Tabooo.id: Regional – Warga Banjar Legian Kulod merawat kebersamaan dengan cara sederhana jalan santai. Pada Minggu (22/3/2026), ratusan warga dari berbagai usia ikut jalan santai yang dimulai dari Gedung Banjar Legian Kulod dan menyusuri lingkungan setempat.
Kegiatan ini bukan sekadar soal keringat. Di tengah ritme hidup yang makin padat, jalan santai berubah jadi “ruang sosial dadakan”. Warga saling sapa, tertawa, dan mengingat kembali bahwa mereka hidup dalam satu komunitas.
Kelian Adat Banjar Legian Kulod, I Nyoman Suma Nata, menegaskan tujuan utamanya: menjaga silaturahmi dan memperkuat rasa kebersamaan. “Sederhana, tapi penting,” katanya. Kalimat ini terdengar klise tapi justru itu yang sering hilang di kehidupan modern.
Menghidupkan Ruang Sendiri, Bukan Sekadar Tren
Panitia sengaja memilih kawasan banjar sebagai lokasi kegiatan. Alasannya jelas: dekat, mudah diakses, dan punya nilai emosional kuat. Saat banyak komunitas berlomba mencari tempat “instagramable”, warga di sini justru menghidupkan ruang yang sudah mereka miliki.
Namun, proses di balik acara tidak selalu mulus. Panitia menghadapi tantangan koordinasi waktu karena warga memiliki jadwal berbeda. Mereka juga harus menyiapkan konsumsi, perlengkapan, dan mengantisipasi cuaca.
“Tidak mudah menyatukan banyak orang dengan kesibukan berbeda,” ujar Suma Nata. Meski begitu, kerja sama warga jadi kunci. Mereka mengatasi tantangan teknis dan memastikan acara tetap berjalan lancar.
Dari Lansia Hingga Generasi Muda
Kegiatan ini memberi dampak langsung, terutama bagi lansia dan anak-anak yang sering tertinggal dalam dinamika sosial. Jalan santai membuka ruang interaksi lintas generasi sesuatu yang makin jarang terjadi di era layar dan kesibukan individual.
Generasi muda juga jadi fokus penting. Tanpa keterlibatan mereka, tradisi kebersamaan di banjar bisa berubah jadi sekadar cerita masa lalu. Karena itu, warga berharap partisipasi anak muda terus meningkat di kegiatan berikutnya.
Di sisi lain, jalan santai ini juga mengingatkan pentingnya gaya hidup sehat bukan hanya fisik, tapi juga hubungan sosial. Relasi yang renggang sering kali lebih berbahaya daripada tubuh yang kurang olahraga.
Lebih dari Sekadar Jalan Kaki
Warga berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti sebagai acara seremonial. Mereka ingin menjaga kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya saat ada panitia dan konsumsi gratis.
Pada akhirnya, yang diuji bukan seberapa jauh warga berjalan bersama melainkan seberapa lama mereka bisa tetap saling mendekat, tanpa harus menunggu undangan.@eko



