Tabooo.id: Vibes – Sejak kecil, kita mengenal satu hal sederhana. Rumah adalah ibu.
Di sana, kita tidak perlu menjelaskan apa pun. Bahkan tanpa kata, semuanya terasa dimengerti.
Namun, seiring waktu, ada sesuatu yang perlahan bergeser. Bukan tempatnya, bukan juga orangnya.
Sebaliknya, cara kita melihat diri sendiri mulai berubah.
Jarak yang Berubah Bentuk
Awalnya, jarak hanya soal kilometer. Kita bisa mengukurnya, bahkan merencanakannya.
Akan tetapi, semakin dewasa, jarak itu tidak lagi terlihat. Ia berubah menjadi perasaan yang sulit dijelaskan.
Rasa ragu mulai muncul. Selain itu, perasaan tidak cukup ikut tumbuh.
Karena itu, pulang tidak lagi sekadar perjalanan. Pulang menjadi keputusan yang sering kita tunda.
Kebiasaan yang Tidak Kita Sadari
Tanpa terasa, kita mulai terbiasa menunda.
Ketika ibu bertanya, jawaban yang muncul sering kali “nanti”. Lalu, kita mencari alasan yang terdengar logis.
Di sisi lain, kita juga belajar terlihat baik-baik saja. Kita tertawa, kita bercerita, kita tampak kuat.
Padahal, ada hal-hal yang masih kita simpan sendiri.
Akibatnya, “nanti” yang sederhana berubah menjadi jarak yang semakin panjang.
Pelan, Tapi Mengena
Buku Ada Duka di Bawah Telapak Kaki Ibu terasa seperti lagu yang pelan.
Tidak keras, tidak memaksa. Namun demikian, ia perlahan menetap.
Justru karena kesederhanaannya, cerita di dalamnya terasa dekat. Bahkan, ia seperti memantulkan pengalaman yang pernah kita alami.
Yang Sebenarnya Berubah
Sering kali, kita merasa rumah sudah berbeda.
Padahal, jika dipikir ulang, rumah tetap sama. Ibu tetap menunggu dengan cara yang sama.
Yang berubah justru diri kita sendiri.
Perlahan, muncul keyakinan bahwa kita harus membawa sesuatu saat pulang. Kita merasa perlu menjadi versi yang lebih baik.
Padahal, mungkin yang dibutuhkan hanya keberanian untuk kembali apa adanya.
Refleksi yang Tidak Nyaman
Pada akhirnya, jarak itu bukan tentang rumah.
Lebih jauh lagi, jarak itu berbicara tentang diri kita.
Bagaimana kita menilai diri sendiri. Bagaimana kita memberi syarat untuk merasa cukup.
Dan tanpa disadari, kita menjadi asing bagi diri sendiri.
Penutup: Pulang Itu Keberanian
Pulang tidak selalu membutuhkan perjalanan jauh.
Kadang, pulang hanya membutuhkan keberanian.
Keberanian untuk jujur. Keberanian untuk tidak sempurna. Selain itu, keberanian untuk percaya bahwa kita tetap layak diterima.
Karena rumah tidak pernah pergi.
Namun, keberanian untuk kembali sering kali yang hilang. @jeje







