Minggu, Juni 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ketika Festival Film Jadi Arena Ambisi, Cerita Tak Lagi Utama

by jeje
April 27, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Sekarang banyak film lahir bukan untuk penonton, tapi untuk juri. Sineas muda sibuk menebak selera festival, bukan membangun cerita. Lalu muncul pertanyaan yang jarang diakui: kalau semua ingin menang, siapa yang benar-benar ingin dipahami?

Tabooo.id: Deep – Di sebuah ruang editing kecil, seorang sineas muda memutar ulang filmnya. Ia tidak lagi fokus memastikan ceritanya sampai ke penonton. Sebaliknya, ia mulai bertanya: apakah ini cukup “festival”?

Adegan yang terasa terlalu sederhana ia hapus. Simbol yang bahkan tidak ia yakini, justru ia tambahkan. Sementara itu, pola-pola yang dianggap “disukai juri” ia ikuti tanpa banyak pertanyaan.

Pada titik itu, film perlahan kehilangan rohnya. Cerita bergeser menjadi strategi.

Ledakan Sineas Baru, Tapi Arah yang Kabur

Saat ini, jumlah sineas muda terus bertambah. Teknologi membuat produksi semakin mudah. Selain itu, kamera semakin terjangkau dan distribusi makin terbuka.

Namun di balik pertumbuhan tersebut, muncul satu pertanyaan yang jarang dibahas: mereka sebenarnya membuat film untuk siapa?

Ini Belum Selesai

Sekolah Negeri Tak Cukup: 77 Ribu Calon Siswa Jadi Korban Sistem

Kaya di Atas Peta, Miskin di Dalam Realitas

Sebagian memilih diam. Sementara yang lain hanya mengikuti arus. Mereka masuk festival, mengejar seleksi, lalu berharap menang.

Setelah itu, arah kembali kabur.

Festival yang Kehilangan Fungsi Awalnya

Festival Film Indonesia tidak lahir hanya untuk ambisi.

Sejak awal, festival hadir untuk membangun budaya. Ia seharusnya menjadi ruang belajar baik bagi sineas maupun penonton.

Melalui festival, publik bisa memahami cara baru menikmati film. Mereka belajar membaca visual, sekaligus menangkap makna di balik gambar.

Namun sekarang, arah itu mulai bergeser.

Alih-alih membangun pemahaman, festival justru lebih sibuk menentukan pemenang.

Ketika Edukasi Kalah oleh Validasi

Masalahnya bukan pada kompetisi itu sendiri.

Namun, ketika validasi menjadi tujuan utama, arah mulai berubah. Sineas tidak lagi bertanya apa yang ingin disampaikan. Mereka justru bertanya apa yang ingin dilihat juri.

Akibatnya, film terasa semakin eksklusif. Tidak semua penonton bisa masuk. Bahkan, sebagian merasa dijauhkan.

Ketika pemahaman hilang, penonton pun perlahan menjauh.

Suara dari Sineas Muda

Keluh kesah ini bukan tanpa suara.

Seorang sineas muda, Raka , mengaku merasakan tekanan tersebut.

“Jujur, sekarang banyak yang bikin film buat menang. Bukan buat ditonton,” katanya.

Menurutnya, festival film seharusnya punya peran lebih besar.

“Harusnya festival itu jadi ruang edukasi. Bukan cuma buat kita yang bikin film, tapi juga buat masyarakat. Biar mereka punya cara baru melihat cerita lewat visual.”

Ia menambahkan, pola yang ada saat ini justru terasa sempit.

“Sekarang kayak gini: ikut, menang, selesai. Atau ikut, kalah, terus karya kita hilang. Padahal film itu harusnya hidup, bukan berhenti di situ.”

Dampak yang Tidak Terlihat

Dampaknya tidak langsung terasa, tapi nyata.

Ketika film gagal terhubung dengan penonton, ekosistem ikut terdampak. Diskusi tidak berkembang. Budaya menonton tidak tumbuh. Bahkan, potensi ekonomi ikut tertahan.

Padahal, industri film bisa menjadi penggerak besar. Film yang kuat mampu menghidupkan bioskop, membuka lapangan kerja, hingga menarik investasi.

Namun semua itu membutuhkan penonton yang terlibat, bukan sekadar hadir.

Antara Idealisme dan Arah yang Hilang

Ambisi untuk menang bukan hal yang salah.

Namun, ketika ambisi itu menjadi satu-satunya tujuan, arah mulai kabur. Film kehilangan keberanian untuk jujur. Eksplorasi pun berhenti.

Ironisnya, di tengah banyaknya karya, justru semakin sedikit yang benar-benar terasa.

Ini Bukan Sekadar Festival, Ini Sistem

Masalah ini tidak berdiri sendiri.

Lebih jauh, ini tentang sistem yang terbentuk. Sistem yang memberi penghargaan, tetapi belum tentu membangun pemahaman.

Di satu sisi, pemenang dirayakan. Namun di sisi lain, film belum tentu sampai ke publik.

Selama pola ini bertahan, siklus yang sama akan terus terulang.

Closing

Festival film seharusnya tidak hanya melahirkan pemenang.

Sebaliknya, festival harus melahirkan pemahaman.

Karena pada akhirnya, film tidak hidup di ruang juri.

Film hidup di kepala dan hati penonton.

Lalu, jika semua sibuk mengejar kemenangan siapa yang benar-benar mendengarkan cerita itu? @jeje

Tags: CinemaFestival Film IndonesiaFilm IndonesiaSineas Muda

Kamu Melewatkan Ini

Saputra Kori: Dari Parodi Tik Tok ke Tria yang Mencintai Ibunya

Saputra Kori: Dari Parodi Tik Tok ke Tria yang Mencintai Ibunya

by dimas
Juni 5, 2026

Saputra Kori membuktikan dirinya bukan sekadar kreator TikTok. Dari video parodi hingga memerankan Tria dalam film Jangan Buang Ibu, ia...

“Jangan Buang Ibu”: Saat Rindu Tak Lagi Punya Waktu

“Jangan Buang Ibu”: Saat Rindu Tak Lagi Punya Waktu

by dimas
Juni 3, 2026

Jangan Buang Ibu mengangkat luka keluarga, trauma kehilangan, dan kerinduan yang terlambat disadari saat waktu bersama orang tua semakin menipis....

Jangan Buang Ibu: Film yang Menampar Anak Sebelum Penyesalan Datang

Film Jangan Buang Ibu: Kesepian di Balik Pengorbanan

by dimas
Juni 3, 2026

Jangan Buang Ibu menjadi drama keluarga yang menyentuh tentang pengorbanan seorang ibu dan anak-anak yang terlambat menyadari makna kehadirannya. Tabooo.id...

Next Post
Dari Sarekat Islam ke Partai Buruh: Evolusi Gerakan Kelas di Indonesia

Dari Sarekat Islam ke Partai Buruh: Evolusi Gerakan Kelas di Indonesia

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id