Tabooo.id: Life – Sore merayap pelan di Gang Jati Subur 2, Jalan Imam Bonjol, Kota Madiun. Di sebuah rumah sederhana, ratusan wayang tergantung rapi di dinding. Tatapan Arjuna tampak teduh, Gatotkaca berdiri gagah, dan gunungan menjulang seperti doa yang tak pernah padam.
Di antara aroma cat dan kayu, Herlin Susilowati menggenggam kuas dengan mantap. Tubuhnya memiliki keterbatasan, tetapi tekadnya nyaris tak berbatas. Ia tidak ingin dikenal karena kekurangannya; ia ingin dikenal karena karyanya.
Dari Kardus Bekas Menjadi Warisan Bernilai
Sejak lulus SMA pada 2001, Herlin menekuni kerajinan wayang di Sanggar Wayang Hias Karya Budaya, meneruskan jejak ayahnya. Baginya, wayang bukan sekadar hiasan, melainkan warisan nilai dan identitas. Namun ia sadar zaman berubah.
Anak-anak kini lebih akrab dengan layar gawai daripada kelir dan gamelan. Dari situlah muncul gagasan sederhana namun visioner: mengolah kardus bekas menjadi wayang. “Saya melihat banyak kardus tidak terpakai. Saya berpikir, bagaimana limbah bisa jadi rupiah,” ujarnya. Dari limbah yang dianggap tak bernilai, lahirlah tokoh-tokoh pewayangan yang ringan, terjangkau, dan ramah bagi generasi muda.
Wayang kardus buatannya dijual mulai Rp10 ribu untuk ukuran kecil. Harga yang membumi, sehingga anak-anak dapat mengenal budaya tanpa merasa terbebani. Sementara itu, Herlin tetap setia memproduksi wayang kulit kerbau dengan proses panjang dan teliti menggambar sketsa, memahat, mengecat dasar, memberi warna karakter, ‘nyawi’ atau membatik detail, melapisi emas, memernis, hingga menjemur sampai kering sempurna. Setiap tahap menuntut kesabaran dan ketekunan. Ia menjalani semuanya dengan kesungguhan, membuktikan bahwa tradisi dan inovasi dapat berjalan beriringan.
Bangkit Saat Dunia Terhenti
Sebelum pandemi, usaha Aisyah Handicraft miliknya mampu meraih omzet hingga Rp10 juta per bulan. Pesanan datang dari berbagai kota, bahkan karyanya terbang ke Amerika dan Eropa sebagai suvenir resmi dan bagian dari program pertukaran pelajar.
Mahasiswa asing berkunjung ke galerinya, belajar membuat wayang secara langsung. Dari sebuah gang kecil di Madiun, budaya lokal berdialog dengan dunia internasional. Namun ketika pandemi melanda, pesanan terhenti total. Berbulan-bulan tanpa pemasukan menjadi ujian berat.
Herlin tidak menyerah. Ia berjualan tanaman herbal secara daring untuk mengumpulkan modal membeli cat dan kembali berkarya. Ia tidak menunggu keadaan berubah; ia menyesuaikan diri dan menciptakan peluang. Kini omzetnya memang belum sepenuhnya pulih, sekitar Rp2 juta per bulan, tetapi semangatnya tetap utuh. Ia terus membuka pintu bagi siapa pun yang ingin belajar, terutama generasi muda dan sesama penyandang disabilitas.
Inspirasi yang Tumbuh dari Kesetiaan
Kisah Herlin adalah pengingat bahwa keterbatasan bukanlah titik akhir, melainkan titik mula. Ia mengubah kardus menjadi karya, kesulitan menjadi daya lenting, dan rumah sederhana menjadi ruang belajar budaya. Ia tidak meminta dikasihani ia memilih berkarya.
Dari tangannya, wayang bukan hanya cerita masa lalu, melainkan harapan yang terus digerakkan. Dan mungkin, di sanalah letak inspirasi sejati: pada keberanian untuk tetap setia, tetap berinovasi, dan tetap percaya bahwa selalu ada jalan bagi mereka yang mau melangkah. @eko




