JS Kunisaki bergerak ke Ketapang membawa helikopter Chinook Jepang untuk memperkuat penanganan karhutla di Kalimantan Barat.
Tabooo.id: Kalimantan Barat – Api belum benar-benar pergi dari Kalimantan Barat. Kini, kapal perang Jepang ikut bergerak mendekati wilayah yang membutuhkan dukungan udara untuk melawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kapal Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF) JS Kunisaki bertolak dari Pelabuhan Internasional Kijing, Mempawah, menuju perairan Ketapang, Minggu (20/9/2026). Kapal itu membawa satu helikopter berat CH-47 Chinook untuk memperkuat operasi penanganan karhutla.
Kementerian Pertahanan RI menyampaikan pergeseran tersebut melalui akun Instagram resminya, Senin (21/9/2026).
“JS Kunisaki bertolak dari Pelabuhan Kijing menuju perairan Ketapang dengan membawa satu helikopter CH-47 Chinook untuk mendukung penanganan karhutla di Ketapang dan sekitarnya,” tulis Kemhan.
Api Bergeser, Operasi Udara Ikut Bergerak
Pergeseran ini bukan sekadar perpindahan kapal.
Operasi udara ikut menyesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Ketapang menjadi salah satu wilayah yang membutuhkan penguatan penanganan karhutla.
Sebelumnya, pemerintah memang telah menyiapkan pergeseran operasi Chinook ke wilayah selatan Kalimantan Barat. Kementerian Pertahanan menyebut kondisi wilayah Ketapang lebih memungkinkan untuk mengoptimalkan kemampuan helikopter tersebut.
Sementara itu, dua CH-47 Chinook lainnya masih bersiaga di Pelabuhan Kijing.
Personel TNI dan unsur terkait juga mendukung kesiapan keberangkatan serta operasi di wilayah Ketapang.
Dengan begitu, bantuan Jepang tidak berhenti pada kedatangan alutsista. Armada tersebut mulai diposisikan lebih dekat dengan wilayah yang membutuhkan intervensi udara.
Chinook Sudah Beroperasi, Tetapi Asap Jadi Musuh Lain
Bantuan Jepang sebelumnya mulai digunakan untuk penanganan karhutla Kalimantan Barat sejak Rabu (16/9/2026).
Namun, operasi tidak berjalan tanpa hambatan.
Asap karhutla sempat mengurangi jarak pandang. Kondisi tersebut membuat penerbangan Chinook harus menyesuaikan faktor keselamatan.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, sebelumnya menyebut keterbatasan visibilitas menjadi salah satu kendala operasi.
Pada tahap awal, satu Chinook menjalankan satu sortie. Kemudian, dua dari tiga helikopter Jepang melaksanakan operasi water bombing, masing-masing satu sortie.
Artinya, persoalannya bukan sekadar memiliki helikopter besar.
Pesawat harus bisa terbang. Titik api harus bisa dijangkau. Cuaca dan jarak pandang juga harus memungkinkan.
Dari Kijing Menuju Titik Api
JS Kunisaki sendiri tiba di Kalimantan Barat membawa tiga CH-47 Chinook untuk mendukung operasi water bombing. Kapal tersebut tiba di Terminal Kijing pada 10 September 2026.
TNI kemudian mengamankan kedatangan kapal dan mendukung persiapan operasi di pelabuhan.
Kini, sebagian armada bergerak lebih dekat ke Ketapang.
Perubahan posisi itu memperlihatkan satu hal penting medan karhutla menentukan cara negara bergerak.
Ketika api berada jauh dari akses darat, kekuatan udara menjadi penting. Ketika asap mengganggu penerbangan, operasi harus menunggu kondisi yang aman.
Di sinilah perang melawan karhutla menjadi jauh lebih rumit daripada sekadar menjatuhkan air dari udara.
Ini Bukan Sekadar Kapal Perang yang Membawa Helikopter
Di atas kertas, JS Kunisaki adalah kapal militer Jepang.
Namun dalam operasi kali ini, kapal tersebut membawa misi kemanusiaan.
Kemhan menyebut dukungan Jepang merupakan bagian dari kerja sama pertahanan Indonesia-Jepang dalam kerangka Defence Cooperation Arrangement (DCA) dan bantuan kemanusiaan serta penanggulangan bencana.
Namun, kehadiran armada asing juga memperlihatkan skala persoalan yang sedang dihadapi Kalimantan Barat.
Ini bukan sekadar soal satu kapal Jepang yang membantu memadamkan api. Ini tentang bagaimana kebakaran memaksa sistem penanganan bencana mengerahkan sumber daya lintas negara.
Human impact-nya sederhana, tetapi serius.
Ketika karhutla terus membakar, masyarakat berhadapan dengan asap, gangguan aktivitas, ancaman kesehatan, dan kerusakan lingkungan.
Karena itu, keberhasilan operasi Chinook tidak cukup diukur dari berapa kali helikopter terbang atau berapa liter air dijatuhkan.
Ukuran akhirnya tetap sama seberapa cepat api berhenti dan seberapa banyak masyarakat terlindungi.
JS Kunisaki kini bergerak ke Ketapang.
Tetapi pertanyaan yang lebih besar bukan lagi kapan kapal itu tiba.
Pertanyaannya berapa lama lagi api harus membakar sebelum sistem benar-benar mampu memadamkannya? @dimas








