Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Hutan Hilang, Nyawa Melayang: Bencana yang Sudah Diramalkan

by dimas
Desember 3, 2025
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Hujan baru berhenti ketika seorang ibu berdiri di tengah lumpur yang masih hangat, menggenggam pakaian basah yang tak lagi bisa diselamatkan. “Air itu datang seperti mengaum,” ujarnya lirih, seolah gema itu masih berputar di telinganya. Pandangannya menembus bukit yang dulu hijau, kini berubah kecokelatan. “Seperti marah. Atau mungkin balas dendam.”

Warga di sekelilingnya sibuk mengais apa pun yang bisa diselamatkan: nama, wajah, barang kecil, kenangan. Di jalanan, gelondongan kayu yang seharusnya tetap berada di hutan menumpuk menjadi bukti nyata bahwa kerusakan sudah terjadi jauh sebelum air bah datang.

Pengakuan Pemerintah yang Datang Terlambat

Di Jakarta, nada pejabat berubah lebih serius. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa kerusakan lingkungan memperburuk banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Bencana ini bukan sekadar akibat cuaca ekstrem ada jejak manusia di baliknya, proses panjang yang membuat alam kehilangan kesabaran.

Satgas Penertiban Kawasan Hutan segera menelusuri asal gelondongan kayu yang hanyut. Menko PMK Pratikno menyampaikan bahwa Presiden menginstruksikan penanganan nasional, sementara Kapolri Listyo Sigit Prabowo menyiapkan pertemuan dengan Menteri Kehutanan untuk mendalami dugaan pembalakan liar.

Pengakuan itu baru muncul setelah 3.600 rumah hancur, 753 nyawa hilang, 650 orang dinyatakan hilang, dan lebih dari 3,3 juta jiwa terdampak. Saat gelondongan memenuhi sungai, masyarakat menyadari sesuatu: hutan tidak tumbang dalam sehari. Pembalakan liar tidak muncul mendadak. Kerusakan terjadi perlahan, bertahun-tahun, lalu meledak dalam satu malam bencana.

Ini Belum Selesai

Anak Muda Melawan Juri: Mengapa Pendidikan Kita Masih Sulit Menerima Kritik?

Reformasi 1998: Luka yang Masih Menunggu Keadilan

Di Lapangan, Warga Menanggung Luka Paling Dalam

Di Desa Aek Garoga, Tapanuli Selatan, pemandangan seperti halaman buku yang diremas paksa. Rido, seorang pemuda desa, menatap batang-batang kayu raksasa yang menutup jalan kampung.

“Kami tidak punya alat,” ujarnya. “Memindahkan ini rasanya seperti memindahkan sisa tubuh hutan.”

Beberapa kayu terlihat ditebang rapi, sisanya patah dan tersangkut di bebatuan. Rido kehilangan pamannya dalam arus deras; tiga hari berlalu, tubuhnya belum ditemukan.

Di Pidie, Ina seorang guru memeluk kotak plastik berisi lembar kerja murid-muridnya. “Aku simpan ini supaya aku tidak lupa wajah mereka,” katanya. Murid-muridnya suka menggambar pohon besar, rindang, hijau tua. Kini, ia takut suatu hari mereka bertanya kenapa pohon itu hilang.

Relawan di Aceh menangis menceritakan pengalaman membungkus jenazah anak-anak. “Baju mereka selalu longgar,” ujarnya, “seolah tubuhnya belum siap kembali.” Sementara di Sumatera Barat, seorang kakek menolak naik ambulans meski kakinya terluka parah. Ia duduk di bangku kayu sambil berkata, “Rumahku hilang. Tapi hutan hilang duluan. Jangan minta aku diam.”

Kesedihan warga bukan sekadar soal kehilangan keluarga, tetapi juga hilangnya rasa aman yang dulu diberikan alam.

Sistem yang Bergerak Setelah Bencana Terjadi

Sebenarnya, bencana ini memberi tanda sejak lama. Sungai makin dangkal. Tumpukan kayu misterius muncul setiap hujan besar. Izin pengelolaan lahan keluar tanpa pertanyaan serius, sementara hutan menyusut tanpa suara peringatan cukup keras.

Namun sistem baru bergerak setelah bencana:

  1. Banjir meluap, rapat digelar.
  2. Ribuan korban terdampak, peringatan dibuat.
  3. Jejak kerusakan terbawa arus, akar masalah mulai ditelusuri.

Dalam urusan ekonomi, sistem bekerja cepat surat izin diproses, lahan dibuka, investasi dikawal. Tetapi ketika hutan rapuh dan akar tak mampu menahan tanah, peringatan tenggelam dalam angka pertumbuhan.

Pembalakan liar bukan hanya tindakan kriminal. Aktivitas legal sering bersinggungan dengan yang ilegal. Aparat lokal ada yang tahu namun tak berdaya, dan perusahaan menyebut pembukaan lahannya “terkendali,” sementara luka besar tertinggal di bukit dan aliran air.

Maka pertanyaannya bukan sekadar dari mana gelondongan itu berasal? Yang penting siapa saja yang membiarkan kerusakan berlangsung selama ini? Warga di hilir tetap menjadi yang paling terdampak, tinggal di tepi sungai, lereng bukit, dan lembah selalu menjadi yang pertama kehilangan rumah dan terakhir menerima bantuan.

Pesan yang Tertinggal di Balik Lumpur

Seorang relawan muda memungut selembar kertas kumal di antara puing halaman buku IPA kelas lima, gambar akar pohon yang menjaga tanah. Ia menatap kertas itu lama sebelum berbisik, “Anak-anak kita sebenarnya sudah tahu cara menjaga bumi. Kita yang lupa.”

Malam tiba tanpa bintang. Masjid setengah roboh tetap mengumandangkan azan suaranya pecah namun tegar. Warga berhenti sejenak, menunduk, membiarkan air mata jatuh. Mereka ketakutan, namun juga sadar kerusakan ini tidak bisa lagi disembunyikan oleh pernyataan resmi atau janji penegakan hukum.

Banjir bukan hanya tentang air. Longsor bukan sekadar tanah. Cuaca ekstrem bukan satu-satunya alasan. Ini tentang apa yang kita ambil dari bumi tanpa mengembalikannya. Tentang hutan yang berteriak lebih keras dari sebelumnya. Tentang keserakahan yang dibungkus rapi sebagai pembangunan.

Gelondongan itu tidak hanya membawa lumpur. Mereka membawa pesan. Mereka menantang kita melihat siapa yang merusak alam lebih dulu.

Dan pertanyaannya kini menggantung berapa banyak lagi yang harus hanyut sebelum kita berani mendengar dan bertindak? @dimas

Kamu Melewatkan Ini

Anak Muda Melawan Juri: Mengapa Pendidikan Kita Masih Sulit Menerima Kritik?

Anak Muda Melawan Juri: Mengapa Pendidikan Kita Masih Sulit Menerima Kritik?

by teguh
Mei 14, 2026

Di sebuah ruang lomba yang semestinya merayakan pengetahuan, suara keberatan seorang siswa justru memecah suasana. dan langsung menggambarkan bahwa Pendidikan...

VOC Runtuh karena Korupsi, Kenapa Indonesia Mengulang Pola yang Sama?

VOC Runtuh karena Korupsi, Kenapa Indonesia Mengulang Pola yang Sama?

by dimas
Mei 13, 2026

VOC runtuh karena korupsi besar, penggelapan uang, dan permainan elite kekuasaan. Dua abad berlalu, Indonesia masih menghadapi pola lama jabatan...

Kenapa Kucumbu Tubuh Indahku Membuat Banyak Orang Tidak Nyaman?

Kenapa Kucumbu Tubuh Indahku Membuat Banyak Orang Tidak Nyaman?

by eko
Mei 13, 2026

Kucumbu Tubuh Indahku bukan sekadar film yang memancing kontroversi. Film karya Garin Nugroho itu berubah menjadi simbol benturan besar antara...

Next Post
Pembekuan atau Perbaikan? Drama Bea Cukai Berlanjut

Pembekuan atau Perbaikan? Drama Bea Cukai Berlanjut

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id