Hari Anak Nasional 2026 di Solo menunjukkan anak butuh ruang bermain, bersosialisasi, dan belajar, bukan sekadar seremoni.
Tabooo.id – Anak-anak tidak datang ke sebuah acara untuk memikirkan seremoni. Mereka datang untuk bermain, tertawa, mencoba hal baru, dan bertemu teman. Peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Taman Lingkar, Lokananta, Surakarta, memperlihatkan kebutuhan sederhana itu.
Pemerintah Kota Surakarta melalui DP3AP2KB menggelar peringatan Hari Anak Nasional 2026 dengan tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”.
Anak-anak mengikuti pertunjukan dan berbagai permainan. Panitia juga menyiapkan hadiah bagi peserta yang berhasil mengikuti tantangan.
Namun, cerita dari acara itu tidak berhenti pada siapa yang membawa pulang hadiah.
Anak Belajar dari Permainan
Gani, murid SD Al Islam 1 Surakarta, menjadi salah satu peserta kegiatan.
Ia mengaku senang mengikuti rangkaian acara. Baginya, pertunjukan dan permainan menjadi bagian paling menarik.
“Tadi di sana acaranya bagus. Pertama menonton pertunjukan, kedua lanjut games,” tutur Gani.
Gani juga mendapat hadiah setelah berhasil menebak lagu dengan benar.
Pengalaman itu membuatnya berharap kegiatan serupa kembali hadir tahun depan.
“Harapannya semoga tahun depan bisa lebih meriah lagi dan banyak hadiahnya,” ungkapnya.
Keinginan Gani terdengar sederhana. Namun, keinginan itu menunjukkan kebutuhan anak yang sering luput dari pembicaraan orang dewasa.
Anak membutuhkan pengalaman di luar rutinitas sekolah. Mereka juga membutuhkan ruang untuk bermain, mencoba, dan berinteraksi.
Bermain Bukan Sekadar Refreshing
Guru pendamping SD Al Islam 1 Surakarta, Agus, melihat kegiatan tersebut dari sudut yang lebih luas.
Menurutnya, kegiatan seperti ini membantu anak mengenal lingkungan sekaligus mendapat pengalaman baru.
“Kegiatan ini sangat baik untuk anak karena dapat menjadi pembelajaran sosialisasi dan menambah pengetahuan,” jelas Agus.
Interaksi tersebut juga mendukung proses tumbuh kembang anak.
Karena itu, Agus berharap Pemkot Surakarta terus menghadirkan kegiatan serupa.
“Harapannya semoga kegiatan ini dilanjutkan untuk menunjang daya tumbuh kembang anak,” ungkapnya.
Di sinilah makna Hari Anak Nasional terasa lebih luas.
Anak tidak hanya membutuhkan nilai bagus, prestasi, atau tambahan pelajaran. Mereka juga membutuhkan kesempatan untuk mengenal dunia melalui pengalaman langsung.
Realitasnya, Anak Juga Butuh Ruang Bermain
Rutinitas belajar, tugas sekolah, dan berbagai tuntutan sering membuat bermain terlihat seperti kegiatan tambahan.
Padahal, anak bisa belajar banyak hal melalui permainan.
Mereka belajar berkomunikasi, belajar mengikuti aturan, belajar menerima kemenangan dan kekalahan.
Mereka juga belajar berani tampil di depan orang lain.
Kegiatan di Lokananta memperlihatkan sisi tersebut.
Acara itu memang menghadirkan games dan hadiah. Namun, nilai terbesarnya justru muncul dari ruang interaksi yang tercipta.
Gani mungkin mengingat pertunjukan dan hadiah yang ia bawa pulang.
Agus melihat pengalaman itu sebagai proses sosialisasi dan pembelajaran.
Dua sudut pandang tersebut bertemu pada satu kebutuhan: anak membutuhkan ruang untuk tumbuh tanpa kehilangan kegembiraan.
Masa Depan Tidak Selalu Dimulai dari Ruang Kelas
Tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan” akhirnya punya makna yang lebih luas.
Membangun masa depan anak tidak selalu berarti menambah pelajaran atau mengejar prestasi.
Kadang, masa depan tumbuh dari pengalaman sederhana.
Dari permainan, pertemanan, keberanian menjawab sebuah lagu, kesempatan untuk tampil.
Dari ruang untuk berbicara dan didengar.
Ini bukan sekadar seremoni Hari Anak. Ini pengingat bahwa tumbuh kembang anak membutuhkan ruang yang nyata.
Anak bukan mesin prestasi.
Mereka manusia yang sedang belajar menjadi manusia.
Dan mungkin, itu realitas yang paling sering kita lupakan ketika terlalu sibuk merancang masa depan mereka.
Sebab sebelum meminta anak menjadi hebat, bukankah kita perlu memastikan mereka sempat menjadi anak-anak?@eko








