Tabooo.id: Global – Perang di Timur Tengah memasuki fase yang semakin berbahaya. Militer Israel mengklaim berhasil menghancurkan bunker bawah tanah yang selama ini berfungsi sebagai pusat komando strategis Iran di Teheran. Kompleks tersebut berkaitan dengan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Israel merilis rekaman operasi militer itu pada Jumat (6/3/2026). Video resmi militer memperlihatkan serangkaian ledakan besar yang mengguncang jaringan bunker jauh di bawah tanah ibu kota Iran.
Serangan tersebut menandai eskalasi baru dalam konflik antara blok Amerika Serikat–Israel dan Iran. Ketegangan yang sebelumnya terbatas kini mengguncang stabilitas kawasan dan memicu kekhawatiran global.
Serangan Menyasar Pusat Kepemimpinan Iran
Militer Israel atau Israel Defense Forces (IDF) menyatakan bunker tersebut selama ini menjadi pusat koordinasi strategis bagi pejabat senior Iran. IDF juga menegaskan bahwa elite pemerintahan Iran masih menggunakan kompleks bawah tanah itu meskipun Ayatollah Ali Khamenei tewas pada fase awal konflik.
Militer Israel menamai operasi tersebut “Roaring Lion”. Menurut mereka, Khamenei tidak sempat memanfaatkan bunker itu sebelum operasi dimulai.
“Khamenei dieliminasi sebelum dia sempat menggunakan bunker tersebut selama operasi ‘Roaring Lion’. Namun para pejabat senior rezim Iran tetap memanfaatkan kompleks itu,” tulis militer Israel dalam pernyataan kepada AFP.
Israel juga menjelaskan bahwa bunker tersebut memiliki banyak jalur akses, ruang komando, serta ruang pertemuan yang melindungi pejabat tinggi dari serangan udara. Iran selama ini mengandalkan jaringan fasilitas bawah tanah untuk menjaga kelangsungan kepemimpinan negara ketika perang pecah.
Operasi Udara Besar Mengguncang Teheran
Israel kemudian melancarkan operasi udara besar untuk menghancurkan kompleks tersebut. Militer mengerahkan sedikitnya 50 jet tempur yang menyerang jaringan bunker di jantung kota Teheran.
Jet tempur Israel menjatuhkan sekitar 100 bom dalam serangan yang berlangsung cepat dan intens. Ledakan demi ledakan menghantam struktur bawah tanah dan meruntuhkan sebagian besar kompleks itu.
Militer Israel meyakini fasilitas tersebut selama ini menjadi tempat perlindungan sejumlah pejabat tinggi Iran ketika konflik mulai memanas.
Sebelum tewas, Khamenei kerap menghabiskan malam di fasilitas bawah tanah yang sangat dalam itu untuk menghindari serangan udara.
Israel Klaim Hantam Inti Struktur Elite Iran
Kepala Staf Militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, menilai operasi tersebut berhasil menghantam inti kepemimpinan Iran.
Ia menggambarkan serangan itu berlangsung sangat cepat namun mematikan.
“Hanya dalam 40 detik, sekitar 40 pejabat senior rezim teror Iran telah dilenyapkan, termasuk pemimpin rezim tersebut, Ali Khamenei,” kata Zamir.
Israel menyatakan Khamenei tewas di kompleks kepemimpinannya pada 28 Februari 2026, hari pertama serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang memicu perang terbuka di kawasan.
Pentagon kemudian mengonfirmasi bahwa serangan Israel menewaskan pemimpin tertinggi Iran tersebut. Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengatakan bahwa intelijen AS membantu keberhasilan operasi tersebut.
Iran Melancarkan Serangan Balasan
Iran segera merespons serangan itu dengan meluncurkan serangan balasan ke sejumlah target militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Rudal Iran menghantam pangkalan militer AS di Kuwait dan menewaskan enam personel militer Amerika. Serangan lain merusak fasilitas militer di Bahrain yang selama ini menjadi pusat operasi armada AS di kawasan Teluk.
Teheran juga mengirim drone yang menargetkan sebuah gedung di Riyadh, Arab Saudi. Gedung itu menampung fasilitas milik CIA. Serangan drone tersebut tidak menimbulkan korban jiwa, namun menunjukkan kemampuan Iran menjangkau target strategis di kawasan.
Tekanan Militer AS Terus Menggempur Iran
Amerika Serikat terus meningkatkan tekanan militer terhadap Iran di tengah eskalasi konflik. Pentagon mengerahkan pesawat pengebom untuk menyerang berbagai peluncur rudal dan pusat komando Iran.
Serangan udara tersebut bertujuan mengurangi kemampuan Iran dalam melancarkan serangan lanjutan.
Pentagon menilai tekanan militer yang berlangsung terus-menerus mulai menurunkan intensitas serangan balasan Iran dalam beberapa hari terakhir.
Dampak Konflik Mulai Mengguncang Dunia
Perang ini tidak lagi sekadar konflik regional. Ketegangan antara Israel, Iran, dan Amerika Serikat berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi global, terutama pasar energi dan jalur perdagangan internasional.
Negara-negara yang bergantung pada minyak Timur Tengah kini memantau perkembangan konflik dengan sangat hati-hati.
Bagi banyak orang di luar kawasan, perang ini mungkin terasa jauh. Namun setiap ledakan di Timur Tengah dapat memicu gelombang dampak ekonomi yang merambat ke berbagai negara.
Di medan perang, para jenderal berbicara tentang strategi dan kemenangan. Sementara itu, jutaan orang di berbagai belahan dunia hanya menunggu satu hal sederhana kapan konflik ini berhenti sebelum seluruh dunia ikut menanggung biayanya. @dimas







