Tabooo.id: Entertainment – Pernah nggak sih datang ke kafe, niatnya mau ngopi santai, eh malah disambut tembang Jawa galau yang itu-itu lagi? Ada yang dibungkus koplo, ada juga yang pakai pop mellow.
Reff-nya sama-sama bikin kepala ikut goyang, meski hati nggak tahu kenapa. Selamat datang di era ketika lagu pop Jawa bukan cuma genre, tapi sudah jadi “mata uang wajib” buat musisi panggung kecil. Dan di tengah arus itu, muncul satu suara yang memilih jujur ketimbang ikut tren: Daniel Rumbekwan.
Lagu yang Bukan Tentang Mantan
Solois asal Madiun ini baru saja merilis single berjudul Lagu Populer Jawa. Durasinya 4 menit 5 detik dengan balutan folk dan lirik sederhana yang nyeletuk. Ini bukan lagu patah hati atau mantan yang ghosting, melainkan kegelisahan musisi reguleran.
Daniel yang berdarah Papua dan lahir di Balikpapan mengaku lagu ini lahir dari pengalamannya manggung dari kafe ke kafe, tentang tuntutan tak tertulis bahwa kalau mau laku, ya harus bisa bawain lagu Jawa. Masalahnya, tidak semua orang punya karakter suara yang cocok dengan cengkok tembang Jawa.
Dari Band ke Panggung Kafe
Daniel bukan pemain baru. Ia mengawali karier musiknya lewat band Gemintang Kirana di Madiun yang sempat merilis album Perjalanan Pagi dan Jagaraga. Setelah band bubar, Daniel memilih jalan sunyi sebagai penyanyi kafe, belajar otodidak dari aktivitas gereja, lalu pelan-pelan merilis single seperti Burung Kecil, Meledak, dan Rindu.
Kini, Lagu Populer Jawa terasa seperti curhat kolektif musisi kecil. Karena jujur saja, fenomena pop Jawa hari ini bukan sekadar tren, tapi juga soal algoritma, permintaan pasar, dan selera mayoritas yang akhirnya membentuk standar tunggal: mau ramai nyanyi Jawa, mau dipanggil lagi nyanyi Jawa, mau tip tambahan—kamu tahu jawabannya.
Ketika Pasar Lebih Keras dari Suara Hati
Ini bukan kritik ke musik Jawa. Justru sebaliknya, musik Jawa itu kaya, dalam, dan penuh rasa. Tapi ketika semua dipaksa masuk satu cetakan, yang terjadi adalah homogenisasi. Semua terdengar mirip, semua bernyanyi dengan gaya seragam, yang beda pelan-pelan tersisih. Di situlah ironi yang ditangkap Daniel. Ia tidak menolak budaya, ia hanya mempertanyakan ruang.
Hijrah ke Jakarta, Bertahan dengan Suara Sendiri
Lebih jauh lagi, lagu ini memantulkan realitas kreatif Indonesia hari ini: kita cinta lokal, tapi sering lupa merawat perbedaan, kita bangga tradisi, tapi kadang abai pada mereka yang tak lahir di dalamnya. Single ini rilis pada 9 Juli 2024 dan sudah tersedia di berbagai platform musik digital.
Dalam waktu dekat, Daniel juga bersiap hijrah ke Jakarta untuk memperluas langkah di kancah nasional. Seperti lagunya, ini bukan sekadar soal genre, melainkan keberanian jadi diri sendiri di tengah keramaian. Jadi pertanyaannya tinggal satu: kalau kamu jadi Daniel, tetap nyanyi dengan suara sendiri atau ikut arus demi bertahan?@eko




