Tabooo.id: Vibes – Di tengah dunia yang semakin dipenuhi notifikasi, timeline, dan alarm digital, ada momen-momen yang tetap berjalan dengan ritme sendiri. Bukan mengikuti jam ponsel, melainkan mengikuti denyut tradisi. Salah satunya adalah Sadranan sebuah ritual yang setiap tahun hadir seperti napas panjang kebudayaan Jawa tenang, dalam, dan penuh makna.
Selasa (27/1/2026) pagi, Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali menghidupkan denyut itu melalui rangkaian Hajad Dalem Sadranan Leluhur Dalem SISKS Pakoe Boewono XIV. Rombongan kraton bergerak menuju dua titik penting dalam sejarah Mataram Makam Raja-Raja Kotagede dan Makam Raja-Raja Imogiri di Bantul, Yogyakarta.
Di sana, bunga bertemu batu nisan. Doa bertemu sunyi. Masa kini bersentuhan dengan masa lalu.

Jejak Langkah di Tanah Sejarah
Rombongan kraton berjalan dalam formasi yang rapi, dipimpin para abdi dalem dengan busana tradisional yang seolah menolak pudar dimakan zaman. Di antara mereka tampak Gusti Kanjeng Ratu Alit, GRAy Rahmaniyah, dan Gusti Kanjeng Ratu Sekar Kirono, bersama para sentono dalem lainnya.
Tak ada gegap gempita. Tak ada sorak sorai. Yang terdengar justru gesekan sandal di tanah, desau angin, dan lirih doa.
Sadranan memang tidak dirancang sebagai tontonan. Ia hidup sebagai laku batin.
Tradisi ini selalu hadir pada bulan ruwat, menjelang datangnya Ramadan. Dalam kalender budaya Jawa, waktu ini menjadi fase pembersihan bukan hanya secara fisik, tetapi juga spiritual.
Di sinilah kraton menegaskan posisinya bukan sekadar institusi simbolik, melainkan penjaga ingatan kolektif.
Uborampe, Wilujengan, dan Bahasa Simbol
Sebelum doa mengalun, para abdi dalem menyiapkan uborampe bunga warna-warni, dupa, dan perlengkapan ritual lain. Setiap elemen memikul makna. Bunga melambangkan keharuman nama leluhur. Dupa membawa harap agar doa naik bersama asap. Susunan uborampe menjadi bahasa sunyi yang dipahami lintas generasi.
Di Makam Raja-Raja Mataram Kotagede, wilujengan dipimpin ulama Kraton Surakarta. Doa-doa mengalir pelan, menyebut nama-nama leluhur yang pernah menorehkan sejarah panjang Jawa.
Setelah itu, rombongan melakukan nyekar menabur bunga di pusara para raja.
Ritual kemudian berlanjut ke Imogiri, tempat peristirahatan Sultan Agung Hanyokrokusumo. Pola kegiatan tetap sama: persiapan, wilujengan, lalu nyekar. Namun, suasana tak pernah terasa repetitif. Setiap makam memiliki aura sendiri. Setiap nama membawa kisahnya masing-masing.
Doa untuk Leluhur, Harap untuk Masa Depan
Kanjeng Pangeran Parno Adiningrat menegaskan bahwa Sadranan bukan sekadar agenda tahunan.
Ia menyebut tradisi ini sebagai ikhtiar kraton untuk mendoakan para leluhur Mataram sekaligus memohon kelancaran dan keberkahan bagi Kraton Surakarta Hadiningrat.
Di titik ini, Sadranan tidak hanya berbicara tentang kematian, tetapi juga tentang keberlanjutan.
Gusti Kanjeng Ratu Sekar Kirono menambahkan lapisan makna lain. Baginya, Sadranan menjadi momentum penguatan nilai-nilai budaya. Ia menyampaikan pesan khusus kepada generasi muda agar tetap aktif melestarikan budaya Jawa.
Pesan itu terasa relevan di tengah realitas hari ini, ketika anak muda lebih akrab dengan filter Instagram daripada filosofi kejawen.
Tradisi di Era Konten
Menariknya, Sadranan kini hidup di dua dunia.
Di dunia pertama, ia berlangsung khidmat, hening, dan sakral. Di dunia kedua, ia muncul sebagai potongan foto, video pendek, dan caption di media sosial.
Sebagian orang mungkin melihat ini sebagai degradasi. Namun, sebagian lainnya memaknainya sebagai bentuk adaptasi.
Ketika ritual muncul di linimasa, ia berkesempatan menjangkau audiens baru anak muda yang mungkin belum pernah menginjakkan kaki di Kotagede atau Imogiri.
Di sinilah Sadranan bertransformasi menjadi “konten budaya”. Bukan sekadar estetika, melainkan pintu masuk menuju rasa ingin tahu.
Pertanyaannya apakah kita berhenti pada visual, atau melangkah ke pemahaman?
Antara Nostalgia dan Resistensi
Sadranan juga bisa dibaca sebagai bentuk resistensi halus terhadap budaya serba instan.
Di saat banyak hal dipercepat, ritual ini justru menuntut pelan. Ia meminta orang berhenti sejenak, menunduk, dan mengingat.
Mengingat bahwa sebelum kita ada, sudah ada generasi lain yang berjalan, berjuang, dan meninggalkan jejak.
Dalam konteks sosial-politik, Sadranan menjadi simbol kontinuitas. Ia menunjukkan bahwa identitas Jawa tidak dibangun dalam semalam, melainkan melalui lapisan sejarah yang panjang.
Tradisi ini seperti mengatakan: kita boleh modern, tetapi tidak harus tercerabut.
Refleksi Tabooo: Saat Doas Menjadi Sikap Budaya
Bagi Tabooo, Sadranan menarik bukan hanya karena ritualnya, tetapi karena sikap yang terkandung di dalamnya.
Ia mengajarkan bahwa menghormati masa lalu bukan berarti terjebak di sana. Sebaliknya, ia menjadi fondasi untuk melangkah.
Di tengah krisis identitas, tradisi seperti ini berfungsi sebagai jangkar. Ia menahan kita agar tidak hanyut sepenuhnya oleh arus globalisasi.
Lebih dari itu, Sadranan mengingatkan bahwa spiritualitas tidak selalu harus tampil heroik. Kadang, ia hadir dalam bentuk sederhana menabur bunga, mengatupkan tangan, dan berdoa dalam diam.
Bunga yang Terus Mekar
Ketika prosesi usai, rombongan kraton kembali pulang. Bunga-bunga tertinggal di pusara. Asap dupa memudar di udara. Namun, maknanya tidak ikut hilang.
Ia menetap dalam ingatan.
Mungkin, suatu hari nanti, anak-anak yang hari ini hanya melihat foto Sadranan di ponsel akan berdiri langsung di depan makam para raja. Menunduk. Menabur bunga. Mengulang siklus yang sama.
Dan di sanalah Sadranan menemukan keabadiannya bukan sebagai peristiwa tahunan semata, melainkan sebagai jembatan sunyi antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Sebab selama masih ada orang yang mau mengingat, bunga akan terus mekar di atas batu nisan sejarah. @dimas







