Senin, Agustus 24, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Hari Anak Nasional: Anak Butuh Ruang Tumbuh, Bukan Sekadar Seremoni

by eko
Agustus 10, 2026
in Culture
A A
Home Culture
Share on Facebook
Share on Twitter


Hari Anak Nasional 2026 di Solo menunjukkan anak butuh ruang bermain, bersosialisasi, dan belajar, bukan sekadar seremoni.

Tabooo.id – Anak-anak tidak datang ke sebuah acara untuk memikirkan seremoni. Mereka datang untuk bermain, tertawa, mencoba hal baru, dan bertemu teman. Peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Taman Lingkar, Lokananta, Surakarta, memperlihatkan kebutuhan sederhana itu.

Pemerintah Kota Surakarta melalui DP3AP2KB menggelar peringatan Hari Anak Nasional 2026 dengan tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”.

Anak-anak mengikuti pertunjukan dan berbagai permainan. Panitia juga menyiapkan hadiah bagi peserta yang berhasil mengikuti tantangan.

Namun, cerita dari acara itu tidak berhenti pada siapa yang membawa pulang hadiah.

Ini Belum Selesai

Nginang di Sekaten: Saat Sirih Menjaga Jejak Tradisi

Ritek Surakarta Kenalkan Jaranan Sentherewe di Pakuwon Mall Solo

Anak Belajar dari Permainan

Gani, murid SD Al Islam 1 Surakarta, menjadi salah satu peserta kegiatan.

Ia mengaku senang mengikuti rangkaian acara. Baginya, pertunjukan dan permainan menjadi bagian paling menarik.

“Tadi di sana acaranya bagus. Pertama menonton pertunjukan, kedua lanjut games,” tutur Gani.

Gani juga mendapat hadiah setelah berhasil menebak lagu dengan benar.

Pengalaman itu membuatnya berharap kegiatan serupa kembali hadir tahun depan.

“Harapannya semoga tahun depan bisa lebih meriah lagi dan banyak hadiahnya,” ungkapnya.

Keinginan Gani terdengar sederhana. Namun, keinginan itu menunjukkan kebutuhan anak yang sering luput dari pembicaraan orang dewasa.

Anak membutuhkan pengalaman di luar rutinitas sekolah. Mereka juga membutuhkan ruang untuk bermain, mencoba, dan berinteraksi.

Bermain Bukan Sekadar Refreshing

Guru pendamping SD Al Islam 1 Surakarta, Agus, melihat kegiatan tersebut dari sudut yang lebih luas.

Menurutnya, kegiatan seperti ini membantu anak mengenal lingkungan sekaligus mendapat pengalaman baru.

“Kegiatan ini sangat baik untuk anak karena dapat menjadi pembelajaran sosialisasi dan menambah pengetahuan,” jelas Agus.

Interaksi tersebut juga mendukung proses tumbuh kembang anak.

Karena itu, Agus berharap Pemkot Surakarta terus menghadirkan kegiatan serupa.

“Harapannya semoga kegiatan ini dilanjutkan untuk menunjang daya tumbuh kembang anak,” ungkapnya.

Di sinilah makna Hari Anak Nasional terasa lebih luas.

Anak tidak hanya membutuhkan nilai bagus, prestasi, atau tambahan pelajaran. Mereka juga membutuhkan kesempatan untuk mengenal dunia melalui pengalaman langsung.

Realitasnya, Anak Juga Butuh Ruang Bermain

Rutinitas belajar, tugas sekolah, dan berbagai tuntutan sering membuat bermain terlihat seperti kegiatan tambahan.

Padahal, anak bisa belajar banyak hal melalui permainan.

Mereka belajar berkomunikasi, belajar mengikuti aturan, belajar menerima kemenangan dan kekalahan.

Mereka juga belajar berani tampil di depan orang lain.

Kegiatan di Lokananta memperlihatkan sisi tersebut.

Acara itu memang menghadirkan games dan hadiah. Namun, nilai terbesarnya justru muncul dari ruang interaksi yang tercipta.

Gani mungkin mengingat pertunjukan dan hadiah yang ia bawa pulang.

Agus melihat pengalaman itu sebagai proses sosialisasi dan pembelajaran.

Dua sudut pandang tersebut bertemu pada satu kebutuhan: anak membutuhkan ruang untuk tumbuh tanpa kehilangan kegembiraan.

Masa Depan Tidak Selalu Dimulai dari Ruang Kelas

Tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan” akhirnya punya makna yang lebih luas.

Membangun masa depan anak tidak selalu berarti menambah pelajaran atau mengejar prestasi.

Kadang, masa depan tumbuh dari pengalaman sederhana.

Dari permainan, pertemanan, keberanian menjawab sebuah lagu, kesempatan untuk tampil.

Dari ruang untuk berbicara dan didengar.

Ini bukan sekadar seremoni Hari Anak. Ini pengingat bahwa tumbuh kembang anak membutuhkan ruang yang nyata.

Anak bukan mesin prestasi.

Mereka manusia yang sedang belajar menjadi manusia.

Dan mungkin, itu realitas yang paling sering kita lupakan ketika terlalu sibuk merancang masa depan mereka.

Sebab sebelum meminta anak menjadi hebat, bukankah kita perlu memastikan mereka sempat menjadi anak-anak?@eko

Tags: Hari Anak Nasional 2026respati ardiSekolah DasarSolo

Kamu Melewatkan Ini

Bukan Cuma Soal Motor, Ketika Komunitas Jadi Tempat Mencari Arah

Bukan Cuma Soal Motor, Ketika Komunitas Jadi Tempat Mencari Arah

by eko
Agustus 23, 2026

Bukan cuma soal motor, Bikers Iqro Solo Raya menjadikan komunitas sebagai ruang belajar Al-Qur'an, membangun persaudaraan, dan mencari arah hidup...

BBMC Central Java Genap 26 Tahun, Bikers Se-Indonesia Berkumpul di Solo

BBMC Central Java Genap 26 Tahun, Bikers Se-Indonesia Berkumpul di Solo

by eko
Agustus 23, 2026

BBMC Central Java rayakan 26 tahun di Taman Sriwedari Solo bersama 500 bikers dari berbagai daerah dan kegiatan sosial untuk...

Nyai Setomi Tak Lagi Bertempur, Tapi Sejarahnya Masih Hidup

Nyai Setomi Tak Lagi Bertempur, Tapi Sejarahnya Masih Hidup

by eko
Agustus 23, 2026

Nyai Setomi tak lagi berfungsi sebagai meriam perang. Jamasan di Kraton Solo menunjukkan perubahan maknanya menjadi pusaka dan penjaga ingatan...

Next Post
Hari Anak Nasional di Solo: Anak Butuh Ayah, Bukan Sekadar Acara

Hari Anak Nasional di Solo: Anak Butuh Ayah, Bukan Sekadar Acara

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id