Tabooo.id – Ayam biasanya makan jagung. Namun, di Bundaran Gladak, Solo, Rabu (5/8/2026), ayam justru “memakan” sertifikat tanah dan BPKB.
Aksi itu bukan pertunjukan. Peternak memakai simbol tersebut untuk menunjukkan beratnya biaya beternak dalam enam bulan terakhir.
Peternak Mengaku Tertekan dari Dua Sisi
Ratusan peternak ayam dari berbagai daerah di Soloraya berkumpul di Bundaran Gladak. Mereka membawa baliho bertuliskan “Suara Rakyat Merdeka Lapor Pak Presiden Pakan Ternak.”
Mereka juga bergantian menyampaikan orasi. Selain itu, mereka membentangkan spanduk yang memuat enam tuntutan.
Tuntutan itu meliputi harga jagung, kebijakan impor, mahalnya bungkil kedelai dan meat and bone meal (MBM), dugaan monopoli bahan baku pakan, pembentukan Kementerian Peternakan, serta penunjukan Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas).
Sertifikat Tanah Jadi Simbol Biaya Produksi
Aksi paling menarik terjadi ketika peternak memberi makan ayam dengan rumput, sertifikat tanah, dan Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB).
Mereka memakai simbol itu untuk menggambarkan kondisi peternak rakyat saat ini.
Penanggung jawab aksi, Krishandrika Immanuel Raharjo, mengatakan banyak peternak sudah menjual aset demi mempertahankan usaha.
“Ketika ayam sudah tidak cukup diberi makan dengan pakan yang ada, akhirnya kami jual tanah dan jual mobil. Itu kenyataan yang terjadi hari ini,” katanya saat dihubungi via seluler.
Selain berdemo, peternak juga membagikan 50 ekor ayam dan 1.000 butir telur kepada masyarakat.
Harga Jagung Jauh di Atas Acuan Pemerintah
Krishandrika menjelaskan peternak menghadapi tekanan dari dua arah.
Harga telur tetap rendah. Sebaliknya, biaya produksi terus naik.
Menurutnya, harga jagung kini mencapai Rp6.800 hingga Rp7.000 per kilogram. Sementara itu, harga acuan pemerintah hanya Rp5.500 per kilogram.
Ia menilai pemerintah perlu mencari solusi agar harga pakan kembali turun.
“Kalau pemerintah ingin harga telur murah, biaya pakan juga harus murah. Kami siap mendukung kalau kebijakannya membantu peternak,” ujarnya.
Peternak Soroti Kebijakan Impor
Krishandrika juga mengkritik kebijakan impor bahan baku pakan.
Menurutnya, harga beberapa komponen pakan naik sekitar Rp2.000 per kilogram dalam enam bulan terakhir.
Kenaikan itu membuat keuntungan peternak semakin tipis.
Ia khawatir peternak kecil tidak mampu bertahan jika kondisi tersebut terus berlangsung.
“Kalau peternak kecil terus rugi, lama-lama mereka hilang. Yang bertahan hanya peternak besar,” katanya.
Reality Tabooo
Demo ini bukan sekadar tentang harga jagung.
Aksi memberi makan ayam dengan sertifikat tanah menunjukkan satu kenyataan. Banyak peternak mulai menjual aset agar kandang tetap beroperasi.
Ketika biaya produksi terus naik, peternak kecil menjadi pihak yang paling rentan.
Jika kondisi ini terus berlangsung, Indonesia bukan hanya menghadapi persoalan harga pakan. Indonesia juga berisiko kehilangan peternak rakyat yang selama ini menjaga pasokan pangan.
Itulah persoalan yang sebenarnya. Bukan hanya soal jagung yang mahal, tetapi soal siapa yang masih mampu bertahan di sektor peternakan.@eko







