Senin, April 20, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Internet Makin Canggih, Tapi Kenapa Perlindungan Justru Lemah?

April 20, 2026
in Nasional, News
A A
Home News Nasional
Share on FacebookShare on Twitter
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, satu pertanyaan besar muncul, benarkah ruang online sudah aman bagi perempuan, atau justru berubah menjadi arena baru kekerasan yang tak terlihat?

Tabooo.id: Nasional – Setiap tahun, penggunaan internet di Indonesia terus naik. Aktivitas digital makin padat, interaksi makin luas. Namun di balik kemudahan itu, ancaman Kekerasan Seksual Berbasis Online (KBGO) ikut tumbuh dan semakin mengkhawatirkan.

Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menilai tren ini sebagai persoalan serius yang membutuhkan respons cepat dan sistematis dari negara.

“Skala peristiwa yang meluas dan meningkat tajam membutuhkan percepatan respons yang lebih kuat dan sistematis dari negara,” ujar Anggota Komnas Perempuan, Chatarina Pancer Istiyani, Senin (20/4/2026).

Lonjakan Kasus: Dari Puluhan ke Ribuan

Data Komnas Perempuan menunjukkan peningkatan tajam dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2017, kasus KBGO hanya mencapai 16 kasus. Setahun kemudian, angka melonjak menjadi 97 kasus. Pada 2019, jumlahnya naik lagi menjadi 281 kasus.

BacaJuga

LPDP Jakarta 2027: Beasiswa Dibuka, Realitanya Siapa Yang Berangkat?

Stok Beras Aman 11 Bulan, Tapi El Nino dan Krisis Energi Mengintai?

Lonjakan besar terjadi pada 2020 ketika kasus menyentuh 940. Tren ini terus berlanjut hingga mencapai 1.721 kasus pada 2021.

Angka sempat turun pada 2022 dan 2023. Namun tren kembali naik menjadi 1.791 kasus pada 2024 dan mencapai 1.846 kasus pada 2025.

Data ini menegaskan satu hal: kekerasan kini tidak hanya terjadi di ruang fisik, tetapi juga aktif di ruang digital.

Teknologi Maju, Literasi Tertinggal

Chatarina menilai perkembangan teknologi melaju jauh lebih cepat dibanding literasi digital masyarakat. Ketimpangan ini membuat perempuan semakin rentan menjadi korban KBGO.

“Percepatan perkembangan teknologi belum diimbangi peningkatan akses dan literasi, sehingga memperbesar kerentanan perempuan,” jelasnya.

Masalah ini tidak hanya berasal dari pelaku. Sistem perlindungan juga belum bekerja optimal.

Desakan Perbaikan Sistem Perlindungan

Komnas Perempuan mendorong pemerintah mengambil langkah konkret. Mereka meminta penguatan sistem perlindungan informasi untuk melawan kejahatan siber.

Selain itu, korban harus mendapat akses cepat untuk menghapus konten bermuatan kekerasan seksual. Pemerintah juga perlu memperkuat pendataan berbasis gender agar kebijakan lebih tepat sasaran.

“Penegak hukum dan penyedia layanan perlu meningkatkan kapasitas. Infrastruktur forensik digital juga harus tersedia hingga ke daerah,” kata Chatarina.

Tanggung Jawab Platform Digital Disorot

Komnas Perempuan tidak hanya menyoroti pemerintah. Mereka juga meminta platform digital bertanggung jawab atas konten yang beredar.

Platform harus membuka transparansi dalam moderasi konten. Selain itu, mereka perlu menyediakan mekanisme pengaduan yang cepat, adil, dan responsif bagi korban.

“Proses monitoring harus melibatkan penyintas dan organisasi perempuan dalam setiap tahap penanganan,” tegas Chatarina.

Ruang Digital Aman, Masih Jauh dari Nyata

Komisioner Komnas Perempuan, Yuni Asriyanti, menegaskan pentingnya menjaga kebebasan berekspresi, terutama bagi pihak yang memperjuangkan hak perempuan.

Namun tanpa sistem perlindungan yang kuat, ruang digital justru berpotensi memperbesar ketimpangan dan kekerasan.

“Langkah ini penting untuk memastikan ruang digital tetap aman, inklusif, dan mendukung kesetaraan gender,” jelas Yuni.

Penutup

Lonjakan kasus KBGO menunjukkan satu realitas: ancaman di dunia digital semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pertanyaannya, siapa yang bergerak lebih cepat negara atau pelaku kejahatan digital? @dimas

Tags: hak perempuanIndonesiakbgokeamanan digitalKekerasan Seksual Onlinekomnas perempuanLiterasi DigitalPerlindungan PerempuanRuang Digital Aman

REKOMENDASI TABOOO

AI Naikkan PDB? Indonesia Sedang Belajar Mengubah Data Jadi Mesin Uang

AI Naikkan PDB? Indonesia Sedang Belajar Mengubah Data Jadi Mesin Uang

by teguh
April 20, 2026

Kecerdasan buatan tak lagi sekadar bahan diskusi kampus atau panggung seminar. Kini, pemerintah menilai AI bisa menambah kontribusi hingga 3,67...

EPA U-20 Ricuh: Akademi Mencetak Talenta, Tapi Gagal Mengendalikan Emosi

EPA U-20 Ricuh: Akademi Mencetak Talenta, Tapi Gagal Mengendalikan Emosi

by teguh
April 20, 2026

Sepak bola usia muda seharusnya menjadi ruang belajar. Tempat pemain ditempa, jatuh, bangkit, lalu tumbuh. Namun di Stadion Citarum, Minggu,...

Harga Tembakau Madura Naik, Tapi Kuasa Masih di Tangan Pasar

Harga Tembakau Madura Naik, Tapi Kuasa Masih di Tangan Pasar

by teguh
April 20, 2026

Tabooo.id: Deep - Malam itu, Monumen Arek Lancor di Pamekasan tidak sekadar menampung acara silaturahmi. Tempat itu menampung kegelisahan lama...

Next Post
Quarter-Life Crisis: Kenapa Usia 25 Terasa Paling Berat?

Quarter-Life Crisis: Kenapa Usia 25 Terasa Paling Berat?

Recommended

Calon Penegak Hukum, Candaan Seksual, dan Kampus yang Gagal Melindungi

Calon Penegak Hukum, Candaan Seksual, dan Kampus yang Gagal Melindungi

April 14, 2026
Skandal FH UI: Ini Bukan Candaan. Ini Luka Psikologis

Skandal FH UI: Ini Bukan Candaan. Ini Luka Psikologis

April 15, 2026

Popular

Cepuri Parangkusumo: Mitos, Perjanjian, atau Strategi Kekuasaan Mataram?

Cepuri Parangkusumo: Mitos, Perjanjian, atau Strategi Kekuasaan Mataram?

April 19, 2026

Labuhan Parangkusumo: Ritual Sakral atau Tradisi yang Mulai Kehilangan Makna?

April 19, 2026

Go Tik Swan: Dia Tionghoa, Tapi Jadi Jawa Sejati

April 19, 2026

Daftar Kekayaan Maidi: Ini Peta Aset Seorang Wali Kota Madiun

April 14, 2026

37% ODHIV Tak Terdeteksi: Krisis HIV Indonesia

April 20, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id