Tabooo.id: Deep – Hujan baru berhenti ketika seorang ibu berdiri di tengah lumpur yang masih hangat, menggenggam pakaian basah yang tak lagi bisa diselamatkan. “Air itu datang seperti mengaum,” ujarnya lirih, seolah gema itu masih berputar di telinganya. Pandangannya menembus bukit yang dulu hijau, kini berubah kecokelatan. “Seperti marah. Atau mungkin balas dendam.”
Warga di sekelilingnya sibuk mengais apa pun yang bisa diselamatkan: nama, wajah, barang kecil, kenangan. Di jalanan, gelondongan kayu yang seharusnya tetap berada di hutan menumpuk menjadi bukti nyata bahwa kerusakan sudah terjadi jauh sebelum air bah datang.
Pengakuan Pemerintah yang Datang Terlambat
Di Jakarta, nada pejabat berubah lebih serius. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa kerusakan lingkungan memperburuk banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Bencana ini bukan sekadar akibat cuaca ekstrem ada jejak manusia di baliknya, proses panjang yang membuat alam kehilangan kesabaran.
Satgas Penertiban Kawasan Hutan segera menelusuri asal gelondongan kayu yang hanyut. Menko PMK Pratikno menyampaikan bahwa Presiden menginstruksikan penanganan nasional, sementara Kapolri Listyo Sigit Prabowo menyiapkan pertemuan dengan Menteri Kehutanan untuk mendalami dugaan pembalakan liar.
Pengakuan itu baru muncul setelah 3.600 rumah hancur, 753 nyawa hilang, 650 orang dinyatakan hilang, dan lebih dari 3,3 juta jiwa terdampak. Saat gelondongan memenuhi sungai, masyarakat menyadari sesuatu: hutan tidak tumbang dalam sehari. Pembalakan liar tidak muncul mendadak. Kerusakan terjadi perlahan, bertahun-tahun, lalu meledak dalam satu malam bencana.
Di Lapangan, Warga Menanggung Luka Paling Dalam
Di Desa Aek Garoga, Tapanuli Selatan, pemandangan seperti halaman buku yang diremas paksa. Rido, seorang pemuda desa, menatap batang-batang kayu raksasa yang menutup jalan kampung.
“Kami tidak punya alat,” ujarnya. “Memindahkan ini rasanya seperti memindahkan sisa tubuh hutan.”
Beberapa kayu terlihat ditebang rapi, sisanya patah dan tersangkut di bebatuan. Rido kehilangan pamannya dalam arus deras; tiga hari berlalu, tubuhnya belum ditemukan.
Di Pidie, Ina seorang guru memeluk kotak plastik berisi lembar kerja murid-muridnya. “Aku simpan ini supaya aku tidak lupa wajah mereka,” katanya. Murid-muridnya suka menggambar pohon besar, rindang, hijau tua. Kini, ia takut suatu hari mereka bertanya kenapa pohon itu hilang.
Relawan di Aceh menangis menceritakan pengalaman membungkus jenazah anak-anak. “Baju mereka selalu longgar,” ujarnya, “seolah tubuhnya belum siap kembali.” Sementara di Sumatera Barat, seorang kakek menolak naik ambulans meski kakinya terluka parah. Ia duduk di bangku kayu sambil berkata, “Rumahku hilang. Tapi hutan hilang duluan. Jangan minta aku diam.”
Kesedihan warga bukan sekadar soal kehilangan keluarga, tetapi juga hilangnya rasa aman yang dulu diberikan alam.
Sistem yang Bergerak Setelah Bencana Terjadi
Sebenarnya, bencana ini memberi tanda sejak lama. Sungai makin dangkal. Tumpukan kayu misterius muncul setiap hujan besar. Izin pengelolaan lahan keluar tanpa pertanyaan serius, sementara hutan menyusut tanpa suara peringatan cukup keras.
Namun sistem baru bergerak setelah bencana:
- Banjir meluap, rapat digelar.
- Ribuan korban terdampak, peringatan dibuat.
- Jejak kerusakan terbawa arus, akar masalah mulai ditelusuri.
Dalam urusan ekonomi, sistem bekerja cepat surat izin diproses, lahan dibuka, investasi dikawal. Tetapi ketika hutan rapuh dan akar tak mampu menahan tanah, peringatan tenggelam dalam angka pertumbuhan.
Pembalakan liar bukan hanya tindakan kriminal. Aktivitas legal sering bersinggungan dengan yang ilegal. Aparat lokal ada yang tahu namun tak berdaya, dan perusahaan menyebut pembukaan lahannya “terkendali,” sementara luka besar tertinggal di bukit dan aliran air.
Maka pertanyaannya bukan sekadar dari mana gelondongan itu berasal? Yang penting siapa saja yang membiarkan kerusakan berlangsung selama ini? Warga di hilir tetap menjadi yang paling terdampak, tinggal di tepi sungai, lereng bukit, dan lembah selalu menjadi yang pertama kehilangan rumah dan terakhir menerima bantuan.
Pesan yang Tertinggal di Balik Lumpur
Seorang relawan muda memungut selembar kertas kumal di antara puing halaman buku IPA kelas lima, gambar akar pohon yang menjaga tanah. Ia menatap kertas itu lama sebelum berbisik, “Anak-anak kita sebenarnya sudah tahu cara menjaga bumi. Kita yang lupa.”
Malam tiba tanpa bintang. Masjid setengah roboh tetap mengumandangkan azan suaranya pecah namun tegar. Warga berhenti sejenak, menunduk, membiarkan air mata jatuh. Mereka ketakutan, namun juga sadar kerusakan ini tidak bisa lagi disembunyikan oleh pernyataan resmi atau janji penegakan hukum.
Banjir bukan hanya tentang air. Longsor bukan sekadar tanah. Cuaca ekstrem bukan satu-satunya alasan. Ini tentang apa yang kita ambil dari bumi tanpa mengembalikannya. Tentang hutan yang berteriak lebih keras dari sebelumnya. Tentang keserakahan yang dibungkus rapi sebagai pembangunan.
Gelondongan itu tidak hanya membawa lumpur. Mereka membawa pesan. Mereka menantang kita melihat siapa yang merusak alam lebih dulu.
Dan pertanyaannya kini menggantung berapa banyak lagi yang harus hanyut sebelum kita berani mendengar dan bertindak? @dimas




