Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Komdigi Sidak Meta: Kepatuhan di Bawah 30 Persen, Pemerintah Desak Buka Algoritma

by dimas
Maret 5, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia mendatangi kantor Meta Platforms di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, pada Rabu (4/3/2026). Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, memimpin langsung inspeksi mendadak itu setelah pemerintah menilai tingkat kepatuhan Meta terhadap regulasi Indonesia masih rendah.

Meutya menyebut pemerintah telah menempuh berbagai jalur komunikasi, mulai dari surat resmi hingga pendekatan persuasif. Namun, menurutnya, Meta belum memenuhi banyak kewajiban. Karena itu, pemerintah akhirnya memilih turun langsung ke lapangan.

“Banyak kepatuhan yang belum dilaksanakan,” tegas Meutya usai sidak.

Kepatuhan Rendah di Pasar 230 Juta Pengguna

Saat ditanya soal tingkat kepatuhan, Meutya menjawab lugas: di bawah 30 persen. Angka itu menjadi sorotan karena Indonesia memiliki sekitar 230 juta pengguna internet. Artinya, Meta mengelola salah satu pasar digital terbesar di dunia, tetapi belum sepenuhnya mengikuti aturan yang berlaku.

Dalam sidak tersebut, Komdigi meminta Meta membuka penjelasan soal algoritma dan sistem moderasi konten. Pemerintah juga menuntut perusahaan memenuhi kewajiban pelaporan sesuai regulasi nasional. Beberapa pertanyaan teknis, menurut Meutya, belum mendapat jawaban memadai dari pihak Meta.

Ini Belum Selesai

Kapolda Sulsel Usul Arena Tawuran 10 Lawan 10, Polisi Bidik Produsen Busur

BBM Belum Normal, ASN Jember WFH: Siapa Menjamin Layanan Publik Tetap Jalan?

Karena itu, Komdigi meminta peningkatan pengawasan, terutama terkait penyebaran disinformasi dan keamanan pengguna.

Disinformasi Kesehatan hingga Polarisasi Politik

Meutya menyoroti lonjakan laporan masyarakat terkait provokasi dan misinformasi di ruang digital. Ia menyebut isu kesehatan sebagai kategori yang paling banyak dikeluhkan. Para dokter dan tenaga kesehatan, kata dia, mengadukan maraknya informasi keliru yang berdampak serius, bahkan membahayakan nyawa anak-anak.

Gerakan anti-vaksin campak atau MMR termasuk dalam daftar temuan pemerintah. Meski bukan satu-satunya kasus, isu ini menunjukkan bagaimana disinformasi dapat memengaruhi keputusan medis masyarakat.

Selain kesehatan, pemerintah juga mencatat peningkatan penipuan dan scamming melalui platform digital. Modus kejahatan ini menyasar kelompok ekonomi bawah yang memiliki literasi digital terbatas. Kerugian finansial pun tidak kecil.

Di sisi lain, pemerintah melihat pola disinformasi yang memicu polarisasi sosial. Konten semacam ini, menurut Meutya, tidak hanya menyerang pemerintah, tetapi juga memecah belah masyarakat. Narasi yang mengadu domba kelompok dengan kelompok lain berpotensi memperuncing konflik sosial, terutama menjelang momentum politik dan kebijakan strategis.

Tekanan Regulasi dan Dampak Ekonomi

Langkah sidak ini memperlihatkan perubahan sikap pemerintah terhadap platform global. Selama ini, Indonesia cenderung mengedepankan pendekatan dialog. Namun kini, pemerintah menunjukkan ketegasan karena menyangkut keamanan ruang digital dan stabilitas sosial.

Jika Meta tidak meningkatkan kepatuhan, pemerintah memiliki instrumen sanksi administratif hingga pembatasan layanan. Kebijakan semacam itu tentu berdampak luas. Pelaku UMKM digital, kreator konten, hingga pelaku periklanan digital sangat bergantung pada ekosistem platform Meta untuk menjalankan bisnis mereka.

Dengan kata lain, yang paling terdampak bukan hanya perusahaan teknologi raksasa, tetapi juga jutaan pengguna yang menggantungkan penghasilan pada platform tersebut.

Pemerintah kini berada di persimpangan menjaga kedaulatan digital tanpa mengganggu pertumbuhan ekonomi digital. Sementara itu, Meta harus membuktikan komitmennya pada regulasi lokal, bukan sekadar memanen pasar besar.

Di negeri dengan ratusan juta pengguna internet, algoritma bukan lagi sekadar kode. Ia menentukan apa yang kita baca, percaya, bahkan perdebatkan. Pertanyaannya sederhana: siapa yang benar-benar mengendalikan ruang digital kita? @dimas

Tags: DigitalDisinformasiEkonomi IndonesiaKeamanan NegarakedaulatanKomdigiKontenLawanLiterasiMetaMeutya HafidRegulasi

Kamu Melewatkan Ini

Kuota Hangus Belum Tuntas: Kepatuhan Operator Baru 50–70 Persen

Kuota Hangus Belum Tuntas: Kepatuhan Operator Baru 50–70 Persen

by teguh
Oktober 14, 2026

Perlindungan kuota internet belum sepenuhnya merata. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyebut tingkat kepatuhan operator seluler baru mencapai 50–70...

JABFest 2026: Seni Melawan Pendangkalan, Buku Menjaga Ingatan

JABFest 2026: Seni Melawan Pendangkalan, Buku Menjaga Ingatan

by dimas
Oktober 13, 2026

JABFest 2026 di Yogyakarta menghadirkan seni, buku, film, dan diskusi untuk melawan pendangkalan berpikir serta menjaga ingatan kolektif. Tabooo.id: Yogyakarta...

Tinggal Kelas Bukan Obat Ajaib: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Mutu Pendidikan?

Tinggal Kelas Bukan Obat Ajaib: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Mutu Pendidikan?

by teguh
Oktober 13, 2026

Wacana tinggal kelas kembali membuka perdebatan tentang mutu pendidikan Indonesia. Sebelum meminta siswa mengulang pelajaran, pemerintah perlu memastikan sekolah mampu...

Next Post
Dapat Restu Negara, Industri Musik Siap Naik Level

Dapat Restu Negara, Industri Musik Siap Naik Level

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id