Tabooo.id: Regional – Api menyala di tengah laut ketika pagi belum sepenuhnya matang. Sabtu (20/12/2025) pagi, kapal nelayan KM Maulana-30 asal Muara Angke, Jakarta, dilaporkan terbakar di perairan Lampung Timur. Kepulan asap hitam membumbung di selatan perairan Belimbing, Kabupaten Tanggamus, menandai awal kepanikan di atas geladak.
Kepala Kantor SAR Lampung, Deden Ridwansyah, membenarkan insiden tersebut. Ia menyebut kapal mengalami kebakaran saat sedang berada di jalur menuju lokasi penangkapan ikan.
“Iya, betul. Tadi sekitar jam delapan pagi kapal terbakar,” ujar Deden saat dikonfirmasi.
Berangkat dari Muara Angke, Api Menyergap di Tengah Laut
KM Maulana-30 diketahui berangkat dari Muara Angke sejak 17 Desember 2025. Selama beberapa hari, kapal itu berlayar menuju fishing ground bersama 33 anak buah kapal (ABK). Namun perjalanan yang seharusnya rutin berubah menjadi darurat ketika api tiba-tiba muncul dan melalap badan kapal.
Hingga siang hari, tim SAR masih berupaya mengurai penyebab kebakaran. Minimnya sinyal komunikasi di lokasi kejadian membuat proses pengumpulan kronologi berjalan lambat.
“Untuk kronologis lengkapnya, kami masih kesulitan mendapatkan informasi karena kendala komunikasi di tengah laut,” jelas Deden.
Diselamatkan Kapal Lintas, 25 ABK Selamat
Di tengah situasi genting itu, bantuan datang dari KM Darmansa 05, kapal nelayan lain yang kebetulan melintas di sekitar lokasi kejadian. Kapal tersebut mengevakuasi para ABK yang berjuang menyelamatkan diri dari kobaran api.
Dari total 33 orang di atas kapal, 25 ABK berhasil diselamatkan. Sementara itu, 8 ABK lainnya masih dinyatakan hilang dan dalam pencarian intensif. “Sudah 25 orang dievakuasi. Sisa delapan masih kami cari,” kata Deden.
Pencarian Berpacu dengan Waktu dan Asap Tebal
Hingga laporan ini diturunkan, bangkai KM Maulana-30 masih terlihat terbakar dan mengeluarkan asap tebal di tengah laut. Kondisi tersebut menyulitkan proses evakuasi sekaligus mempersempit ruang gerak pencarian korban.
Tim SAR Lampung bersama Ditpolair Polda Lampung telah bergerak menuju lokasi kejadian untuk memperkuat operasi pencarian. Fokus utama saat ini adalah menemukan delapan ABK yang belum diketahui keberadaannya, sambil memastikan keselamatan tim di lapangan.
Insiden ini kembali menegaskan satu kenyataan pahit: laut bukan hanya ruang kerja bagi nelayan, tetapi juga medan risiko yang kerap dihadapi dengan perlindungan terbatas. Ketika kapal terbakar di tengah laut, yang berpacu bukan hanya waktu, tetapi juga nasib. @dimas




