• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Minggu, Maret 22, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Life

Komitmen Siyam Sumartini Ubah Sampah di Winongo Menuju Prestasi Nasional

Februari 10, 2026
in Life
A A
Komitmen Siyam Sumartini Ubah Sampah di Winongo Menuju Prestasi Nasional

Siyam Sumartini saat berikan keterangan kepada Tabooo.id di kediamanya, Jumat (6/2/2026). (Foto:Tabooo.id)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Life – Pagi di Winongo tak pernah benar-benar sunyi. Suara motor tua membelah udara, ayam berlarian di gang sempit, dan satu hal dulu selalu datang paling awal: bau sampah. Aroma itu lebih setia daripada kopi pagi dan lebih konsisten daripada jadwal kerja. Lama-kelamaan, bau tersebut menempel di ingatan warga dan menandai hari sebelum matahari naik.

Di Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, sampah pernah menjadi lanskap. Plastik kresek menggembung seperti paru-paru kota yang kelelahan, sementara botol plastik menumpuk tanpa arah. Selama bertahun-tahun, warga hidup berdampingan dengan sisa konsumsi mereka sendiri. Pada titik tertentu, banyak yang merasa tak punya pilihan selain menerima keadaan.

Namun, justru dari tempat yang dianggap paling tak menjanjikan itulah, harapan mulai tumbuh perlahan.

Masalah Sampah yang Tak Pernah Selesai di Banyak Kota

Winongo hanya satu potongan kecil dari persoalan nasional. Hingga kini, Indonesia masih menghasilkan puluhan juta ton sampah setiap tahun. Sayangnya, banyak daerah tetap mengandalkan pola lama: buang, angkut, lalu timbun. Cara ini memang cepat, tetapi terus melahirkan masalah baru.

Di TPA Winongo, sekitar 100 ton sampah masuk setiap hari. Petugas menimbun sampah tanpa pengolahan memadai. Akibatnya, lingkungan menanggung beban berat. Bau menyengat muncul hampir setiap hari. Selain itu, nyamuk berkembang biak dengan mudah. Tak heran jika demam berdarah menjadi cerita yang akrab di obrolan warga.

Pada kondisi seperti ini, masyarakat sering memosisikan sampah sebagai musuh. Mereka berusaha menyingkirkannya secepat mungkin dan menyerahkannya ke pihak lain. Padahal, setiap plastik dan botol lahir dari pilihan sehari-hari mereka sendiri.

Siyam Sumartini dan Keputusan untuk Berhenti Mengeluh

Di tengah situasi itu, Siyam Sumartini memilih jalan berbeda. Pada 11 November 2010, ia memutuskan berhenti mengeluh dan mulai bergerak. Ia mendirikan Bank Sampah Matahari bukan karena proyek atau lomba, melainkan karena keresahan yang terus menekan pikirannya.

Setiap hari, ia memandangi gunungan sampah lalu mengajukan pertanyaan sederhana: mengapa kita membuang sesuatu yang kita hasilkan sendiri tanpa rasa tanggung jawab?

Alih-alih menyalahkan warga, Siyam justru mengajak mereka berpikir ulang. Langkah pertama dimulai dari rumah. Kebiasaan memilah perlahan diperkenalkan. Seiring waktu, kesadaran tumbuh bahwa sampah bukan akhir perjalanan, melainkan proses yang bisa diarahkan.

“Tujuannya agar masyarakat melek terhadap sampah yang dihasilkan sendiri dan bisa menjadikan sampah menjadi cuan,” ujar Siyam. Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi diam-diam menggugat budaya abai yang selama ini dianggap wajar.

Mengubah Sampah Rumah Tangga Jadi Sumber Penghasilan

Di Bank Sampah Matahari, sampah tidak berakhir di bak truk. Sebaliknya, warga mengolahnya dengan tangan mereka sendiri. Plastik kresek dan sendok makan bekas berubah menjadi tas dan bunga hias. Sementara itu, botol plastik dipotong, dirangkai, lalu disulap menjadi sapu, asbak, meja, kursi, baki, hingga tempat sampah.

Setiap bulan, tim produksi mampu menghasilkan hampir 100 sapu. Melalui proses itu, sekitar 30 ribu botol plastik terselamatkan dari TPA. Angka ini tentu penting. Namun, yang jauh lebih berharga adalah perubahan cara pandang. Kini, warga melihat sampah sebagai aset.

Bagi mereka, kegiatan ini bukan sekadar kerajinan. Selain memberi penghasilan tambahan, bank sampah juga menjadi tabungan alternatif dan bukti bahwa masalah besar bisa dikelola secara mandiri.

Dari Botol Bekas ke Barang yang Bisa Dijual

Paradoks terasa jelas di Winongo. Barang yang dulu dibuang tanpa pikir kini mampu membayar kebutuhan harian. Bahkan, botol air mineral yang tampak sepele justru menjadi penyambung hidup.

Di sisi lain, kota modern seolah bercermin pada dirinya sendiri. Kita membeli cepat, membuang lebih cepat, lalu terkejut saat sampah menumpuk. Dalam konteks itu, Bank Sampah Matahari membalik logika lama. Warga memperlakukan sampah seperti tabungan: mereka mencatatnya, menghargainya, lalu menyimpannya untuk masa depan.

Keberhasilan dari Gang Sempit yang Diakui Nasional

Seiring waktu, perubahan di Winongo tak lagi berhenti sebagai cerita lokal. Konsistensi warga dan kerja panjang Bank Sampah Matahari akhirnya menembus panggung nasional. Pada 2025, inovasi ini masuk Top 99 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (SINOVIK), mengungguli 2.476 nominator dari seluruh Indonesia.

RelatedPosts

Sunyi Nyepi, Riuh Lebaran: Dua Jalan, Satu Makna tentang Manusia

Nyepi: Saat Dunia Berhenti dan Manusia Mulai Mendengar Diri Sendiri

Pengakuan tersebut bukan sekadar piagam. Lebih dari itu, prestasi ini menegaskan bahwa solusi berbasis warga mampu berdiri sejajar dengan program besar yang lahir dari birokrasi. Bank Sampah Matahari membuktikan bahwa inovasi tidak selalu berwujud teknologi canggih. Kebiasaan baru yang dijalankan bersama pun bisa menciptakan dampak nyata.

Karena keberhasilan itu, Pemerintah Kota Madiun kemudian mengadopsi sistem tata kelola Bank Sampah Matahari sebagai model program “satu bank sampah satu RT”. Dari satu gang sempit di Winongo, gagasan tersebut menyebar ke banyak sudut kota.

Warga Dapat Uang, Lingkungan Bersih, Kota Punya Arah

Dampak keberhasilan itu terasa langsung dalam kehidupan sehari-hari. Warga membawa pulang uang tambahan. Lingkungan menjadi lebih bersih. Pada saat yang sama, volume sampah yang mengalir ke TPA perlahan berkurang. Pemerintah kota pun mendapat mitra nyata dalam pengelolaan sampah.

Lebih jauh lagi, bank sampah ini mengubah posisi warga. Mereka tidak lagi menjadi korban masalah lingkungan. Sebaliknya, mereka tampil sebagai aktor perubahan yang aktif. Alih-alih menunggu solusi dari atas, warga membangunnya dari bawah.

Anak Muda Mulai Belajar Bertanggung Jawab pada Sampah

Siyam memahami bahwa perubahan harus lintas generasi. Oleh karena itu, ia melibatkan anak muda sejak awal. Mereka belajar memilah, mengolah, dan memahami konsekuensi dari setiap sampah yang mereka hasilkan.

Di tengah gaya hidup instan yang banyak menjebak anak muda kota besar, Winongo menawarkan cerita lain. Hidup bisa berjalan lebih pelan. Kesadaran bisa tumbuh sejak dini. Tanggung jawab tidak selalu berat jika dijalani bersama.

Sampah Bukan Cuma Urusan Buang, Tapi Urusan Sikap

Bagi Tabooo, satu hal menjadi jelas: sampah tidak pernah netral. Ia selalu berbicara tentang ketimpangan. Tentang siapa yang bebas membuang dan siapa yang harus menanggung akibatnya. Tentang pusat kota yang rapi dan pinggiran yang menerima sisa.

Bank Sampah Matahari mengingatkan kita bahwa solusi tidak selalu datang dari proyek mahal. Sering kali, solusi lahir dari warga yang lelah mengeluh lalu memilih bergerak. Meski begitu, tanggung jawab tidak boleh berhenti di sana. Negara tetap harus hadir. Bank sampah adalah jawaban, bukan alasan untuk lepas tangan.

Pertanyaan Terakhir: Masih Mau Anggap Sampah Sepele?

“Kalau sampah saja bisa jadi tabungan emas, alasan apa lagi untuk terus membuangnya sembarangan?” kata Siyam.

Pada akhirnya, pertanyaan itu menggantung tanpa perlu jawaban cepat. Ia tidak menggurui, tetapi mengajak kita bercermin. Di tengah krisis lingkungan dan krisis empati, mungkin kita tidak membutuhkan ide besar. Yang kita perlukan hanyalah keberanian meninjau ulang hal-hal kecil yang selama ini kita remehkan.

Di Winongo, sampah tidak lagi sekadar sisa. Ia berubah menjadi arsip kesadaran dan pengingat bahwa perubahan selalu bisa dimulai dari rumah.

Sekarang tinggal satu pilihan: kita mau belajar, atau kembali membuangnya begitu saja? @eko

Tags: bank sampahbank sampah mataharidaur ulang sampahkisah inspiratifKomitmenmadiunSiyam SumartiniWinongo
Next Post
Kebakaran Dini Hari di Mampang, Kerugian Warga Nyaris Rp3 Miliar

Kebakaran Hanguskan 16 Rumah di Bangka Jaksel, Kerugian Rp2,9 Miliar

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • KPK Buka Peluang Tahanan Rumah, Kasus Yaqut Jadi Sorotan Publik

    KPK Buka Peluang Tahanan Rumah, Kasus Yaqut Jadi Sorotan Publik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Trump Beri Ultimatum 48 Jam ke Iran untuk Buka Selat Hormuz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puncak Arus Balik Lebaran 2026 Diprediksi Terjadi dalam Dua Gelombang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gelar Griya di Istana, Prabowo Satukan Elite Politik dalam Suasana Lebaran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Karaton ke Masjid Agung, Gunungan Garebeg Pasa Jadi Rebutan Ratusan Warga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.