• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Rabu, Maret 25, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Deep

Hutan Hilang, Nyawa Melayang: Bencana yang Sudah Diramalkan

Desember 3, 2025
in Deep
A A
Hutan Hilang, Nyawa Melayang: Bencana yang Sudah Diramalkan

Warga menyaksikan tumpukan kayu gelondongan pascabanjir bandang di Aek Garoga, Tapanuli Selatan, Sabtu (29/11/2025). Asal-usul kayu yang hanyut masih misteri. (ANTARA FOTO/Yudi Manar/bar)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Hujan baru berhenti ketika seorang ibu berdiri di tengah lumpur yang masih hangat, menggenggam pakaian basah yang tak lagi bisa diselamatkan. “Air itu datang seperti mengaum,” ujarnya lirih, seolah gema itu masih berputar di telinganya. Pandangannya menembus bukit yang dulu hijau, kini berubah kecokelatan. “Seperti marah. Atau mungkin balas dendam.”

Warga di sekelilingnya sibuk mengais apa pun yang bisa diselamatkan: nama, wajah, barang kecil, kenangan. Di jalanan, gelondongan kayu yang seharusnya tetap berada di hutan menumpuk menjadi bukti nyata bahwa kerusakan sudah terjadi jauh sebelum air bah datang.

Pengakuan Pemerintah yang Datang Terlambat

Di Jakarta, nada pejabat berubah lebih serius. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa kerusakan lingkungan memperburuk banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Bencana ini bukan sekadar akibat cuaca ekstrem ada jejak manusia di baliknya, proses panjang yang membuat alam kehilangan kesabaran.

Satgas Penertiban Kawasan Hutan segera menelusuri asal gelondongan kayu yang hanyut. Menko PMK Pratikno menyampaikan bahwa Presiden menginstruksikan penanganan nasional, sementara Kapolri Listyo Sigit Prabowo menyiapkan pertemuan dengan Menteri Kehutanan untuk mendalami dugaan pembalakan liar.

RelatedPosts

Legian: Jalan yang Tidak Pernah Benar-Benar Tidur

Sedap Malam: Ketika Ogoh-Ogoh Tidak Lagi Sekadar Dibakar, Tapi Mengingatkan Luka yang Belum Selesai

Pengakuan itu baru muncul setelah 3.600 rumah hancur, 753 nyawa hilang, 650 orang dinyatakan hilang, dan lebih dari 3,3 juta jiwa terdampak. Saat gelondongan memenuhi sungai, masyarakat menyadari sesuatu: hutan tidak tumbang dalam sehari. Pembalakan liar tidak muncul mendadak. Kerusakan terjadi perlahan, bertahun-tahun, lalu meledak dalam satu malam bencana.

Di Lapangan, Warga Menanggung Luka Paling Dalam

Di Desa Aek Garoga, Tapanuli Selatan, pemandangan seperti halaman buku yang diremas paksa. Rido, seorang pemuda desa, menatap batang-batang kayu raksasa yang menutup jalan kampung.

“Kami tidak punya alat,” ujarnya. “Memindahkan ini rasanya seperti memindahkan sisa tubuh hutan.”

Beberapa kayu terlihat ditebang rapi, sisanya patah dan tersangkut di bebatuan. Rido kehilangan pamannya dalam arus deras; tiga hari berlalu, tubuhnya belum ditemukan.

Di Pidie, Ina seorang guru memeluk kotak plastik berisi lembar kerja murid-muridnya. “Aku simpan ini supaya aku tidak lupa wajah mereka,” katanya. Murid-muridnya suka menggambar pohon besar, rindang, hijau tua. Kini, ia takut suatu hari mereka bertanya kenapa pohon itu hilang.

Relawan di Aceh menangis menceritakan pengalaman membungkus jenazah anak-anak. “Baju mereka selalu longgar,” ujarnya, “seolah tubuhnya belum siap kembali.” Sementara di Sumatera Barat, seorang kakek menolak naik ambulans meski kakinya terluka parah. Ia duduk di bangku kayu sambil berkata, “Rumahku hilang. Tapi hutan hilang duluan. Jangan minta aku diam.”

Kesedihan warga bukan sekadar soal kehilangan keluarga, tetapi juga hilangnya rasa aman yang dulu diberikan alam.

Sistem yang Bergerak Setelah Bencana Terjadi

Sebenarnya, bencana ini memberi tanda sejak lama. Sungai makin dangkal. Tumpukan kayu misterius muncul setiap hujan besar. Izin pengelolaan lahan keluar tanpa pertanyaan serius, sementara hutan menyusut tanpa suara peringatan cukup keras.

Namun sistem baru bergerak setelah bencana:

  1. Banjir meluap, rapat digelar.
  2. Ribuan korban terdampak, peringatan dibuat.
  3. Jejak kerusakan terbawa arus, akar masalah mulai ditelusuri.

Dalam urusan ekonomi, sistem bekerja cepat surat izin diproses, lahan dibuka, investasi dikawal. Tetapi ketika hutan rapuh dan akar tak mampu menahan tanah, peringatan tenggelam dalam angka pertumbuhan.

Pembalakan liar bukan hanya tindakan kriminal. Aktivitas legal sering bersinggungan dengan yang ilegal. Aparat lokal ada yang tahu namun tak berdaya, dan perusahaan menyebut pembukaan lahannya “terkendali,” sementara luka besar tertinggal di bukit dan aliran air.

Maka pertanyaannya bukan sekadar dari mana gelondongan itu berasal? Yang penting siapa saja yang membiarkan kerusakan berlangsung selama ini? Warga di hilir tetap menjadi yang paling terdampak, tinggal di tepi sungai, lereng bukit, dan lembah selalu menjadi yang pertama kehilangan rumah dan terakhir menerima bantuan.

Pesan yang Tertinggal di Balik Lumpur

Seorang relawan muda memungut selembar kertas kumal di antara puing halaman buku IPA kelas lima, gambar akar pohon yang menjaga tanah. Ia menatap kertas itu lama sebelum berbisik, “Anak-anak kita sebenarnya sudah tahu cara menjaga bumi. Kita yang lupa.”

Malam tiba tanpa bintang. Masjid setengah roboh tetap mengumandangkan azan suaranya pecah namun tegar. Warga berhenti sejenak, menunduk, membiarkan air mata jatuh. Mereka ketakutan, namun juga sadar kerusakan ini tidak bisa lagi disembunyikan oleh pernyataan resmi atau janji penegakan hukum.

Banjir bukan hanya tentang air. Longsor bukan sekadar tanah. Cuaca ekstrem bukan satu-satunya alasan. Ini tentang apa yang kita ambil dari bumi tanpa mengembalikannya. Tentang hutan yang berteriak lebih keras dari sebelumnya. Tentang keserakahan yang dibungkus rapi sebagai pembangunan.

Gelondongan itu tidak hanya membawa lumpur. Mereka membawa pesan. Mereka menantang kita melihat siapa yang merusak alam lebih dulu.

Dan pertanyaannya kini menggantung berapa banyak lagi yang harus hanyut sebelum kita berani mendengar dan bertindak? @dimas

Tags: Aek GarogaBanjir Bandang SumateraBatang ToruBencana HidrometeorologiKayu GelondonganKerusakan HutanPembalakan LiarTapanuli Selatan
Next Post
Pembekuan atau Perbaikan? Drama Bea Cukai Berlanjut

Pembekuan atau Perbaikan? Drama Bea Cukai Berlanjut

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Rp6 Juta Sehari dari Dapur Gizi: Program Sosial atau Ladang Cuan?

    Joget Rp6 Juta Sehari: Program Sosial atau Ladang Cuan?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Becak yang Tak Pernah Pulang: Saat Kota Membiarkan Warganya Tidur di Jalan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Healing ke Bali, Pulangnya Butuh Healing Lagi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Air Keras dan Jejak yang Sengaja Dikaburkan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • WFH: Kantor Tutup Sehari, Dompet Rakyat Ikut Sepi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.