Minggu, Juni 28, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Komdigi Sidak Meta: Kepatuhan di Bawah 30 Persen, Pemerintah Desak Buka Algoritma

by dimas
Maret 5, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia mendatangi kantor Meta Platforms di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, pada Rabu (4/3/2026). Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, memimpin langsung inspeksi mendadak itu setelah pemerintah menilai tingkat kepatuhan Meta terhadap regulasi Indonesia masih rendah.

Meutya menyebut pemerintah telah menempuh berbagai jalur komunikasi, mulai dari surat resmi hingga pendekatan persuasif. Namun, menurutnya, Meta belum memenuhi banyak kewajiban. Karena itu, pemerintah akhirnya memilih turun langsung ke lapangan.

“Banyak kepatuhan yang belum dilaksanakan,” tegas Meutya usai sidak.

Kepatuhan Rendah di Pasar 230 Juta Pengguna

Saat ditanya soal tingkat kepatuhan, Meutya menjawab lugas: di bawah 30 persen. Angka itu menjadi sorotan karena Indonesia memiliki sekitar 230 juta pengguna internet. Artinya, Meta mengelola salah satu pasar digital terbesar di dunia, tetapi belum sepenuhnya mengikuti aturan yang berlaku.

Dalam sidak tersebut, Komdigi meminta Meta membuka penjelasan soal algoritma dan sistem moderasi konten. Pemerintah juga menuntut perusahaan memenuhi kewajiban pelaporan sesuai regulasi nasional. Beberapa pertanyaan teknis, menurut Meutya, belum mendapat jawaban memadai dari pihak Meta.

Ini Belum Selesai

Suran Agung PSHW ke-123: Madiun Mengawal Persaudaraan

TABOOO Corner Hadir di Winongo, Buka Ruang Membaca Realitas

Karena itu, Komdigi meminta peningkatan pengawasan, terutama terkait penyebaran disinformasi dan keamanan pengguna.

Disinformasi Kesehatan hingga Polarisasi Politik

Meutya menyoroti lonjakan laporan masyarakat terkait provokasi dan misinformasi di ruang digital. Ia menyebut isu kesehatan sebagai kategori yang paling banyak dikeluhkan. Para dokter dan tenaga kesehatan, kata dia, mengadukan maraknya informasi keliru yang berdampak serius, bahkan membahayakan nyawa anak-anak.

Gerakan anti-vaksin campak atau MMR termasuk dalam daftar temuan pemerintah. Meski bukan satu-satunya kasus, isu ini menunjukkan bagaimana disinformasi dapat memengaruhi keputusan medis masyarakat.

Selain kesehatan, pemerintah juga mencatat peningkatan penipuan dan scamming melalui platform digital. Modus kejahatan ini menyasar kelompok ekonomi bawah yang memiliki literasi digital terbatas. Kerugian finansial pun tidak kecil.

Di sisi lain, pemerintah melihat pola disinformasi yang memicu polarisasi sosial. Konten semacam ini, menurut Meutya, tidak hanya menyerang pemerintah, tetapi juga memecah belah masyarakat. Narasi yang mengadu domba kelompok dengan kelompok lain berpotensi memperuncing konflik sosial, terutama menjelang momentum politik dan kebijakan strategis.

Tekanan Regulasi dan Dampak Ekonomi

Langkah sidak ini memperlihatkan perubahan sikap pemerintah terhadap platform global. Selama ini, Indonesia cenderung mengedepankan pendekatan dialog. Namun kini, pemerintah menunjukkan ketegasan karena menyangkut keamanan ruang digital dan stabilitas sosial.

Jika Meta tidak meningkatkan kepatuhan, pemerintah memiliki instrumen sanksi administratif hingga pembatasan layanan. Kebijakan semacam itu tentu berdampak luas. Pelaku UMKM digital, kreator konten, hingga pelaku periklanan digital sangat bergantung pada ekosistem platform Meta untuk menjalankan bisnis mereka.

Dengan kata lain, yang paling terdampak bukan hanya perusahaan teknologi raksasa, tetapi juga jutaan pengguna yang menggantungkan penghasilan pada platform tersebut.

Pemerintah kini berada di persimpangan menjaga kedaulatan digital tanpa mengganggu pertumbuhan ekonomi digital. Sementara itu, Meta harus membuktikan komitmennya pada regulasi lokal, bukan sekadar memanen pasar besar.

Di negeri dengan ratusan juta pengguna internet, algoritma bukan lagi sekadar kode. Ia menentukan apa yang kita baca, percaya, bahkan perdebatkan. Pertanyaannya sederhana: siapa yang benar-benar mengendalikan ruang digital kita? @dimas

Tags: DigitalDisinformasiEkonomi IndonesiaKeamanan NegarakedaulatanKomdigiKontenLawanLiterasiMetaMeutya HafidRegulasi

Kamu Melewatkan Ini

Orang Kaya Menikmati Separuh Subsidi BBM, Siapa Sebenarnya Dibantu Negara?

Orang Kaya Menikmati Separuh Subsidi BBM, Siapa Sebenarnya Dibantu Negara?

by teguh
Juni 13, 2026

Bagi banyak orang, subsidi BBM terlihat sebagai bentuk kehadiran negara. Selama harga bahan bakar tetap terjangkau, masyarakat merasa pemerintah masih...

Bank Dunia: Orang Kaya Nikmati Mayoritas Subsidi BBM

Bank Dunia: Orang Kaya Nikmati Mayoritas Subsidi BBM

by teguh
Juni 13, 2026

Pemerintah selama bertahun-tahun mengandalkan subsidi bahan bakar minyak (BBM) untuk menjaga daya beli masyarakat. Namun, temuan terbaru Bank Dunia menunjukkan...

Investor Sudah Datang, Tapi Mesin Negara Masih Pemanasan?

Investor Sudah Datang, Tapi Mesin Negara Masih Pemanasan?

by teguh
Juni 12, 2026

"Rakyat tidak membutuhkan narasi kemenangan. Rakyat membutuhkan bukti bahwa negara bekerja." Pernyataan pengamat politik Rocky Gerung itu mungkin terdengar sederhana....

Next Post
Dapat Restu Negara, Industri Musik Siap Naik Level

Dapat Restu Negara, Industri Musik Siap Naik Level

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id