Tabooo.id: Edge – Coba bayangkan kamu lagi nongkrong santai, scroll medsos, tiba-tiba dapet notifikasi “Breaking News: Kader Nasdem Pindah ke PSI Lagi”. Rasanya kayak nonton sinetron yang episode barunya keluar tiap hari Kamis, tapi lebih absurd daripada drama Korea.
Terbaru, Rusdi Masse Mappasessu, eks Ketua DPW Nasdem Sulawesi Selatan, resmi “move on” ke PSI. Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep, langsung menyambutnya dengan penuh semangat.
“Ke Makassar naik Air Asia. Jangan lupa minum es. Mari keluarga Partai Solidaritas Indonesia. Kita sambut Bang RMS,” ujar Kaesang di Rakernas PSI, Kamis (29/1/2026).
Kutu Loncat Bukan Fenomena Baru
Rusdi Masse bukan pionir “kutu loncat”. Tahun lalu, Ahmad Ali dan Bestari Barus lebih dulu hijrah dari Nasdem ke PSI dan langsung mendapat posisi prestisius. Ali jadi Ketua Harian PSI, sementara Bestari Barus jadi Ketua Dewan Pimpinan Pusat.
Ali dengan polos bilang, keputusan pindah ini bukan karena tekanan jabatan, tapi karena “komitmen personal” dengan Rusdi Masse. Menurut Ali, mereka punya janji politik tidak akan saling meninggalkan. Jadi bayangin, politik Indonesia sekarang punya versi BFF politik sahabatan dulu, baru pindah partai bareng.
Ambisi PSI: Sulawesi Jadi Kandang Gajah
Ali optimis kehadiran Rusdi di PSI akan membuat Sulawesi jadi “Kandang Gajah”. Katanya sih, pengalaman Rusdi waktu bikin Nasdem menang di beberapa wilayah Sulawesi bakal diulang di PSI. Netizen cuma bisa ketawa sambil bilang “Oke, jadi strategi politik kita sekarang beli pengalaman dari mantan partai lain.”
Tapi jangan salah, PSI percaya diri. Mereka yakin sejarah kemenangan bisa diulang. Ironisnya, Golkar partai yang sudah lama berdiri tapi rasanya cuma bisa geleng-geleng kepala sambil nonton drama pindah partai ini.
Nasdem Santuy Tapi Tetap Was-was
Di sisi lain, Nasdem tetap santuy. Wakil Ketua Umum Saan Mustopa menegaskan, partai menghormati keputusan kader yang pindah.
“Enggak masalah, mereka punya pilihan. Tapi kita tetap konsen menjaga kekuatan di wilayah Timur,” jelasnya.
Secara publik, fenomena ini menimbulkan stigma kader yang pindah partai sering disebut opportunis atau kutu loncat. Tapi bagi netizen Gen Z, ini lebih mirip konten TikTok politik lucu, absurd, tapi tetap bikin mikir.
Punchline: Politik Indonesia, Sekotak Drama
Moral dari kisah ini? Di Indonesia, politik itu kayak kotak es campur kadang manis, kadang bikin perut kaget, dan kadang ada spons di dalamnya. Kader bisa pindah partai bukan karena ideologi, tapi karena kesempatan, komitmen personal, atau strategi elektoral. Dan kita sebagai publik? Tinggal scroll, ketawa, dan nunggu episode selanjutnya. @dimas





