Tabooo.id: Teknologi – Pernah nggak sih kamu buka media sosial cuma niat scroll sebentar, tapi malah terpancing emosi, ikut debat panas, atau tiba-tiba merasa dunia lagi kacau banget? Tenang, kamu nggak lebay. Bisa jadi, itu bukan murni perasaanmu. Bisa jadi, algoritma yang sedang “mengatur panggung”.
Belakangan ini, drama besar datang dari X platform media sosial milik Elon Musk. Otoritas Prancis menggeledah kantor cabang X di negara tersebut. Unit kejahatan siber kejaksaan Paris memimpin langkah ini, dengan dukungan Europol dan kepolisian Prancis. Penggeledahan itu menjadi bagian dari penyelidikan panjang yang sudah berjalan sejak Januari tahun lalu.
Isunya bukan sepele. Jaksa menyelidiki dugaan bias algoritma, campur tangan asing, hingga penyebaran konten berbahaya. Nama Elon Musk dan mantan CEO X, Linda Yaccarino, bahkan masuk daftar pihak yang dipanggil untuk hadir dalam sidang pada April mendatang. Dari sini, satu pertanyaan besar muncul seberapa netral sebenarnya media sosial yang kita pakai setiap hari?
Algoritma, Bukan Lagi Sekadar Mesin
Kasus ini mencuat setelah Eric Bothorel, anggota parlemen Prancis, menyuarakan kekhawatiran soal algoritma X. Ia menilai platform tersebut menunjukkan bias sejak Musk mengambil alih pada 2022. Ia juga menuding adanya perubahan pengelolaan yang berpotensi memengaruhi arus informasi politik.
Masalahnya, ini bukan cuma tudingan politisi. Seorang pejabat keamanan siber pemerintahan juga mengajukan gugatan terpisah. Ia menilai algoritma X kini lebih sering memperkuat konten politik yang merugikan. Jaksa bahkan menyebut adanya dugaan penggunaan algoritma untuk tujuan campur tangan asing.
Di era digital, algoritma tidak lagi bekerja di balik layar. Algoritma ikut menentukan apa yang kita lihat, apa yang kita percaya, dan apa yang kita anggap penting. Tanpa sadar, ia membentuk realitas versi kita masing-masing.
Grok dan Batas Etika yang Dilanggar
Masalah X tidak berhenti di algoritma feed. Perhatian publik juga tertuju pada Grok, chatbot kecerdasan buatan buatan xAI yang terintegrasi langsung ke X. Jaksa Prancis mulai menyelidiki Grok sejak November lalu. Penyebabnya serius chatbot ini sempat menghasilkan konten berbahasa Prancis yang mempertanyakan keberadaan kamar gas di Auschwitz.
Belum selesai di situ, Grok kembali memicu kemarahan global. Pengguna menemukan celah yang memungkinkan pembuatan materi seksual eksplisit tanpa persetujuan, termasuk yang melibatkan perempuan dan anak-anak. Di titik ini, diskusi bergeser dari teknologi ke etika.
AI memang pintar. Namun, tanpa batas dan pengawasan, ia bisa menjadi alat yang memperbesar sisi gelap internet. Apa yang awalnya diklaim sebagai inovasi malah berubah menjadi ancaman nyata.
Kenapa Semua Ini Relevan dengan Lifestyle Kita?
Mungkin kamu berpikir, “Ini urusan politik Eropa, ngapain gue peduli?” Justru di sinilah masalahnya. Media sosial sudah menyatu dengan gaya hidup kita. Kita pakai X, Instagram, atau TikTok untuk cari hiburan, berita, bahkan validasi diri.
Saat algoritma condong ke arah tertentu, ia tidak hanya memengaruhi opini politik. Ia juga memengaruhi kesehatan mental. Konten yang terlalu ekstrem memicu kecemasan. Feed yang penuh konflik memicu kelelahan emosional. Deepfake dan konten manipulatif merusak rasa aman, terutama bagi perempuan.
Banyak riset menunjukkan bahwa paparan konten negatif berulang meningkatkan stres dan rasa tidak berdaya. Sayangnya, algoritma sering kali justru mendorong konten seperti itu karena dianggap “engaging”.
Apa Artinya Buat Kita?
Kasus X di Prancis menjadi alarm keras. Dunia mulai sadar bahwa platform digital tidak bisa berjalan tanpa kontrol. Transparansi algoritma bukan lagi tuntutan idealis, tapi kebutuhan sosial.
Buat kamu sebagai pengguna, kesadaran menjadi kunci. Kita perlu lebih kritis saat mengonsumsi konten. Kita juga perlu berani rehat ketika media sosial terasa terlalu bising. Mengatur ulang siapa yang kita follow, membatasi waktu layar, dan tidak langsung percaya pada satu sumber bisa jadi bentuk perlawanan kecil yang berdampak besar.
Media sosial seharusnya membantu kita terhubung, bukan memanipulasi emosi. Teknologi seharusnya memperkaya hidup, bukan mengacaukannya. Jadi, lain kali saat kamu merasa capek mental setelah scroll, coba tanya diri sendiri ini perasaanku, atau algoritma yang sedang bermain?
Karena di dunia digital hari ini, menjaga kesehatan pikiran sama pentingnya dengan menjaga koneksi internet. @teguh




