• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Vibes

Ketika Pangkat Lebih Tinggi Daripada ADAB

November 22, 2025
in Vibes
A A
Ketika Pangkat Lebih Tinggi Daripada ADAB

Ilustrasi

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Di negeri yang mengaku menjunjung sopan santun, kita justru melihat ironi yang terus muncul. Pejabat yang naik pangkat sering menurunkan adab. Kini kamera menangkap lebih banyak kejadian. Warganet menyebarkan videonya lebih cepat. Akibatnya, publik menontonnya sebagai tontonan nasional lengkap dengan komentar pedas yang muncul sebelum aparat tiba di lokasi.

Seragam Menebalkan Ego

Setiap pejabat atau aparat yang marah di ruang publik biasanya memakai pola yang sama. Mereka menaikkan nada lebih dulu. Logika mereka muncul belakangan.
Mereka menegur warga karena parkir miring. Mereka juga menghentikan pengendara hanya karena tidak memberi hormat. Selain itu, mereka sering mengucapkan kalimat khas arogansi digital:
“Kamu tahu saya siapa?”

RelatedPosts

Pantai Kuta Bali: Surga yang Dijual, atau Ilusi yang Disepakati?

Dari Ledakan ke Perdamaian: Makna Tugu Ground Zero di Jalan Legian

Pada dasarnya, mereka ingin diperlakukan seperti raja kecil. Ironisnya, mereka sendiri tahu bahwa jawabannya tidak penting.

Mereka Memaksa Hormat, Bukan Menghasilkan Hormat

Banyak pejabat lupa bahwa perilaku yang baik akan memunculkan hormat. Namun, di lapangan, mereka justru berteriak dan mengklaim kebenaran sekeras mungkin.
Masyarakat akhirnya memahami pola itu. Pejabat meminta hormat. Aparat meminta perlakuan khusus. Orang berpangkat meminta pelayanan.
Sementara itu, adab menghilang secepat klarifikasi standar: “Sebenarnya tidak seperti itu.”

Mereka Memakai Pangkat sebagai Kartu Debit Moral

Dalam banyak peristiwa, pejabat memakai pangkat sebagai pembenaran instan.
Mereka mengklaim benar meski mereka salah. Mereka mencari pembelaan meski mereka keliru. Bahkan mereka memutar ulang versi kronologi sendiri meski mereka melanggar aturan.

Pada faktanya, mereka memperlakukan pangkat seperti kartu debit. Mereka gesek, lalu moral pun tersisih.

Publik Hanya Bisa Merekam atau Mengalah

Warga yang menghadapi arogansi ini biasanya hanya memilih dua langkah. Mereka diam agar tidak ribut. Atau, mereka merekam agar bukti lebih dipercaya daripada laporan lisan.
Setiap video viral membawa pesan yang jelas:
ketika pangkat naik, pemiliknya wajib menaikkan adab.
Sayangnya, pesan itu lebih sering mencapai warganet daripada pelakunya.

Kita Menyadari Masalahnya, Tapi Kita Takut Menyebut Nama

Semua orang memahami bahwa jabatan sering membuat seseorang lupa menjadi manusia. Namun, banyak pihak tetap enggan menyebut nama pelakunya. Mereka takut dianggap “merusak citra institusi”.
Padahal perilakunya yang merusak citra itu—bukan kritiknya.
Pelakunya terus mengulang pola yang sama: mereka merasa berhak marah, merasa boleh menginjak, dan merasa kebal karena pangkat.

Pertanyaan yang Pejabat Selalu Hindari

Di balik setiap arogansi, muncul satu pertanyaan yang mereka hindari:
mereka memakai pangkat untuk melayani atau untuk meminta keistimewaan?

Pada akhirnya, rakyat semakin jenuh melihat “pahlawan palsu” yang bersuara lantang dan beradab tipis.
Sebaliknya, rakyat membutuhkan pejabat yang sadar bahwa jabatan itu sementara.
Terlebih lagi, jejak buruk mereka tetap hidup selamanya di internet. @jeje

Tags: abadpangkatpemerintahRakyat IndonesiaVibes
Next Post
Gen Z Makin Antisosial

Gen Z Malas Ngumpul, Industri Mulai Kewalahan.

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Malam Takbiran: Antara Euforia Perayaan dan Sunyi Refleksi

    Malam Takbiran: Antara Euforia Perayaan dan Sunyi Refleksi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kuta Saat Senja: Ketika Malam Mulai Dibuka untuk Dunia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lebaran Beda Hari, Antara Ilmu, Ego, dan Toleransi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 7.039 Pemudik Gratis Tiba di Tirtonadi, Mayoritas dari DKI Jakarta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prabowo Sebut Penyiraman Aktivis KontraS Terorisme, Harus Usut Dalangnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.