Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Indonesia Siap Mengirim Pasukan untuk Misi Perdamaian di Gaza

by dimas
Januari 12, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Edge – Bayangkan sebuah tombol besar bertuliskan “KIRIM PASUKAN” di ruang sidang PBB. Lampunya berkedip tanpa henti. Semua delegasi menatap penuh harap. Namun, hingga kini, tak satu pun jari benar-benar menekannya. Indonesia sudah menyiapkan segalanya. Helm mengilap. Kapal rumah sakit bersandar siaga. Akan tetapi, mandat internasional masih terjebak di layar loading.

Presiden Prabowo Subianto pernah menyampaikan satu kalimat yang langsung mencuri perhatian dunia. Di hadapan Sidang Umum PBB pada September 2025, ia menegaskan kesiapan Indonesia mengerahkan 20.000 prajurit untuk menjaga perdamaian di Gaza atau wilayah konflik lain. Pernyataan itu terdengar tegas, heroik, dan sangat layak jadi tajuk utama.

Namun, sejak saat itu, janji global tersebut justru bergerak lebih lambat daripada gaungnya.

Dari Mimbar PBB ke Meja Koordinasi

Sejak Prabowo melontarkan pernyataan tersebut, pemerintah terus menggulirkan wacana pengiriman pasukan. Terlebih lagi, gencatan senjata Israel-Hamas pada Oktober 2025 membuat harapan publik ikut menguat. Banyak pihak mulai membayangkan pasukan perdamaian tiba di Gaza secepat notifikasi “driver on the way”.

Sementara itu, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mempertegas kesiapan teknis. Ia menjelaskan rencana pengiriman personel recce untuk membaca situasi lapangan sebelum pasukan utama berangkat. Dengan kata lain, TNI tidak menunggu situasi matang mereka justru aktif mempersiapkan diri sejak awal.

Ini Belum Selesai

Api Dipadamkan, Masalahnya Jangan Ikut Dibiarkan

Survei SMRC: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Anjlok ke 44,5 Persen

Namun demikian, satu variabel terus mengganjal seluruh rencana itu mandat internasional.

Ketika Kesiapan Tempur Bertemu Birokrasi Global

Masalah Gaza ternyata bukan sekadar soal jumlah pasukan atau jenis alutsista. Pemerintah harus menjawab pertanyaan yang jauh lebih mendasar: siapa yang memberi mandat, di bawah bendera apa, dan dengan tujuan apa pasukan dikirim.

Di titik inilah narasi mulai terasa absurd.

Alih-alih pasukan penjaga perdamaian PBB dengan helm biru, Dewan Keamanan justru membahas skema International Stabilization Force (ISF). Pasukan ini tidak bertugas menjaga jarak, melainkan menjalankan mandat stabilisasi yang agresif.

Jika UNIFIL berperan sebagai penengah, ISF justru turun langsung ke medan konflik untuk melucuti kelompok bersenjata. Konsekuensinya jelas: pasukan yang berangkat tidak lagi berdiri netral, melainkan ikut masuk ke pusaran konflik.

Karena itu, Indonesia mulai menginjak rem.

Retreat Kabinet dan Janji yang Ikut Menginap

Awal Januari 2026, pemerintah kembali mengangkat isu ini dalam retreat kabinet di Hambalang. Presiden membahasnya. Menteri Luar Negeri memaparkan perkembangan terbaru. Akan tetapi, frasa “masih dibicarakan” kembali mendominasi penjelasan resmi.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri menegaskan bahwa komitmen Presiden tidak berubah. Meski begitu, pemerintah belum menetapkan detail teknis, termasuk jumlah pasukan yang akan dikirim. Angka 20.000 terus menyusut dan membesar tergantung konteks, kebutuhan lapangan, serta dinamika mandat.

Dengan demikian, janji itu tetap hidup tetapi belum menemukan bentuk finalnya.

ISF: Helm Tanpa Warna, Mandat Tanpa Netralitas

Perbedaan antara UNIFIL dan ISF tidak berhenti pada jenis seragam. Perbedaan itu menyentuh inti filosofi misi.
UNIFIL lahir dari persetujuan dua pihak yang bertikai. Sebaliknya, ISF muncul dari dorongan kekuatan global, terutama Amerika Serikat, yang ingin mengakhiri konflik melalui pelucutan Hamas.

Bagi banyak analis keamanan kawasan, mandat semacam ini menempatkan Indonesia pada posisi dilematis. Pasukan Indonesia berpotensi berhadapan langsung dengan kelompok yang selama ini identik dengan perjuangan Palestina.

Dalam konteks tersebut, misi perdamaian bisa berubah menjadi dilema politik dan moral.

Solidaritas Palestina vs Realpolitik Global

Indonesia selama ini memosisikan diri sebagai pendukung kuat kemerdekaan Palestina. Sikap itu membentuk identitas diplomasi luar negeri. Namun, pengiriman pasukan di bawah mandat ISF berisiko menggeser posisi tersebut.

Di satu sisi, negara ingin membantu menghentikan kekerasan. Di sisi lain, sistem internasional menuntut kepatuhan pada mandat yang sarat kepentingan geopolitik. Akibatnya, niat baik harus bernegosiasi dengan realitas global yang dingin.

Punchline: Siap Berangkat, Tapi Belum Dipanggil

Pada akhirnya, janji 20.000 pasukan ini menyerupai koper yang sudah tertutup rapi di depan pintu. Semua perlengkapan siap. Namun, tiket belum terbit. Tujuan masih berubah. Bandara masih bernegosiasi.

Indonesia tampak siap memainkan peran perdamaian. Akan tetapi, di panggung dunia, niat baik saja tidak cukup. Mandat, kepentingan, dan kekuasaan tetap memegang kendali.

Sementara itu, Gaza terus menunggu seperti biasa. @dimas

Tags: diplomasiGazaGlobalInternasionalKonflik DuniaNasionalPalestinaPasukanPBBPerdamaianPolitik Luar NegeriSolidaritasTNI

Kamu Melewatkan Ini

HUT TNI: Batalyon Bertambah, Apakah Jaminan Pertahanan Menguat?

HUT TNI: Batalyon Bertambah, Apakah Jaminan Pertahanan Menguat?

by dimas
Oktober 5, 2026

HUT TNI 2026 ditandai penambahan batalyon. Namun, apakah ekspansi kekuatan itu benar-benar memperkuat pertahanan Indonesia menghadapi ancaman perang modern? Tabooo.id...

HUT ke-81 TNI Tak Lagi di Monas, Upacara Dipindah ke Cilangkap

HUT ke-81 TNI Tak Lagi di Monas, Upacara Dipindah ke Cilangkap

by dimas
Oktober 5, 2026

HUT ke-81 TNI digelar sederhana di Cilangkap setelah rencana puncak peringatan di Monas dibatalkan karena banyak prajurit bertugas menangani bencana....

Perwira TNI Tewas dengan Luka Tembak di Kuala Kencana, TNI-Polri Selidiki Penyebabnya

Perwira TNI Tewas dengan Luka Tembak di Kuala Kencana, TNI-Polri Selidiki Penyebabnya

by teguh
Oktober 4, 2026

Seorang perwira TNI berinisial Letda Cba R tewas di dalam sebuah mobil di kawasan Alun-alun Kuala Kencana, Distrik Kuala Kencana,...

Next Post
Kolaborasi PUBG Mobile x Peaky Blinders Resmi Hadir Januari 2026

Kolaborasi PUBG Mobile x Peaky Blinders Resmi Hadir Januari 2026

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id