Tabooo.id: Entertainment – Pernah merasa bioskop penuh, tapi judul filmnya itu-itu saja? Atau kamu masuk studio dengan niat “nonton santai”, tapi keluar sambil mikir, kok Avatar lagi, Avatar lagi? Jawabannya sederhana James Cameron masih belum mau turun takhta.
Di tengah serbuan film baru, Avatar Fire and Ash tetap duduk manis di puncak box office Amerika Utara. Film ketiga dari semesta Pandora ini kembali membuktikan satu hal penonton belum capek, studio belum panik, dan dompet global masih terbuka lebar.
Angka yang Bicara Lebih Keras dari Kritik
Menurut laporan Variety pada Minggu (28/12/2025), Avatar Fire and Ash menambah US$64 juta hanya dalam satu akhir pekan. Totalnya kini tembus US$217,7 juta di Amerika Utara dan US$542,7 juta dari pasar internasional.
Kalau dijumlah, film ini sudah mengantongi US$760 juta secara global hanya dalam dua akhir pekan. Angka itu bukan sekadar sukses. Itu pernyataan dominasi.
Sejarah juga berpihak pada Cameron. Dua film Avatar sebelumnya bertahan di posisi nomor satu selama tujuh akhir pekan berturut-turut. Dengan tren seperti ini, Fire and Ash berpeluang mengunci puncak box office sampai Tahun Baru.
Dan jangan lupa rekor lama:
- Avatar (2009) butuh 47 hari untuk tembus US$2 miliar
- The Way of Water mencapainya dalam enam minggu lebih sedikit
Cameron tidak mengejar waktu. Dia mengejar keabadian box office.
Film Lain Datang, Avatar Tetap Bertahan
Di bawah Avatar, persaingan tetap panas—meski bayang-bayang Pandora terasa panjang.
- Zootopia 2 bertahan di posisi kedua dengan US$20 juta
- Marty Supreme debut di posisi ketiga dengan US$17,4 juta dari 2.600 bioskop
- The Housemaid, thriller psikologis dengan Sydney Sweeney dan Amanda Seyfried, mengumpulkan US$15,4 juta akhir pekan ini
Total pendapatannya kini mencapai US$46,6 juta domestik dan US$64,9 juta global - Anaconda versi baru menutup lima besar dengan US$14,6 juta, meski pendapatan itu belum menutup biaya produksi US$45 juta
Hollywood bergerak. Tapi Avatar tetap memimpin.
Kenapa Kita Masih Balik ke Pandora?
Jawabannya bukan cuma visual canggih atau dunia biru yang estetik Instagramable.
Avatar menawarkan pelarian yang terasa “niat”. Saat dunia nyata penuh krisis iklim, konflik politik, dan burnout kolektif, Cameron menyodorkan alam yang rusak lalu mengajak kita ikut peduli.
Ironisnya, film tentang eksploitasi alam justru jadi mesin uang terbesar industri hiburan.
Di sinilah ironi bekerja. Kita mengkritik kapitalisme sambil membeli tiketnya. Kita bicara lingkungan sambil menikmati efek visual paling mahal di dunia.
Tapi mungkin itu juga kekuatannya. Avatar tidak menggurui. Film ini menggoda, lalu menyusupkan pesan. Penonton datang untuk hiburan, pulang dengan sedikit rasa bersalah atau setidaknya kesadaran.
Avatar, Franchise, dan Kebiasaan Kita Menonton
Kesuksesan Fire and Ash juga membuka cermin kebiasaan baru penonton. Di era streaming serba cepat, bioskop butuh tontonan yang terasa “acara besar”. Avatar menjual pengalaman, bukan sekadar cerita.
Dan jujur saja, kita masih suka duduk dua jam lebih untuk sesuatu yang terasa epik.
Jadi, Apa Dampaknya Buat Kamu?
Mungkin kamu belum nonton Avatar 3. Mungkin kamu bilang, “Nanti aja kalau streaming.”
Tapi faktanya, film ini tetap menang tanpa kamu.
Pertanyaannya sekarang kita yang terlalu gampang terpikat visual besar, atau Cameron yang terlalu paham cara membaca kita?
Silakan jawab sambil nunggu Pandora berikutnya datang lagi ke bioskop. @teguh



