lebih tidak aman,” ujarnya.
Dengan kata lain, ketakutan kini menjadi opini mayoritas.
Senjata Nuklir Kembali Menghantui Imajinasi Publik
Kecemasan tidak berhenti pada kemungkinan perang konvensional. Survei juga menemukan setidaknya satu dari tiga responden percaya senjata nuklir kemungkinan akan digunakan.
Bayangan ledakan nuklir sesuatu yang selama puluhan tahun hanya menjadi ancaman laten kini kembali terasa nyata.
Di Eropa, banyak responden menunjuk Rusia sebagai ancaman terbesar. Invasi Rusia ke Ukraina yang kini memasuki tahun keempat terus memperkuat persepsi tersebut.
Namun ironi muncul di Kanada. Di sana, sebagian responden justru melihat Amerika Serikat sebagai ancaman terbesar bagi keamanan mereka.
Sementara itu, warga Perancis, Jerman, dan Inggris menempatkan Amerika Serikat sebagai ancaman terbesar kedua setelah Rusia.
Artinya, bahkan sekutu pun kini saling mencurigai.
Publik Takut Perang, Tapi Enggan Bayar Biayanya
Meski rasa takut meningkat, publik tidak otomatis mendukung peningkatan anggaran militer.
Mayoritas responden memang setuju negara mereka harus memperkuat pertahanan. Namun dukungan itu langsung melemah ketika survei menyebut konsekuensi nyata pajak naik, utang bertambah, atau layanan publik dipotong.
Seb Wride melihat kontradiksi ini sebagai dilema politik besar.
“Para pemilih semakin tidak bersedia melakukan pengorbanan untuk meningkatkan keamanan militer,” katanya.
Situasi ini menempatkan pemerintah Barat dalam posisi sulit. Mereka menghadapi tekanan untuk bersiap menghadapi konflik, tetapi tidak mendapat dukungan penuh untuk membiayainya.
Di Jerman, misalnya, belanja pertahanan menjadi salah satu pos anggaran paling tidak populer.
Aliansi Barat Mulai Dipertanyakan
Survei juga menunjukkan skeptisisme terhadap ide pembentukan tentara bersama di bawah komando Uni Eropa.
Di Jerman, hanya 22 persen responden yang mendukung gagasan itu. Di Perancis, dukungannya bahkan lebih rendah, hanya 17 persen.
Sebaliknya, ide wajib militer justru mendapat dukungan lebih luas. Sekitar setengah responden di Perancis dan Jerman mendukung kebijakan tersebut.
Data ini menunjukkan satu hal penting publik lebih percaya pertahanan nasional daripada sistem kolektif.
Aliansi global yang dulu dianggap benteng stabilitas kini mulai kehilangan kepercayaan.
Ketakutan Baru di Dunia yang Tidak Lagi Stabil
Survei ini bukan sekadar angka. Ia mencerminkan perubahan besar dalam cara masyarakat memandang dunia.
Selama puluhan tahun setelah Perang Dingin, banyak orang percaya perang dunia menjadi bagian masa lalu.
Kini, keyakinan itu memudar. Perang di Ukraina, ketegangan geopolitik, dan perlombaan senjata telah menghidupkan kembali ketakutan lama.
Yang paling terdampak bukan hanya pemerintah atau militer, tetapi masyarakat biasa. Mereka hidup dengan kecemasan baru tentang masa depan yang semakin tidak pasti.
Dunia memang belum memasuki Perang Dunia III. Namun bagi jutaan orang, perang itu sudah lebih dulu terjadi setidaknya di dalam pikiran mereka. @dimas





