Tabooo.id: Nasional – Bencana besar kembali menghantam Sumatra, dan angka korbannya naik begitu cepat hingga publik nyaris tak punya waktu untuk mencerna. BNPB mengumumkan temuan 21 jenazah baru di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Dengan tambahan itu, total korban meninggal mencapai 990 jiwa. Angka yang terdengar seperti statistik perang, bukan laporan bencana alam.
Abdul Muhari, Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, menyampaikan temuan itu dalam konferensi pers virtual, Kamis (11/12/2025).
“Ditemukan hari ini sebanyak 21 jasad, sehingga jumlah total korban menjadi 990 jiwa,” ujarnya.
Korban Bertambah, Tiga Provinsi Membayar Harga yang Sama
Dari 21 jenazah terbaru, 16 ditemukan di Aceh Utara wilayah yang kini berubah seperti kubangan lumpur raksasa.
Di Sumatera Utara, tiga jenazah muncul dari Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Sibolga.
Sementara dua jenazah di Sumatra Barat masih menunggu identifikasi.
BNPB juga memperbarui data korban hilang. Dari 252 nama, kini turun menjadi 222. Bukan karena semua ditemukan hidup melainkan karena data ulang, koreksi lapangan, dan penyesuaian administrasi.
Di sisi lain, jumlah pengungsi berkurang dari 894.501 menjadi 884.889 jiwa.
Pengurangan ini bukan berarti pulang ke rumah banyak dari mereka sekadar berpindah ke tempat pengungsian lain karena lokasi sebelumnya tak lagi layak.
Yang Dirugikan
- Rakyat Sumatra yang kehilangan rumah, keluarga, dan masa depan.
- Anak-anak yang menemukan hidupnya berubah dalam satu malam, mulai dari seragam basah lumpur hingga buku sekolah hanyut entah kemana.
- Para relawan dan tim SAR yang bekerja tanpa henti, sering kali dengan sumber daya minim, demi menutupi kelambanan sistem.
Bencana Berulang, Pertanyaan yang Sama
BNPB memastikan operasi SAR terus berjalan. Tim di lapangan masih menyisir desa-desa yang hilang, sungai-sungai yang meluap, dan lereng-lereng yang runtuh.
Namun setiap kali bencana besar seperti ini datang, satu hal kembali terulang:
kita selalu lebih sibuk menghitung korban daripada membangun pencegahan.
Sampai Kapan Kita Menganggap Angka Kematian Sebagai Statistik?
990 jiwa. Itu hampir seribu cerita yang hilang, bukan sekadar angka di layar konferensi pers.
Dan ketika bencana besar terus berulang sementara pemerintah hanya menawarkan belasungkawa, publik pantas bertanya:
kapan negara bergerak lebih cepat dari air bah dan longsor?
Sebab jika pola ini berlanjut, bukan alam yang jadi masalah melainkan kebiasaan kita menerima bencana sebagai rutinitas nasional. @dimas




