Tabooo.id: Nasional – Indonesia kembali melangkah ke panggung global dengan percaya diri. Sabtu (15/11/2025), Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Mayjen (Mar) Freddy Ardianzah memastikan 20.000 personel TNI disiapkan untuk misi kemanusiaan di Jalur Gaza. Bukan jumlah kecil, bukan keputusan ringan. Di balik angka itu, ada ambisi, diplomasi, dan risiko yang ikut bergerak.
Freddy menegaskan bahwa pasukan ini adalah prajurit berpengalaman, terbiasa dengan operasi militer selain perang, baik di dalam negeri maupun di bawah bendera PBB.
“Kemampuan dasar, interoperabilitas, kesiapsiagaan logistik, hingga operasi di berbagai medan sudah terbentuk,” ucapnya.
Dengan kata lain, Indonesia ingin memastikan dunia tahu kita siap, dan kita mampu.
Membangun Harapan, Bukan Mengangkat Senjata
Misi yang mereka emban tidak berkaitan dengan pertempuran, melainkan memulihkan kehidupan. Mulai dari membuka layanan kesehatan, menjalankan rumah sakit lapangan, hingga membangun infrastruktur dasar lewat satuan Zeni air bersih, sanitasi, fasilitas umum semua disiapkan seperti ekspedisi kemanusiaan besar untuk warga yang kehilangan ruang aman.
Peralatan medis darurat, ambulans, alat berat, hingga perlengkapan rekonstruksi telah dipetakan. Yang belum ada hanya satu izin berangkat. TNI masih menunggu restu dari pemerintah dan PBB. Tanpa lampu hijau itu, seluruh armada hanya bisa standby, seperti penari yang sudah siap panggung namun tirainya belum terbuka.
Menunggu Restu Dunia Arab dan PBB
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyebut ada dua jalur yang bisa membuka pintu persetujuan PBB yang membutuhkan komunikasi antar kepala negara atau dukungan dari negara-negara Arab seperti Arab Saudi, Yordania, Mesir, Qatar, dan UEA. Jika mereka berkata “silakan”, Indonesia siap melangkah.
Siapa Diuntungkan? Siapa Menanggung Risikonya?
Namun di balik rencana besar ini, publik wajar bertanya siapa yang paling diuntungkan? Gaza jelas membutuhkan bantuan. Indonesia mendapatkan reputasi internasional. TNI memperkuat portofolionya. Tetapi ada juga harga yang harus dibayar dari anggaran negara hingga kegelisahan keluarga para prajurit yang berpotensi dikirim ke zona konflik.
Pada Akhirnya, Ini Tentang Keberanian Moral
Di tengah semua rencana besar ini, ada satu hal yang tidak boleh hilang empati. Karena misi perdamaian bukan hanya tentang pasukan yang berangkat, tetapi tentang keberanian sebuah negara menjawab penderitaan yang terjadi ribuan kilometer jauhnya meski pertanyaannya tetap menggantung apakah kita siap menanggung seluruh konsekuensinya? @dimas







