Tabooo.id: Check – Linimasa Facebook mendadak riuh. Sebuah unggahan mengklaim sejumlah alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menempuh jalur hukum. Mereka, menurut narasi itu, melaporkan Presiden ke-7 RI Joko Widodo dan Rektor UGM Prof. dr. Ova Emilia ke Polda DIY.
Unggahan tersebut memakai bahasa besar: “marwah institusi”, “integritas akademik”, hingga polemik istilah “Teknologi Kayu”. Bahkan, penulisnya menekankan bahwa sebagian alumni merasa reputasi kampus tercoreng. Karena itu, mereka disebut memilih jalur hukum.
Sekilas, ceritanya terdengar serius. Namun, apakah klaim ini benar?
Fakta di Lapangan: Tidak Ada Laporan
Pertama, tidak ada keterangan resmi dari kepolisian tentang laporan tersebut. Kedua, Anies tidak pernah menyampaikan pernyataan publik soal pelaporan terhadap Jokowi maupun rektor UGM. Selain itu, media arus utama juga tidak memuat berita tentang laporan yang diklaim viral tersebut.
Sebaliknya, penelusuran justru mengarah pada arsip lama dari Antara tahun 2015. Saat itu, Anies masih menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Ia berbicara secara umum mengenai pengguna ijazah palsu. Akan tetapi, ia tidak menyebut Jokowi, tidak menyinggung UGM, dan tidak membahas polemik yang kini beredar.
Dengan kata lain, unggahan tersebut mencampur isu lama dengan narasi baru. Akibatnya, publik mudah terkecoh.
Kenapa Narasi Ini Mudah Dipercaya?
Pertama, unggahan itu membawa nama besar. Kedua, isu yang diangkat menyentuh dunia pendidikan dan politik sekaligus. Selain itu, istilah “Teknologi Kayu” terdengar spesifik sehingga memberi kesan seolah-olah berbasis data.
Padahal, kampus sering mengubah atau menyesuaikan nama jurusan sesuai perkembangan kebijakan akademik. Jadi, perbedaan istilah tidak otomatis berarti ada manipulasi.
Namun di media sosial, emosi sering berjalan lebih cepat daripada verifikasi. Orang membaca judul yang dramatis, lalu langsung membagikannya. Sementara itu, proses cek fakta justru tertinggal.
Jika benar ada laporan hukum yang melibatkan tokoh nasional dan kampus sebesar UGM, media nasional tentu akan ramai memberitakannya. Faktanya, pemberitaan seperti itu tidak ada. Karena itu, klaim tersebut tidak memiliki dasar yang kuat.
Jangan Jadi Korban Narasi Setengah Matang
Di era digital, setiap orang bisa menjadi penyebar informasi. Namun, tidak semua informasi layak disebarkan.
Karena itu, biasakan memeriksa sumber resmi. Selanjutnya, bandingkan dengan laporan media kredibel. Terakhir, tanyakan pada diri sendiri: masuk akal atau tidak?
Sebab sekali kita menekan tombol “share”, kita ikut bertanggung jawab atas dampaknya.
Sebelum share, cek dulu biar gak ikut dosa digital. @eko







