• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home News Nasional

Komdigi Sidak Meta: Kepatuhan di Bawah 30 Persen, Pemerintah Desak Buka Algoritma

Maret 5, 2026
in Nasional, News
A A
Komdigi Sidak Meta: Kepatuhan di Bawah 30 Persen, Pemerintah Desak Buka Algoritma

Meutya Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital RI, memberikan keterangan kepada awak media usai melakukan inspeksi terkait kepatuhan platform digital di Jakarta. (Foto istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia mendatangi kantor Meta Platforms di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, pada Rabu (4/3/2026). Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, memimpin langsung inspeksi mendadak itu setelah pemerintah menilai tingkat kepatuhan Meta terhadap regulasi Indonesia masih rendah.

Meutya menyebut pemerintah telah menempuh berbagai jalur komunikasi, mulai dari surat resmi hingga pendekatan persuasif. Namun, menurutnya, Meta belum memenuhi banyak kewajiban. Karena itu, pemerintah akhirnya memilih turun langsung ke lapangan.

“Banyak kepatuhan yang belum dilaksanakan,” tegas Meutya usai sidak.

Kepatuhan Rendah di Pasar 230 Juta Pengguna

Saat ditanya soal tingkat kepatuhan, Meutya menjawab lugas: di bawah 30 persen. Angka itu menjadi sorotan karena Indonesia memiliki sekitar 230 juta pengguna internet. Artinya, Meta mengelola salah satu pasar digital terbesar di dunia, tetapi belum sepenuhnya mengikuti aturan yang berlaku.

Dalam sidak tersebut, Komdigi meminta Meta membuka penjelasan soal algoritma dan sistem moderasi konten. Pemerintah juga menuntut perusahaan memenuhi kewajiban pelaporan sesuai regulasi nasional. Beberapa pertanyaan teknis, menurut Meutya, belum mendapat jawaban memadai dari pihak Meta.

Karena itu, Komdigi meminta peningkatan pengawasan, terutama terkait penyebaran disinformasi dan keamanan pengguna.

Disinformasi Kesehatan hingga Polarisasi Politik

Meutya menyoroti lonjakan laporan masyarakat terkait provokasi dan misinformasi di ruang digital. Ia menyebut isu kesehatan sebagai kategori yang paling banyak dikeluhkan. Para dokter dan tenaga kesehatan, kata dia, mengadukan maraknya informasi keliru yang berdampak serius, bahkan membahayakan nyawa anak-anak.

Gerakan anti-vaksin campak atau MMR termasuk dalam daftar temuan pemerintah. Meski bukan satu-satunya kasus, isu ini menunjukkan bagaimana disinformasi dapat memengaruhi keputusan medis masyarakat.

Selain kesehatan, pemerintah juga mencatat peningkatan penipuan dan scamming melalui platform digital. Modus kejahatan ini menyasar kelompok ekonomi bawah yang memiliki literasi digital terbatas. Kerugian finansial pun tidak kecil.

Di sisi lain, pemerintah melihat pola disinformasi yang memicu polarisasi sosial. Konten semacam ini, menurut Meutya, tidak hanya menyerang pemerintah, tetapi juga memecah belah masyarakat. Narasi yang mengadu domba kelompok dengan kelompok lain berpotensi memperuncing konflik sosial, terutama menjelang momentum politik dan kebijakan strategis.

RelatedPosts

Jubir IRGC Tewas Diserang AS-Israel, Konflik Iran Kian Memanas

Lebaran 2026: Prabowo Undang Ribuan Warga ke Istana Kepresidenan

Tekanan Regulasi dan Dampak Ekonomi

Langkah sidak ini memperlihatkan perubahan sikap pemerintah terhadap platform global. Selama ini, Indonesia cenderung mengedepankan pendekatan dialog. Namun kini, pemerintah menunjukkan ketegasan karena menyangkut keamanan ruang digital dan stabilitas sosial.

Jika Meta tidak meningkatkan kepatuhan, pemerintah memiliki instrumen sanksi administratif hingga pembatasan layanan. Kebijakan semacam itu tentu berdampak luas. Pelaku UMKM digital, kreator konten, hingga pelaku periklanan digital sangat bergantung pada ekosistem platform Meta untuk menjalankan bisnis mereka.

Dengan kata lain, yang paling terdampak bukan hanya perusahaan teknologi raksasa, tetapi juga jutaan pengguna yang menggantungkan penghasilan pada platform tersebut.

Pemerintah kini berada di persimpangan menjaga kedaulatan digital tanpa mengganggu pertumbuhan ekonomi digital. Sementara itu, Meta harus membuktikan komitmennya pada regulasi lokal, bukan sekadar memanen pasar besar.

Di negeri dengan ratusan juta pengguna internet, algoritma bukan lagi sekadar kode. Ia menentukan apa yang kita baca, percaya, bahkan perdebatkan. Pertanyaannya sederhana: siapa yang benar-benar mengendalikan ruang digital kita? @dimas

Tags: DigitalDisinformasiEkonomiKeamanankedaulatanKomdigiKontenLawanLiterasiMetaMeutya HafidModerasiRegulasi
Next Post
Dapat Restu Negara, Industri Musik Siap Naik Level

Dapat Restu Negara, Industri Musik Siap Naik Level

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Malam Takbiran: Antara Euforia Perayaan dan Sunyi Refleksi

    Malam Takbiran: Antara Euforia Perayaan dan Sunyi Refleksi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kuta Saat Senja: Ketika Malam Mulai Dibuka untuk Dunia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lebaran Beda Hari, Antara Ilmu, Ego, dan Toleransi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 7.039 Pemudik Gratis Tiba di Tirtonadi, Mayoritas dari DKI Jakarta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prabowo Sebut Penyiraman Aktivis KontraS Terorisme, Harus Usut Dalangnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.