Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kayu Gelondongan di Bencana: Bukti Nyata, Tindak Lanjut Tak Ada

by dimas
Desember 26, 2025
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Talk – Pernah nggak kamu merasa hukum itu seperti WiFi publik tersedia tapi sinyalnya lemah? Nah, kasus kayu gelondongan di lokasi bencana ini persis seperti itu. Kayu besar, bekas gergaji jelas terlihat, tapi aparat kita seolah main petak umpet. Publik? Tentu saja bertanya-tanya kenapa yang ditindak malah kakek-kakek atau nenek-nenek yang nekat menebang untuk kebutuhan sehari-hari, sementara aktor besar bebas lewat?

Bukti Ada, Tapi Tindak Lanjut? Hening

Sejumlah saksi melaporkan kayu gelondongan itu tampak baru ditebang, tersusun di lokasi terdampak bencana. Tapi aparat belum bergerak secara tegas. Apakah ini karena ada “orang besar” yang menutupi? Atau memang Polri kesulitan mengelola institusinya untuk kasus yang melibatkan aktor dengan kapasitas besar? Publik jelas nggak puas dengan jawaban yang tidak muncul-muncul ini.

Pakar lingkungan dan Kepala Pusat Studi Bencana IPB University, Prof. Bambang Hero Saharjo, menegaskan bahwa kayu-kayu besar yang ditemukan bukan fenomena alam biasa. Menurutnya, ini konsekuensi rusaknya vegetasi hutan akibat aktivitas manusia.

“Hutan sehat punya tajuk rapat yang menahan air hujan. Tapi begitu ada pembalakan liar, celah antar tajuk jadi luas, memicu erosi dan meningkatkan risiko longsor. Kayu besar pasca-bencana bukan sekadar alami, tapi dampak gangguan manusia,” tegasnya dikutip dari Antaranews.com.

Dengan kata lain, bukti kuat ada. Pertanyaannya:kenapa aparat belum menindak secara sistemik?

Ini Belum Selesai

Demokrasi Tidak Mati Karena Kritik, Tapi Karena Fanatisme Politik

Kreativitas Tidak Selalu Tenang, Kadang Datang Saat Hidup Berantakan

Ketidakadilan yang Terlihat Mata

Kayu dengan bekas gergaji jelas bisa jadi bukti awal untuk investigasi, tapi yang kena justru masyarakat kecil. Kalau hanya menjerat pelaku kecil, sementara yang punya kapasitas besar lepas, ini jelas ketidakadilan. Publik pun mulai skeptis apakah hukum di negeri ini berlaku sama untuk semua?

Warga menilai, aparat lebih cepat menindak pelanggaran kecil, sementara pelaku kuat yang bisa jadi memperparah kerusakan lingkungan dibiarkan. Kepercayaan publik terhadap profesionalisme dan independensi aparat menjadi terguncang.

Perspektif Lawan: Polri dan Kompleksitas Penegakan

Bisa jadi Polri punya alasan operasional. Penanganan kasus hutan dan kayu pasca-bencana memang rumit: bukti fisik bisa bercampur, akses lokasi susah, dan koordinasi dengan instansi lain diperlukan. Tapi kalau publik terus menunggu transparansi, argumen kompleksitas ini sulit diterima. Hukum tidak boleh tebang pilih, apalagi ketika bukti material jelas mendukung dugaan keterlibatan aktivitas manusia.

Kritik Tabooo: Saat Hukum Terlihat Pilih Kasih

Kalau hukum hanya menargetkan masyarakat kecil dan membiarkan aktor besar, ini bukan cuma soal ketidakadilan, tapi juga soal integritas institusi. Transparansi, investigasi menyeluruh, dan tindakan tegas bukan opsional mereka harus dijalankan agar hukum tetap punya kredibilitas.

Kayu gelondongan bukan sekadar kayu ia simbol sistem yang bisa gagal ketika kepentingan besar menutupi kebenaran. Publik menunggu jawaban, bukan alasan.

Lalu, Kamu di Kubu Mana?

Apakah kamu percaya aparat bisa mengungkap kasus ini sampai tuntas, atau kamu mulai skeptis bahwa hukum memang cuma untuk rakyat kecil? Tabooo cuma bisa bilang ini saatnya masyarakat menuntut transparansi. Karena kalau hukum pilih kasih, siapa lagi yang bakal percaya? @dimas

Tags: bencanaInvestigasiKeadilanKriminal & HukumKritikLingkunganPenegakan HukumPolriSosial & Publiktransparansi

Kamu Melewatkan Ini

Kejahatan Siber Naik Level: Indonesia Tak Lagi Sekadar Pasar, Tapi Markas

Kejahatan Siber Naik Level: Indonesia Tak Lagi Sekadar Pasar, Tapi Markas

by dimas
Mei 10, 2026

Kejahatan siber di Indonesia kian terorganisir dan lintas negara. Namun di balik penggerebekan besar jaringan judi online di Jakarta dan...

Polri Pasca-Reformasi: Antara Institusi Sipil dan Bayang-Bayang Kekuasaan

Polri Pasca-Reformasi: Antara Institusi Sipil dan Bayang-Bayang Kekuasaan

by dimas
Mei 10, 2026

Polri pasca reformasi 1998 berdiri sebagai simbol perubahan besar dari institusi bercorak militeristik menuju kepolisian sipil yang diharapkan lebih profesional,...

Video Bea Cukai: Fakta atau Framing yang Keburu Meledak?

Video Bea Cukai: Fakta atau Framing yang Keburu Meledak?

by teguh
Mei 9, 2026

Video berdurasi 22 detik memicu gelombang opini di media sosial. Dua petugas berseragam Bea Cukai mendatangi Warung Madura pada malam...

Next Post
Kejagung Pamer Rp6,6 Triliun, ICW Sebut Pencitraan

Kejagung Pamer Rp6,6 Triliun, ICW Sebut Pencitraan

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id