Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kongres AS Bersiap Voting Batasi Kewenangan Trump dalam Perang Iran

by dimas
Maret 3, 2026
in Global, Reality
A A
Home Reality Global
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Global – Kongres Amerika Serikat bersiap melakukan pemungutan suara pekan ini untuk membatasi kewenangan Presiden Donald Trump dalam perang melawan Iran. Namun, mayoritas Partai Republik diperkirakan akan menghalau upaya tersebut dan tetap berdiri di belakang Trump.

Sejak kembali ke Gedung Putih pada 2025, Trump memperluas peran eksekutif secara agresif. Kini, langkah militernya bersama Israel terhadap Iran memicu perdebatan sengit soal batas kekuasaan presiden dan peran konstitusional Kongres.

Perang Dimulai, Perdebatan Menguat

Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026). Serangan itu langsung mengubah suhu politik di Washington.

Senator Demokrat Tim Kaine mengecam keputusan tersebut. Ia menyebut Trump meluncurkan perang yang “tidak perlu, bodoh, dan ilegal.” Selain itu, Kaine mendesak Kongres kembali dari masa reses untuk segera memungut suara atas resolusi yang ia ajukan.

Sebelumnya, pada akhir Januari, Kaine sudah memperkenalkan rancangan undang-undang yang mewajibkan presiden memperoleh otorisasi Kongres sebelum terlibat konflik militer dengan Iran. Ia menegaskan bahwa Konstitusi AS hanya memberi wewenang kepada Kongres untuk menyatakan perang.

Ini Belum Selesai

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Lebih jauh lagi, Kaine menyatakan bahwa ia tidak melihat ancaman mendesak dari Iran yang cukup kuat untuk membenarkan pengiriman pasukan Amerika ke perang baru di Timur Tengah. Pernyataan itu langsung menantang klaim Gedung Putih.

Ancaman “Segera” yang Dipersoalkan

Dalam pidato video tengah malam saat mengumumkan operasi tempur, Trump menyebut Iran sebagai ancaman “segera” bagi Amerika Serikat. Namun, banyak pihak mempertanyakan urgensi tersebut.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth bahkan menggunakan istilah “perang”, bukan sekadar intervensi terbatas. Pernyataan itu mempertegas bahwa operasi ini bukan aksi simbolik.

Namun demikian, analis Atlantic Council Daniel Shapiro menilai Trump gagal menjelaskan urgensi serangan secara transparan kepada publik. Biasanya, presiden memberi penjelasan strategis dan melakukan pengarahan menyeluruh kepada Kongres sebelum memulai operasi militer besar. Kali ini, Trump hanya memberi pemberitahuan kepada delapan pemimpin Kongres beberapa hari sebelum bom dijatuhkan.

Karena itu, perdebatan kini tidak hanya menyangkut strategi militer, tetapi juga legalitas tindakan presiden.

Batas 60 Hari dan Tembok Republik

Berdasarkan War Powers Act 1973, presiden dapat mengirim pasukan tanpa deklarasi perang formal dalam kondisi darurat. Akan tetapi, jika operasi berlangsung lebih dari 60 hari, presiden harus memperoleh persetujuan Kongres.

Artinya, waktu menjadi faktor krusial. Jika Trump ingin memperpanjang operasi, ia harus menghadapi suara parlemen.

Di sisi lain, anggota DPR dari Partai Republik, Thomas Massie, secara terbuka mengkritik perang tersebut. Ia menggandeng Demokrat Ro Khanna untuk mendorong pemungutan suara resmi. Massie menegaskan bahwa Konstitusi mewajibkan wakil rakyat mencatat sikap mereka mendukung atau menolak perang.

Meski begitu, realitas politik berbicara lain. Mayoritas Partai Republik kemungkinan besar akan menolak pembatasan kewenangan Trump. Bahkan jika resolusi lolos, Trump dapat memveto aturan tersebut. Untuk membatalkan veto, Kongres membutuhkan dukungan dua pertiga suara di kedua kamar angka yang sulit dicapai dalam konfigurasi politik saat ini.

Dampak Global dan Ekonomi

Konflik ini tidak hanya mengguncang Washington dan Teheran. Pasar energi global langsung bereaksi. Harga minyak melonjak karena investor mengantisipasi gangguan pasokan di Timur Tengah. Selain itu, risiko eskalasi regional dapat memperluas konflik dan memicu ketidakstabilan ekonomi global.

Bagi warga Amerika, perang berarti potensi kenaikan harga energi dan kemungkinan pengerahan pasukan tambahan. Bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, lonjakan harga minyak dapat menekan anggaran subsidi dan memicu inflasi.

Karena itu, keputusan politik di Capitol Hill memiliki dampak langsung pada dapur rumah tangga jutaan orang, jauh dari ruang sidang Senat.

Ujian Konstitusi di Tengah Dentuman Bom

Kini, Kongres berdiri di persimpangan. Apakah lembaga legislatif akan menegaskan kembali kewenangannya, atau justru menyerahkan ruang lebih luas kepada presiden?

Perang sering dimulai dengan dalih keamanan. Namun sejarah menunjukkan, perang juga menguji kedewasaan demokrasi. Jika wakil rakyat ragu bersuara saat bom mulai jatuh, maka yang terancam bukan hanya stabilitas kawasan, tetapi juga keseimbangan kekuasaan di dalam negeri.

Dan ketika politik lebih keras dari dentuman senjata, rakyatlah yang biasanya membayar harga paling mahal. @dimas

Tags: ASDemokrasiDonald TrumpGedung PutihGeopolitikHargaKrisis GlobalminyakperangPerang IranPolitik IndonesiaTimur Tengah

Kamu Melewatkan Ini

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

by teguh
Mei 13, 2026

Saat stunting, campak, hingga angka kematian ibu dan bayi masih menghantui banyak keluarga, sebuah video dari ruang rapat DPRD Jember...

Amir Syarifuddin: Tokoh yang Terlalu Rumit untuk Sejarah Indonesia?

Amir Syarifuddin: Tokoh yang Terlalu Rumit untuk Sejarah Indonesia?

by jeje
Mei 13, 2026

Amir Syarifuddin bukan tokoh yang mudah dijelaskan dalam satu kalimat. Ia pernah menjadi Perdana Menteri kedua Republik Indonesia, memimpin perlawanan...

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

by jeje
Mei 12, 2026

Dandhy Laksono kembali jadi sorotan. Bukan karena kontroversi biasa, tetapi karena film dokumenternya, Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, memicu rasa...

Next Post
Laka Moge di Kulon Progo, 1 Tewas dan Isu Korban Bos Rokok HS

Laka Moge di Kulon Progo, 1 Tewas dan Isu Korban Bos Rokok HS

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id